Monday, October 10, 2005

Regenerasi (TNI) yang Tertunda

REPUBLIKA | Sabtu, 08 Oktober 2005

Regenerasi (TNI) yang Tertunda
Aris Santoso, Pengamat TNI

Penundaan pergantian Panglima TNI baru-baru ini tentu berdampak pada proses alih generasi di TNI. Alih generasi merupakan tradisi yang khas dalam TNI, yang tidak ditemui di birokrasi sipil atau institusi besar lain. Karena tradisi alih generasi itulah, TNI seolah tidak pernah kekurangan kader-kader terbaiknya, yang menjadikan mutasi dalam TNI selalu menarik untuk diamati, dengan munculnya wajah-wajah baru dan segar.

Dengan tertundanya pergantian Panglima TNI, sedikit banyak tentu mengganggu ''irama'' alih generasi. Namun bagaimana lagi, keputusan politik tersebut sudah terjadi, dan mustahil dibatalkan. Persoalannya sekarang, bagaimana agar TNI tidak terpaku dalam masalah penundaan tersebut. Dengan begitu, program penyiapan calon pemimpin di masa depan bisa terus berjalan. Salah satu gerbong besar yang siap menapaki lapisan elite TNI (khususnya matra darat), adalah perwira yang berasal dari generasi 1980-an.

Generasi 1980-an
Mulai tahun ini, hingga beberapa tahun ke depan, bisa jadi merupakan saat-saat yang penting bagi lulusan Akmil tahun 1980-an (Angkatan 1980, 1981 dan seterusnya). Karena di awal tahun ini, sudah ada alumninya yang dipromosikan menempati pos bintang satu (Brigjen), yakni Brigjen TNI Pramono Edi Wibowo (Wadanjen Kopassus, Akmil 1980). Berdasar perhitungan (kasar) selama ini, biasanya setelah 24 tahun lulus dari Akmil, akan ada alumninya yang muncul, sehubungan dengan dipromosikannya pada pos brigjen.

Seperti pengalaman Angkatan 1965 dulu, ketika Theo Syafei diangkat sebagai Pangdivif I Kostrad dengan pangkat Brigjen (1989). Atau Angkatan 1971, yang mulai banyak alumninya dipromosikan sebagai brigjen pada tahun 1995, seperti (pangkat saat itu) Brigjen TNI Ismed Yuzairi (Pangdivif 1 Kostrad), Brigjen TNI Djamari Chaniago (Pangdivif 2 Kostrad), Brigjen TNI T Rizal Nurdin (Komandan Secapa), dan beberapa rekan seangkatannya. Ada sekitar sepuluh kolonel saat itu, gelombang pertama dari Angkatan 1971 yang dipromosikan sebagai pati.

Kemunculan Brigjen TNI Pramono merupakan sinyal, bahwa gerbong generasi 1980-an sudah mulai bergerak. Tentu dalam satu tahun ke depan, akan muncul beberapa kolonel dari generasi ini yang segera menyusul Brigjen Pramono. Sekadar perbandingan, perkembangan di Polri lebih cepat lagi. Di jajaran Polri sudah muncul seorang pati dari Angkatan 1983, yaitu Brigjen Pol Budi Gunawan (salah satu direktur bidang personalia Mabes Polri).

Apa yang menarik dari generasi ini? Generasi ini mejadi unik sehubungan dengan turbulensi politik dahsyat tahun 1998-1999 lalu. Generasi ini menjadi saksi langsung, sebuah momentum yang kemudian dikenal sebagai masa peralihan dari orde baru ke era reformasi. Pada saat reformasi berlangsung, terutama di masa awal, generasi ini masih menjadi komandan satuan di lapangan, setingkat Dandim atau Danyon.

Itulah yang menjadikan komunitas ini khas, generasi yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Mereka memperoleh apa yang disebut sebagai pengalaman spiritual, berkat belajar langsung di lapangan, menyaksikan langsung bagaimana mesin transisi itu berjalan. Sebuah pengalaman yang tidak akan mereka peroleh di bangku pendidikan, atau di medan operasi mana pun.

Perwira-perwira dari generasi ini, yang terlibat langsung dalam ''pengamanan'' masa awal reformasi, beberapa bisa disebutkan, seperti Kol Inf Moeldoko (kini Direktur Pembinaan Kesenjataan Pussenif AD, Akmil 1981), Kol Kav Agus Suharto (kini pejabat di Kodam Jaya, Akmil 1983), Kol Inf Meris Wiryadi (Ajudan Wapres, Akmil 1983) dan Kol Inf Hieronimus Guru ( Komandan Brigif Linud 17/Kujang I, Akmil 1984).

Nama-nama tersebut menjadi komandan lapangan di Jakarta, yang memang menjadi pusat dari gerakan reformasi kala itu. Masing-masing menjabat selaku Dandim Jakarta Pusat (Letkol Inf Moeldoko), Komandan Yonkav 7/Panser Khusus Kodam Jaya (Letkol Kav Agus Suharto), Komandan Yonif 201/Jaya Yuda (Letkol Inf Meris Wiryadi), dan Komandan Yonif Linud 328/Kujang II Kostrad (Letkol Inf Hieronimus Guru).

Pengalaman mengawal langsung perubahan besar di negeri ini, kiranya bisa dijadikan referensi bila suatu saat mereka telah menjadi penentu kebijakan, baik di lingkungan TNI maupun masyarakat umum. Konkretnya kira-kira seperti ini, bahwa dalam menentukan sebuah kebijakan, TNI tidak dapat lagi bertumpu pada kekuasaan semata, namun juga harus mempertimbangkan aspirasi yang berkembang di masyarakat.

Misteri kolonel
Pada saat ini sudah banyak generasi 1980-an --khususnya Angkatan 1980 sampai 1984-- yang menyandang pangkat kolonel. Mereka masih perlu bersabar untuk menunggu giliran dipromosikan. Sembari menunggu saat promosi nanti, ada baiknya mereka tetap menjaga performanya. Kalau kinerja mereka selalu prima, niscaya promosi yang dinanti-nantikan itu akan tiba juga.

Dalam strata kepangkatan militer, bisa jadi pangkat kolonel adalah pangkat yang paling kompleks. Karena tingkatan ini merupakan gerbang terakhir menuju strata pati. Hanya ada dua pilihan: bisa lolos ke jenjang pati atau tetap kolonel hingga pensiun tiba.

Persoalannya tidak semua kolonel akan memasuki jenjang pati. Persentasenya sangatlah kecil. Dari sekian banyak kolonel, yang bisa menembus jajaran pati umumnya hanya beberapa orang. Masa penantian yang panjang atau di tengah ketidakpastian menjadi pati, memberi beban psikologis tersendiri bagi penyandang pangkat tersebut.

Di kalangan perwira TNI ada metafora, bahwa untuk meraih pangkat bintang, jalan yang ditempuh sangat terjal, bila perlu dengan 'berdarah-darah'. Menembus jajaran pati ibarat lolos dari lubang jarum. Begitulah kenyataan bila seseorang telah memilih sebuah profesi atau karir, tentu ia akan berusaha agar sukses pada bidang yang menjadi pilihannya. Dalam profesi militer, salah satu ukuran suksesnya adalah bila telah mencapai jenjang pati.

Beban psikologis seperti itulah yang terkadang berpengaruh pada perilaku dan kinerja yang bersangkutan, terutama bagi yang kurang berjiwa besar (legowo). Tak heran bila kita sering mendengar, ada seorang kolonel yang tiba-tiba bertindak aneh, yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan statusnya sebagai seorang perwira, seperti yang terjadi di Surabaya baru-baru ini. Bahkan ada yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis, seperti Kol Kav Iman Basuki di Bandung tahun lalu.

Bagi yang tidak tahan, beban psikologis itu akan terus membayangi mereka, hingga saat memasuki jenjang purnawira. Semisal soal bagaimana ''protokoler'' yang pas bagi yang bersangkutan. Hendak dihormati layaknya seorang jenderal, ternyata masih belum masuk jajaran pati. Kalau perlakuan kurang pas, ada kekhawatiran yang bersangkutan nanti bisa salah paham, karena merasa sudah ''hampir'' jenderal. Jadi memang serba salah.

Mungkin akan lebih baik bagi seorang kolonel bila telah ada kepastian sejak jauh-jauh hari: bisa meraih pangkat jenderal atau tidak. Seperti yang pernah dialami Kol Inf Purn Hadi Utomo (kini Ketua Umum Partai Demokrat, Akmil 1970), saat masih aktif dulu. Secara kebetulan beliau bisa memperkirakan, bahwa pangkatnya memang hanya sampai di situ. Kepastian seperti itu membuat langkahnya bisa lebih ringan, termasuk ringan pula ketika ia dikaryakan sebagai Kepala Dinas Tramtib DKI.

Justru di sinilah uniknya, sebab tidak ada kepastian soal itu. Karir perwira adalah misteri, lebih-lebih bagi yang berpangkat kolonel. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Ada kalanya seorang kolonel yang kita kira akan lancar karirnya, karena demikian seringnya dikirim ke medan operasi, hanya karena kurang beruntung, tetap saja kolonel hingga pensiun.

Untuk sekadar mencari-cari ukuran, sebenarnya sudah ada ukuran yang bisa dijadikan pijakan untuk memprediksi seorang kolonel bisa menembus pati atau tidak, seperti pengalaman Kolonel Hadi Utomo di atas. Salah satunya adalah partisipasinya dalam jenjang pendidikan Seskoad.[]

-------oooOooo-------

No comments: