Saturday, October 08, 2005

Kekerasan Atas Nama Fatwa

Tulisan ini bagus sekali. Semestinya beginilah dampak fatwa tentang
MUI itu ditulis.

Selamat membaca sambil berbuka,
Luthfi
------



Kekerasan Atas Nama Fatwa
Oleh M. Guntur Romli

Kolom | 06/10/2005

Koran Tempo, Jum'at, 23 September 2005 Rubrik Opini

Kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah Indonesia kembali terjadi.
Sekitar seribu orang menyerbu perkampungan Ahmadiyah di Neglasari,
Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat, Senin (19/9)
malam hingga Selasa (20/9) dini hari (Koran Tempo, 21/9). Seperti
diketahui, ajaran Ahmadiyah divonis sesat oleh Majelis Ulama
Indonesia. Saya tidak ingin menghubungkan fatwa MUI dengan tindakan
kriminal itu. Apalagi, dalam rapat dengar pendapat umum antara Komisi
VIII DPR, yang antara lain membidangi masalah keagamaan, dan MUI
(31/8), Ketua Komisi Fatwa MUI KH Ma'ruf Amien menafikan keterkaitan
antara fatwa MUI dan aksi-aksi kekerasan (Jawa Pos, 1/9). Pernyataan
senada disampaikan oleh Ma'ruf Amien berkali-kali dalam pelbagai
kesempatan. Dalam pertemuan itu juga, anggota Komisi VIII, Agung
Sasongko, meminta MUI "mengeluarkan fatwa baru mengenai larangan
menyelesaikan perbedaan pendapat lewat tindak anarkis dan kekerasan".

Meskipun demikian, nasib malang Jemaah Ahmadiyah itu mengajak kita
kembali untuk bersikap kritis terhadap fatwa ataupun pendapat yang
bisa memancing emosi masa. Tentu saja, dalam materi fatwa MUI, tidak
ada klausul untuk menyerang dan melakukan tindakan kekerasan terhadap
kelompok atau aliran yang dianggap "sesat" dan "diharamkan". Namun,
sepanjang sejarah umat Islam, fatwa bermodel seperti itulah yang
paling efektif menggerakkan nalar dan emosi manusia untuk melakukan
tindakan kekerasan dan main hakim sendiri.

Dalam konteks umat Islam yang masih dibelenggu doktrin fikih klasik,
kelompok atau individu yang sudah divonis "murtad", "kafir",
atau "sesat" berarti telah dihalalkan untuk dibunuh! Secara sewenang-
wenang, mereka menggunakan sebaris hadis, "man baddala dînahu
faqtulûhu" ("barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah
ia"). "Mengganti agama" dimaknai murtad, kafir, atau sesat. Fatwa
tersebut seperti vonis dalam pengadilan in absentia, tanpa
klarifikasi dan pembelaan, dengan dakwaan sepihak. Meskipun demikian,
umat Islam yang awam tidak mau tahu dengan prosedur yang tidak sehat
itu; yang ditangkap hanya ujungnya: orang ini murtad, kelompok itu
sesat, maka dibunuh saja!

Penggunaan idiom-idiom teologis pada fatwa--yang pada hakikatnya
adalah "opini legal manusia"--mampu meniupkan roh kekuatan dan
kebanggaan bagi siapa saja yang bersedia "mengorbankan dirinya" untuk
menjalankan "misi suci" itu. Imam Samudra, terpidana kasus bom Bali,
tersenyum lebar, tidak merasa bersalah atau berdosa, bahkan bangga,
setelah membunuh ratusan orang sipil di Bali, yang diyakini sebagai
jihad. Hukuman mati kepadanya dianggap sebagai pintu menuju
kesyahidan: masuk surga tanpa hisab.

Dalam sejarah Islam klasik, mudah dijumpai fenomena seperti itu. Abu
Bakar menjatuhkan fatwa "murtad" terhadap kelompok yang tidak mau
menyerahkan zakat sehingga wajib diperangi. Pada awalnya, para
sahabat tidak setuju dengan fatwa itu. Menurut Umar, misalnya,
dakwaan murtad tidak tepat bagi orang Islam yang masih bersyahadat
dan salat. Namun, Abu Bakar tetap berkeras, otoritas seorang khalifah
tidak bisa ditolak.

Muhammad Imarah dalam bukunya, Al-Islam wal Hurûb al-Dîniyah,
menorehkan catatan kritis terhadap sejarah "perang terhadap orang
murtad" (harb al-murtaddîn) itu. Label "murtad" bukan dalam ranah
teologis--dalam arti, keluar dari agama--tapi dalam ranah politis.
Kelompok itu bukan tidak mau membayar zakat, tapi tidak mau
menyerahkan zakat kepada pemerintah pusat yang dipimpin Abu Bakar
setelah Rasulullah mangkat. Mereka merupakan kelompok pembangkang (al-
bughât) dan menolak kepemimpinan Abu Bakar. Pemikir politik Islam
asal Maroko, Muhammad Abid Jabiri, memberikan kesan yang sama. Perang
itu bertujuan menjaga formasi kedaulatan Islam yang masih dini.

Namun, penggunaan label "murtad" itu tetap bermasalah hingga kini.
Kebanyakan umat Islam tetap memaknainya secara teologis. Kelompok
yang divonis "murtad" atau "kafir" wajib diperangi, seperti yang
dilakukan oleh Abu Bakar. Khalifah ketiga, Utsman bin 'Affan,
mengalami nasib yang tidak jauh berbeda. Dia dituduh "melampaui
wewenangnya sebagai pemimpin umat Islam yang digariskan oleh Allah
dan Rasul-Nya" alias "kafir". Setelah fatwa itu keluar, Utsman
bin 'Affan pun dibunuh. Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat, juga
dijatuhi fatwa mati oleh kelompok Khawarij, yang sebelumnya pendukung
Ali. Menantu Rasulullah itu dituduh percaya kepada "hukum manusia"
karena setuju dengan arbitrase (tahkîm) yang merupakan akal-akalan
Mu'awiyah, musuh politik Ali. Padahal, menurut Khawarij, "Tiada Hukum
selain Hukum Tuhan" (lâ hukm illâ hukm Allâh). Kelompok radikal itu
secara sewenang-wenang menafsirkan ayat 44, 45, dan 47 surat Al-
Maidah, "Seorang yang tidak menggunakan hukum Allah, maka dia kafir,
zalim, dan fasik." Hukuman bagi orang kafir, zalim, dan fasik adalah
dibunuh. Fatwa yang keluar: Ali, Mu'awiyah, dan Amr bin Ash
telah "kafir", "zalim", dan "fasik". Ali bin Abi Thalib terbunuh,
sedangkan Mu'awiyah dan Amr bin Ash selamat.

Demikian salah satu episode kelam dari sejarah umat Islam. Fatwa-
fatwa otoriter terbukti sangat efektif menimbulkan tindakan anarki
dan kekerasan. Dalam sejarah umat Islam modern, petaka itu kembali
terjadi. Syekh Muhammad al-Dzahabi, ulama Al-Azhar yang mumpuni,
dibunuh setelah dijatuhi fatwa murtad dan kafir oleh Jamaâh Takfîr
wal Jihâd (Kelompok Pengkafir dan Jihad). Farag Fouda ditembak mati
di halaman rumahnya oleh pengikut kelompok radikal setelah atasannya
menjatuhkan fatwa kafir dan murtad terhadap dia. Percobaan pembunuhan
juga dialami novelis Naguib Mahfouz setelah ada fatwa bahwa novelnya,
Awlâd Hârâtinâ, bertentangan dengan Islam. Sedangkan di Sudan,
pemikir Islam Ustad Muhammad Mahmoud Thaha digantung sampai mati
setelah divonis murtad.

Karena itu, fatwa yang secara sewenang-wenang menyebut individu,
kelompok, atau aliran sebagai "sesat", "kafir", dan "murtad"
merupakan tindakan pembunuhan karakter (character assassination)
dalam ranah teologis, yang acap kali diikuti dengan pembunuhan fisik.
Seorang intelektual Mesir, Muhammad Said Asymawi, menyebut fatwa-
fatwa model itu sebagai "terorisme pemikiran" (al-irhâb al-fikrî)
atau "kekerasan pemikiran" (al-'unf al-fikrî) yang sering berujung
pada "kekerasan dan terorisme yang sebenar-benarnya" (al-irhâb al-
haqîqî wal 'unf al-haqîqî).

Padahal fatwa-fatwa model itu bertentangan dengan mekanisme fatwa
dalam tradisi hukum Islam. Fatwa itu relatif, kondisional, dan
fleksibel. Lebih penting lagi: tidak otoriter. Seruan Khaled Abou el-
Fadl (2003) untuk melawan otoritarianisme fatwa layak diapresiasi.
Bagi Khaled, hukum Islam secara kukuh menentang kodifikasi dan
penyeragaman (Islamic law has staunchly resisted codification or
uniformity). Metodologi hukum Islam memiliki ciri yang terbuka dan
antiotoritarianisme (tradisional Islamic methodology has been its
open-ended and anti-authoritarian character). Namun, yang menjadi
persoalan dewasa ini adalah kecenderungan praktek hukum Islam yang
memperlakukan syariat Islam sebagai perangkat aturan (ahkâm) yang
mapan, statis, dan tertutup yang harus diterapkan tanpa menyisakan
ruang yang luas untuk pengembangan dan keragaman. Singkatnya, hukum
Islam pada era modern ini dipandang sebagai perangkat aturan (ahkâm),
bukan sebagai sebuah proses pemahaman (fiqh). Kecenderungan ini
berpotensi melahirkan otoritarianisme dalam memahami hukum Islam.

Nah, jika MUI telah mengeluarkan fatwa yang mendamaikan, toleran, dan
apresiatif terhadap pluralitas pendapat, lembaga ulama itu tidak
perlu capek-capek memberikan pernyataan yang menafikan antara fatwa
itu dan tindakan-tindakan kekerasan yang saat ini terjadi.
Wallahualam!

Mohamad Guntur Romli aktivis Jaringan Islam Liberal

Selamat Tinggal, Ramadan!

http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=192317

Jumat, 07 Okt 2005,
Selamat Tinggal, Ramadan!


Oleh Reza Indragiri Amriel *

Orang-orang di negeri ini memang benar-benar piawai dalam mengemas
setiap kesempatan menjadi peristiwa yang seolah monumental. Ambil
misal, pada Agustus, bendera Merah Putih senantiasa dikibarkan di
sana-sini. Pekik merdeka guna meneguhkan kembali semangat kebangsaan
juga berkumandang di seluruh sudut negeri.

Lantas, perubahan apa yang terjadi setelah itu? Tidak ada!
Ketidaksemenggahan berperilaku, mulai dari megakorupsi hingga yang
sebatas meludah di sembarang tempat, tetap saja menjadi perangai
membusukkan negeri yang terjadi setiap hari.

Respons masyarakat terhadap hari-hari besar keagamaan pun setali tiga
uang. Ayat-ayat suci dikumandangkan, pengkhotbah bertebaran berupaya
menggugah nurani. Air mata bercucuran dibuatnya. Tapi, dalam tempo
beberapa jam sesudahnya, semua orang sudah dapat kembali menyaksikan
bahkan menjadi korban tindak-tanduk jahiliah.

Pemandangan seperti itu pula yang, menurut saya, akan segera
berlangsung dalam Ramadan kali ini. Berbagai hal telah dilakukan guna
membangun nuansa bahwa Ramadan memang berbeda dengan bulan-bulan
lainnya. Semangat kemanusiaan, kekhusyukan vertikal, dan beraneka
suasana lain gencar dicoba untuk dihidupkan. Namun, alih-alih tumbuh
perasaan sakral menyongsong bulan suci, justru kemuakan yang muncul
di hati.

Bukan udara segar berisi kebeningan agamis yang terhirup, melainkan
ekstremisme. Lebih tragis lagi, tidak hanya satu ekstremisme seperti
pada Ramadan tahun silam, ekstremisme telah mencapai bentuk
paripurnanya pada tahun ini, yakni dengan terdapatnya dua ekstremisme
yang sama-sama mengklaim tengah melakukan revitalisasi terhadap
Ramadan. Ekstremisme yang saya maksud adalah dua fenomena kontras
yang dialami oleh sejumlah pihak sebagai ilusi atas keagungan Ramadan.

***

Pada salah satu sudut, ekstremisme mempertontonkan dirinya dalam
paras apokaliptik. Bali menjadi panggungnya. Karena -menurut
investigasi sementara Polri- rentetan aksi bom bunuh diri itu
memiliki pola yang biasa dilakukan Azhari dan Noordin M. Top, maka
dapat dipastikan bahwa lagi-lagi motif agama merupakan alasan para
teroris brutal itu dalam membantai sekian banyak manusia.

Pertanyaannya, pemurnian terhadap Ramadan macam apa yang mereka
lakukan apabila aksi penghancuran mereka tidak memiliki batasan sama
sekali mengenai siapa kawan dan siapa lawan? Bagaimana mungkin
kebiadaban terhadap pihak yang dianggap musuh dianggap sebagai kunci
untuk memastikan kemuliaan Ramadan?

Bahkan, pada tataran paling pribadi, adalah omong kosong mereka -yang
bisa jadi seagama dengan saya- menyebut ulah mereka sebagai bentuk
perjuangan agama jika kelakuan tanpa diskriminasi itu juga berpeluang
besar merenggut nyawa anak-anak saya sendiri! Keislaman saya sungguh
tidak terwakili oleh para teroris itu!

Jangankan mengimpikan hidup keberagaman yang secara minimalis akan
sama kualitasnya dengan tahun lalu, akibat aksi teroris, Ramadan yang
pada dasarnya dapat mengangkat derajat manusia itu justru secara
sesat menyemaikan cara pandang yang fatalistis. Seperti kata Victor
Frankl (pencetus Logoterapi), situasi yang fatalistis mengakibatkan
hidup tidak lagi sebatas stagnan, melainkan menyeret mundur manusia
ke dalam sebuah persepsi bahwa hidup adalah penantian akan marabahaya.

Akibatnya, betapa menjijikkannya bahwa ada segelintir orang yang
tersenyum menyaksikan tangan mereka telah memuncratkan sekian banyak
darah. Termasuk darah mereka yang barangkali beberapa saat sebelumnya
juga telah beriktikad menegakkan puasa pada tahun ini.

Pada saat yang sama, betapa menyedihkannya bahwa kedatangan Ramadan
tahun ini terpaksa disambut dengan hela napas keprihatinan sekaligus
perasaan waswas akan terjadinya peristiwa destruktif susulan.

Begitulah ekstremisme jenis pertama, dengan kebrutalan yang kasat
mata. Ekstremisme berwujud keperkasaan yang sejatinya menyelubungi
perasaan kalah sekaligus watak pengecut kronis. Bukan purifikasi
Ramadan, melainkan menjadikan Ramadan sebagai justifikasi atas adiksi
akan kehancuran.

***

Pada sudut seberang, adalah media massa yang berlomba memunculkan
kesyahduan sekaligus keceriaan Ramadan. Manakala kesyahduan
diciptakan melalui drama dan berita menyentuh hati, keceriaan
ditebarkan lewat paket hiburan serba berhadiah. Di permukaan, siapa
pun bisa larut dalam suasana batiniah yang dikehendaki oleh media.

Namun, di balik itu, kekuatan persuasif media dikerahkan tidak lain
untuk memosisikan pemirsa sebagai objek potensial dari gelombang
masif komersialisasi segala produk yang berkaitan dengan rutinitas
Ramadan.

Ramadan di media bukan mengajar masyarakat agar lebih ekonomis,
tetapi justru memancing munculnya naluri-naluri hedonis. Saat
rasionalitas menipis, kepedulian akan sesama pun pada gilirannya
ternistai watak ekshibisionis. Menarik untuk diketahui nanti, apakah
tahun ini Ramadan syndrome (baca: Insting menghambur-hamburkan uang)
akan mereda karena terpengaruh musibah kemanusiaan silih berganti dan
naiknya harga bahan bakar minyak sekian kali lipat.

Demikianlah ekstremisme jenis kedua. Tidak berdarah-darah, memang.
Tetapi, ia tetap saja memperbudak. Kendati penuh dengan tawa, tawa
itu sesungguhnya terarah pada diri sendiri yang bersuka cita di atas
realita semakin banyaknya fakir miskin di negeri ini. Bukan
purifikasi Ramadan, melainkan komersialisasi Ramadan.

***

Bagaimana nasib orang-orang negeri ini di ujung Ramadan nanti?
Percayalah, tidak akan ada beda! Kegetiran yang monumental.
Walllahu a'lam.


* Reza Indragiri Amriel, alumnus Psikologi UGM, Jogjakarta

OPINI: Madenur di Bali

Dari: Miftah al-Zaman
Balas ke: islamliberal@yahoogroups.com
Kepada: islamliberal@yahoogroups.com, IslamProgresif@yahoogroups.com
Tanggal: Oct 6, 2005 8:45 PM
Judul: ~JIL~ Madenur di Bali

Media Indonesia On Line | Kamis, 06 Oktober 2005 00:00 WIB

OPINI: Madenur di Bali
Nono Anwar Makarim, Ketua Badan Pelaksana Yayasan Aksara, Jakarta

MADENUR, adalah seorang tuna-makna. Kehidupannya tak punya arti. Pekerjaan tak punya, keahlian tak punya, keluarga tak punya, pulang ke rumah orang tua malu dianggap gagal. Bertahun-tahun ia berkelana ke rumah teman-teman masa pendidikannya di padepokan Pmks. Di situ ia berdiam berminggu-minggu; kadang kala bahkan sampai bulanan. Teman-teman Madenur eks padepokan Pmks
bukan orang berada.

Mereka sekadar punya pekerjaan tetap dan, walaupun agak pas-pasan, masih sanggup menampung teman lama berminggu-minggu. Pengangguran berkepanjangan membuat keresahan Madenur meningkat dan harga dirinya merosot. Sering kali ia berpikir tentang kegunaan hidupnya. Pada saat-saat itu ia mulai mengarungi jurang-jurang depresi jiwanya.

Pada suatu hari seorang yang baru dikenalnya menghampiri dan menyampaikan pesan bahwa ia dicari
oleh seorang yang bernama Pul. Keesokan harinya Pul datang dan memberinya uang sebanyak Rp50.000. ''Dari pendoa PPSM,'' kata Pul. Ada sejam Pul duduk mengobrol ringan tentang 1.001 soal dalam kehidupan. Lalu Madenur diajak makan di warung dekat rumah di mana ia menginap. Tak lama kemudian Pul minta diri dan berjanji akan berkunjung lagi, 'kapan-kapan', katanya. Madenur termenung memikirkan peristiwa yang baru dialaminya. Uang Rp50.000 diraba-raba di kantong kemejanya. Seminggu kemudian Pul datang lagi dengan uang Rp50.000 lagi. Sebulan kemudian Madenur bergabung dengan kelompok pendoa PPSM.

Di situ sudah ada 8 pemuda. Mereka mendaraskan pujian dan lewat tengah malam berdoa utama. Pada tengah malam ke-100 Madenur diantar 8 pemuda ke tengah ladang. Di sana sang Guru sudah menanti. Di bawah sejuta bintang di langit, dengan kitab suci di atas kepala Madenur melintasi jembatan transenden, dan dalam kesucian masuk ke lingkaran gaib. Ia bersumpah taat sampai mati.

Perang Madenur

Pada 1 Oktober 2005 Indonesia menerima deklarasi perang dari Bali. Dalam deklarasi itu tergambar suatu ruang besar restoran yang hancur-lebur. Pecahan kaca berhambur-campur bata, genting, dan plafon yang remuk. Atapnya ambruk. Di dinding tertempel potongan daging, tipis-tipis seperti dipotong untuk membuat dendeng; darahnya masih mengalir kental, merah tua. Di kaki kursi tersangkut tangan kanan perempuan yang masih memegang tas. Pada bagian yang tersobek dari dadanya tampak daging memasir putih, tanpa darah. Suara merintih bersaing dengan jerit orang yang belum dibunuh. Seorang laki-laki tersenyum malu memandang orang yang bergegas mau mengangkatnya. Kepalanya masih belum sempat terangkat, ia sudah terburu meninggal. Orang yang mau mengangkatnya heran. Baru setelah tangannya lepas dari punggung jenazah ia sadar bahwa pundak orang yang mau ditolongnya sudah dikoyak serpihan bom.

Pernyataan perang Madenur ditujukan kepada bangsa Indonesia, tanpa pandang bulu apakah ia seorang Islam, Katolik, Kristen, Budhis, Hindu, Konghucu. Kebetulan saja mayoritas yang terbunuh beragama Islam. Madenur tidak ambil pusing akan hal itu. Instruksinya jelas: Pukul sasaran yang mengakibatkan kerugian besar, publisitas global, kerusakan parah dan jangka panjang: Bali.

Madenur berguru

Bagaimana bangsa berperadaban tinggi seperti Jerman bisa membantai 6 juta manusia? Pertanyaan ini mengganggu pikiran seorang mahasiswa S3 di Universitas Harvard. Namanya Stanley Milgram. Seperti Madenur yang taat pada sang Guru, para algojo Nazi juga patuh pada perintah atasan yang berwenang. Befehl ist Befehl!, kata mereka. Yang tetap mengherankan bagi Milgram adalah mengapa dalam tabrakan antara ketaatan dan hati nurani yang menang adalah ketaatan. Mengapa? Untuk disertasinya Stanley Milgram melakukan penelitian sosial-psikologis di Universitas Yale. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa kebanyakan orang tidak terlalu peduli akan penderitaan orang yang disiksanya bila ia mengerti tujuan penyiksaan, dan disuruh menyiksa oleh figur-figur yang mengesankan berwenang.

Antara penelitian Milgram dan Madenur tidak banyak perbedaan. Madenur harus terlebih dulu dibuat mengerti akan penjelasan sang Guru tentang tujuan perang. Baru kemudian ia akan menaati perintah perang tanpa memedulikan apakah korbannya itu orang Indonesia atau orang asing, sesama muslim atau kafir.

Madenurisme dalam konteks

Di Indonesia ada banyak Madenur. Mereka tidak beroperasi dalam suatu vakum. Medan sosial-politik
mereka dewasa ini menunjukkan karakteristik tertentu. Secara makro kita menyaksikan dimainkannya suatu mitos di forum domestik maupun global: ''Islam di Indonesia itu moderat dan amat toleran! Yang ekstrem itu hanya suatu minoritas kecil!'' Ini merupakan suatu mitos karena yang menjajakannya pun tak percaya akan kekecilan para ekstremis. Kalau memang kecil, mengapa tidak dikecam dan difatwakan secara jelas kecamannya? Takutkah akan kehilangan dukungan politik si 'kecil'?

Mitos ini juga sudah dibubarkan oleh penelitian kuantitatif yang mengukur berapa jauh gairah demokrasi
di kalangan aliran-aliran besar Islam di Indonesia, yaitu mayoritas moderat dan toleran yang dikumandangkan di mana-mana. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa di kalangan aliran-aliran besar tersebut banyak sekali kantong-kantong besar kaum skripturalis fundamental. Secara makro kita saksikan juga bahwa elite politik Indonesia enggan menggelorakan konsepsi Pancasila, ide dasar negara Republik Indonesia.

Mereka takut akan dihubungkan dengan paksaan asas tunggal zaman Soeharto, dan dengan demikian mengambil risiko kehilangan dukungan ekstremis yang dikatakan 'minoritas kecil' itu. Aparatur negara juga ragu mencegah tindakan sepihak atas nama hak asasi dan agama kaum ekstremis. Keraguan itu sebagian disebabkan oleh ketidakpahaman tentang hak asasi, yang tidak boleh dilibas, yang mana yang harus dilibas karena melanggar hak asasi orang lain. Untuk sebagian lagi sebab-musababnya berada di sektor politik real. Gerakan ekstrem dipakai untuk tujuan politik jangka pendek pencari posisi kenegaraan.

Dalam menanggapi gerakan-gerakan garis keras, NU dan Muhammadiyah setengah-setengah. Polisi ragu, TNI dilarang berkutik, elite politik berlagak lupa Pancasila sebagai konsepsi yang melandasi dasar
negara. Konteks semacam ini adalah surga buat gerakan-gerakan ekstrem. Mereka bertindak sepihak tak ada yang melawan kecuali protes kecil di sana-sini. Tercatatlah kemenangan kecil. Protes mereda, mereka sekali lagi bertindak sepihak. Suara protes masih ada tapi mulai mengecil. Polisi diam di tempat, politisi takut menyebut Pancasila.

Tambahkan pada konteks tersebut berita tentang latihan perang di hutan Jawa Tengah. Lalu ada khotbah di Jakarta Utara yang menjamin bahwa setiap rupiah sumbangan umat akan digunakan untuk menjatuhkan pemerintah RI yang sekuler. Ratusan gereja ditutup. Ahmadiyah diserang di mana-mana. Islam Liberal harus dilarang. Dari aspek kontekstual inilah selayaknya kita membaca 11 fatwa MUI yang bersifat eksklusif dan bernada agresif. Kondusifkah atau tidak konteks semacam ini bagi teroris dan terorisme Indonesia. Ada seribu Madenur yang dengan berdebar hati menunggu gilirannya untuk dibaiat, untuk dikirim ke luar negeri menuntut ilmu perang, untuk melaksanakan perintah suci sang Guru. Saya persilakan mereka menjawab pertanyaan itu.***

Catatan: Nama-nama dalam tulisan ini adalah fiktif. Begitu pula kisah hidup Madenur.

-------oooOooo-------

ElBaradei dan Hadiah Nobel Perdamaian

E4
KOMPAS--Sosok | Sabtu, 08 Oktober 2005

ElBaradei dan Hadiah Nobel Perdamaian

Bahkan sampai saat terakhir menjelang pengumuman resmi pemenang Nobel Perdamaian pada hari Jumat pukul 11 di Oslo (pukul 16.00 WIB), orang belum juga mengetahui siapa penerimanya tahun ini. Komite Nobel Norwegia tahun ini memang lebih berahasia, setelah dua tahun berturut-turut ada kebocoran mengenai pemenang beberapa saat sebelum pengumuman.

Walau nama-nama seperti pemusik Bono dari band U2 dan Bob Geldoff sempat dibicarakan, namun para pengamat umumnya sepakat bahwa hadiah Nobel Perdamaian tahun ini akan diberikan pada individu atau kelompok yang bekerja memerangi proliferasi persenjataan nuklir. Oleh karena selama setahun ini fokus internasional pada isu itu, terutama karena perundingan sulit di Iran dan Korea Utara serta gagalnya upaya untuk menghidupkan kembali traktat nonproliferasi.

Karena itu, ketika komite mengumumkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan ketua badan itu, Mohamed ElBaradei, sebagai pemenang Nobel Perdamaian tahun ini, orang tidak terkejut. Mereka adalah satu dari tiga favorit menurut televisi Norwegia, NRK. Televisi ini selama dua tahun tepat meramalkan hadiah itu akan diberikan kepada tokoh lingkungan Kenya Wangari Maathai tahun 2004 dan pengacara HAM Iran Shirin Ebadi tahun 2003.

Favorit lainnya di antara 199 kandidat itu, menurut NRK, adalah dua Senator AS, Richard Lugar dan Sam Nunn, inisiator sebuah proyek perlucutan senjata di bekas Uni Soviet, dan Nihon Hindankyo, sebuah organisasi Jepang yang terdiri dari para korban bom atom Hiroshima dan Nagasaki.

Diplomasi dan verifikasi

Mohamed ElBaradei adalah mantan diplomat Mesir yang bergabung dengan IAEA tahun 1984 dan memegang serangkaian jabatan penting dalam organisasi itu sebelum menjadi ketua dengan sebutan direktur jenderal dari badan itu 13 tahun kemudian.

Lahir di Mesir tahun 1942, ElBaradei belajar ilmu hukum di Universitas Cairo dan mendapat gelar sarjana hukum tahun 1962. Kariernya di Kementerian Luar Negeri Mesir dimulai tahun 1964, dan dia bekerja di misi tetap Mesir di PBB di New York dan di Geneva. Tahun 1974 dia menerima gelar doktor ilmu hukum dari Universitas New York, tempat dia kemudian mengajar.

Dia menikah dengan Aida Elkachef, guru taman kanak-kanak, dan memiliki dua anak, Laila (pengacara) dan Mostafa (bioteknolog).

Sejak mengambil alih tugas dari diplomat Swedia Hans Blix tahun 1997, Dr ElBaradei telah menggunakan diplomasi untuk menangani pertikaian nuklir mengenai Irak, Korea Utara, dan Iran, serta menegaskan bahwa bahkan di situasi-situasi yang paling sulit pun kemajuan bisa dibuat.

Verifikasi dan diplomasi bila digunakan bersama, dapat menghasilkan, katanya.

Kala inspeksi disertai otoritas yang memadai, dibantu oleh semua informasi yang tersedia, didukung oleh mekanisme pematuhan yang dapat dipercaya, dan didukung oleh konsensus internasional, sistem verifikasi dapat berjalan, kata ElBaradei.

Lembaganya, IAEA, adalah badan PBB pengawas nuklir, yang mendorong penggunaan damai energi atom sekaligus berusaha menjamin bahwa teknologi itu tidak dimanfaatkan untuk keperluan militer.

Badan itu tidak mempunyai otoritas untuk bertindak sendiri, melainkan mengandalkan kemauan negara-negara untuk bekerja sama dengannya, atau mengandalkan mandat PBB.

ElBaradei dianggap telah memimpin lembaga itu untuk tampil dari sebuah lembaga tak jelas yang memonitor tempat-tempat nuklir di seluruh dunia menjadi sebuah lembaga penting dalam perkembangan persenjataan nuklir dan upaya perlucutannya itu.

Jubir IAEA Melissa Fleming mengatakan, mendamaikan kepentingan 139 negara anggota akan tidak mungkin tanpa kepemimpinan ElBaradei. Sedangkan Deputi Direktur IAEA David Waller yang telah bekerja bahu-membahu dengan ElBaradei selama hampir dua dekade, menyebut rekannya obyektif dan adil.

Dia sangat pandai dan kalau Anda menggabungkan itu dengan sikap adil, Anda mendapatkan seorang pemimpin yang besar, kata Waller.

ElBaradei sempat dicegat oleh sikap AS yang menentang pencalonannya untuk masa jabatan ketiga karena menganggapnya terlalu lunak pada Iran. Namun, itu berakhir secara resmi bulan lalu ketika negara-negara IAEA menyetujui penunjukannya kembali untuk masa jabatan ketiga.

Hadiah Nobel Perdamaian adalah nobel keempat yang diumumkan pekan ini. Namun dibandingkan dengan kategori lain, Nobel Perdamaian mendapat perhatian lebih, mungkin karena semua orang merasa mempunyai hak untuk menilai siapa yang pantas mendapatkannya.

Bahkan para ahli pun melakukan tebakan yang mungkin berdasar namun ternyata bukan tebakan yang tepat.

Tahun lalu pasar taruhan dan para ahli memperkirakan ElBaradei dan IAEA sebagai pemenangnya, namun itu baru terjadi sekarang.

Stein Toennesson, direktur Lembaga Penelitian Perdamaian Oslo, memperkirakan IAEA atau ElBaradei tidak akan menang karena tidak ada yang mereka hasilkan tahun ini yang membuat mereka pantas mendapatkan hadiah itu.

Alfred Nobel dalam wasiatnya menulis, Nobel Perdamaian harus diberikan pada siapa pun yang telah melakukan yang terbaik untuk penghapusan atau pengurangan bala tentara. Salah satu kriteria itu saja menimbulkan beragam interpretasi dari banyak orang. Bukankah masing-masing orang merasa punya kepentingan dengan perdamaian dunia? (AFP/AP/Reuters/ BBC News/DI)

------oooOooo-------

Berani Mati, Takut Hidup

KOMPAS--Opini | Sabtu, 08 Oktober 2005

Berani Mati, Takut Hidup
Syafiq Hasyim

Mereka hanya berani mati, tidak berani hidup.” Ungkapan yang sering dikemukakan Buya Syafii Ma’arif, mantan Ketua PP Muhammadiyah, ini terasa amat cocok dialamatkan kepada pelaku Bom Bali II.

Sampai kini mungkin kita masih menebak-nebak untuk apa mereka rela melakukan bom bunuh diri, mengorbankan nyawa, memutus kasih sayang orangtua, istri, anak, dan keluarga? Di balik itu semua, pasti ada cita-cita amat agung yang mereka yakini.

Hegel pernah menyatakan, seseorang amat ingin dengan kematian karena mengejar nilai lebih besar dari kehidupan. Juga sebaliknya, orang akan akan membunuh karena keinginan untuk mengejar nilai yang lebih besar melalui pembunuhan itu. Pernyataan Hegel ini memiliki korelasi amat dekat dengan cerita-cerita mengenai doktrin yang dianut dan diembuskan di kalangan pelaku bom bunuh diri (suicide bomber). Tulisan ini akan melihat masalah bunuh diri melalui penjelasan kebudayaan (cultural talk) dan politik (political talk).

Kekerasan sebagai penggerak

Salah satu tanda kehadiran politik modern adalah kekerasan dinobatkan sebagai keharusan untuk mencapai kemajuan politik. Fenomena kekerasan sebagai penggerak sejarah modern ini bisa dirunut, misalnya, sejak Pencerahan Eropa, 1942, yang dianggap sebagai tonggak kelahiran politik modern. Revolusi Prancis, misalnya, telah memberi banyak pelajaran bagi kita tentang pentingnya teror dan orang-orang yang rela mati karena ingin mengejar nilai yang lebih besar. Keberhasilan Napoleon dalam memenangi pertempuran karena didukung para patriot (bukan tentara), sebutan yang digunakan Napoleon untuk mereka yang rela mati karena ingin membela negara. Fenomena serupa juga ditemukan dalam revolusi dunia lainnya. Di sini kekerasan terlegitimasi, bahkan merupakan midwife of history dari politik modern (Mahmood Mamdani, Good Muslim, Bad Muslim, America, The Cold Wars, and The Root of Terror, 2004, hal 3).

Kini kekerasan dalam wujud bom bunuh diri sebagai alat untuk melakukan teror menjadi kecenderungan baru di Indonesia. Dalam hitungan kita, setidaknya sudah dua peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di negara kita, Bom Kuningan dan Bom Bali 2. Mungkin para pelaku (perpetrator) terilhami kejadian-kejadian bom bunuh diri di Timur Tengah (Irak, Palestina, dan Israel) yang dianggap cara baru paling efektif.

Namun, dalam perspektif kesejarahan, Sven Lindqvist dalam A History of Bombing, menyatakan, pengeboman semula dijadikan alat yang hanya cocok untuk memerangi musuh-musuh yang tidak beradab. Namun, kini pengeboman tidak hanya digunakan untuk menyerang uncivilised adversaries, tetapi lebih dari itu, menyerang wilayah-wilayah yang beradab, negara-negara merdeka dan warga sipil yang tidak berdosa. Di sini, pendefinisian tentang �musuh yang tidak beradab� menjadi amat relatif dan nisbi.

Bahkan dalam konteks bom bunuh diri (suicide bombing), pendefinisian tentang siapa musuh yang tidak beradab dan harus diperangi tidak hanya datang dari mereka yang memegang power of discourse, tetapi juga bisa didefinisikan oleh mereka yang powerless dalam pembuatan diskursus. Kini tidak hanya kekuatan superpower yang bisa meneror, tetapi orang seperti Imam Samudra dan Henri Gulun yang sebelumnya tidak pernah tampil sebagai discourse maker bisa menentukan siapa yang beradab dan tidak beradab.

Dengan melakukan pengeboman, kini mereka tampil sebagai teroris yang ditakuti dunia. Fenomena seperti ini memberi pelajaran berharga bagi kita ihwal perubahan pola relasi kekuatan dalam sejarah modern. Kini kekuatan menjadi tersebar di mana-mana, tidak hanya milik bangsa atau kelompok yang menguasai kapital dan persenjataan canggih, tetapi juga mereka yang terpinggirkan.

Politik dan budaya

Ada dua cara yang biasanya dipakai untuk menjelaskan bom bunuh diri sebagai alat terorisme.

Pertama, penjelasan politik (political talk) yang menganggap tindakan bom bunuh diri merupakan alat protes dan bentuk respons terhadap isu-isu yang sedang terjadi atau konteks politik tentang adanya ketidakadilan yang tidak diperhatikan pemegang otoritas. Penjelasan politik ini lebih bersifat struktural, berkaitan dengan hal-hal yang bersifat kenegaraan.

Kedua, penjelasan kebudayaan (cultural talk) yang menganggap tindakan bom bunuh diri merupakan tindakan yang berkaitan dengan latar belakang kebudayaan dari para pelakunya (tradisi).

Dari sisi penjelasan politik, mereka meledakkan bom di Bali karena Bali merupakan kota yang amat strategis untuk dijadikan target guna mengguncang tatanan politik Indonesia. Persoalannya mungkin saja tidak berkaitan dengan Bali, namun karena mereka membutuhkan medium yang amat besar dan berdaya pikat luar biasa guna mengingatkan pemerintah, lalu mereka menjadikan Bali sebagai alatnya. Dalam penjelasan politik, hal-hal yang bisa menyulut adalah persoalan-persoalan dan gejolak politik dari seperti ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah (kehidupan yang kian tak terjangkau), perlakuan tidak adil terhadap kelompok tertentu, sampai persoalan politik persaingan wisata, membutuhkan target cukup besar guna mendapatkan perhatian pemerintah. Selain bersifat politik lokal, tindakan berani mati takut hidup ini juga bisa digunakan untuk memprotes tatanan dunia internasional yang tidak adil.

Dari penjelasan kebudayaan, para pelaku peledakan bom itu terkait kebudayaan tertentu yang dianutnya. Makna kebudayaan di sini amat luas dan agama bisa dimasukkan di dalamnya. Penjelasan kebudayaan ini berasumsi, yang menggerakkan mereka adalah sebuah nilai luhur yang diyakini akan memberi kebahagiaan dan capaian terhadap mereka yang meyakininya. Bom bunuh diri sebagai alat berbakti kepada agama, misalnya.

Dalam penjelasan kebudayaan ini, sikap berani mati takut hidup (bom bunuh diri) muncul karena tidak adanya modernitas, absence of modernity, dalam diri pelaku. Yang dimaksud dengan ketidakhadiran modernitas bukannya mereka tidak menggunakan alat-alat modern, terbukti para pelaku amat mahir dalam menggunakan teknologi informasi dan alat-alat lainnya, tetapi penggunaan alat-alat modern itu tidak disertai mentalitas modernitas (mentality of modernity) pada dirinya.

Mentalitas modernitas di sini tidak hanya bagaimana memanfaatkan teknologi dengan benar, tetapi juga menyadari bahwa teknologi itu ditemukan karena adanya penghargaan terhadap kebebasan berpikir, sikap toleran dan terbuka menerima kebenaran orang lain, dan penghargaan terhadap kemanusiaan.

Dalam konteks Indonesia, kedua penjelasan itu tampaknya tidak bisa digunakan secara sendiri-sendiri. Penggunaan secara terpisah-pisah akan berakibat pada penjelasan yang tidak utuh mengenai fenomena bom bunuh diri.

Syafiq Hasyim Deputi Direktur International Center for Islam and Pluralism, Jakarta

Bangsa Tak Berakhlak

KOMPAS--Opini | Sabtu, 08 Oktober 2005

Bangsa Tak Berakhlak
Sarlito Wirawan Sarwono


Akhlak adalah jargon agama untuk budi pekerti (istilah sekolahan), atau Moral atau Etika (istilah ilmiah). Ilmu Filsafat membedakan etika (baik-buruk), dari estetika (indah-jelek) dan logika (benar-salah).

Sesuatu yang benar belum tentu indah, yang indah belum tentu baik, yang baik belum tentu benar, dan seterusnya. Namun, idealnya, hidup ini merupakan keseimbangan antara ketiganya. Misal, meski benar secara logika bahwa badan istri bertambah berat, tidaklah etis kalau mengatakan, Kamu kok makin gendut, sih? Bukankah lebih estetis, lebih manis, jika berkata, Yuk, ke butiknya Dewi Hughes. Rasanya ada baju yang lebih pas, buat kamu.

Tak berakhlak

Saat pesawat Mandala jatuh di Medan belum lama ini, dan setelah mengaitkan dengan banyaknya kecelakaan dan petaka yang sebenarnya tidak perlu terjadi, saya beranggapan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang teledor.

Namun, seorang teman mengingatkan, keteledoran mengandung unsur ketidaksengajaan. Meninggalkan kompor menyala sehingga terjadi kebakaran, atau alpa mengecek rem sehingga mobil masuk jurang, atau lupa mengunci pintu sehingga si kecil masuk saat ayah sedang bercinta dengan ibu, itu namanya teledor.

Jika membakar kampung tetangga gara-gara ada cewek kena colek, atau mengeroyok pencopet sampai mati padahal belum tentu berdosa, atau korupsi miliaran rupiah tetapi tidak mau dipenjara meski sudah diputus pengadilan, atau sengaja berselingkuh atau berjudi, itu namanya bukan teledor, tetapi tidak berakhlak, kata kawan saya. Dalam perilaku tidak berakhlak ada niat, atau kesengajaan untuk berbuat buruk, atau melanggar etika, atau immoral.

Waduh... kalau begitu banyak perbuatan bangsa kita yang tidak berakhlak. Sengaja melanggar lampu merah sehingga lalu lintas macet, sengaja menaikkan harga untuk keuntungan sendiri, sengaja membeli ijazah palsu untuk mengelabui calon mertua, meminta pungutan liar, menebang hutan lindung, menyuap calo DPR, menggelapkan barang bukti, merusak sekolah karena tidak lulus ujian, dan seterusnya, itu contoh, ribuan bahkan jutaan. Pantas jika Indonesia mendapat julukan salah satu negara paling korup di dunia, bahkan paling munafik, karena kemaksiatan berjalan seiring makin maraknya hidup keagamaan bangsa ini.

Tidak berdampak

Masalahnya, menurut logika, tidak seharusnya maksiat berjalan seiring agama. Bagaimana mungkin agama tidak berujung kepada akhlak yang baik, seperti yang selalu diteorikan? Tentu ada yang salah. Beberapa pakar berpendapat, agama kita di Indonesia baru sebatas upacara, belum memengaruhi sikap mental sehingga tidak ada dampaknya pada perilaku. Tetapi, kok bisa, pendidikan dan pelajaran agama yang sudah masuk kurikulum sejak TK sampai mahasiswa tidak berdampak pada sikap?

Jika pertanyaan ini dijawab dari teorinya para ustadz dan khatib, tidak akan ketemu penjelasannya. Karena dalil yang selalu dikemukakan pemuka agama adalah jika kita melaksanakan ajaran Tuhan dan Rasul, ujungnya pasti akhlak (dunia) dan surga (akhirat). Padahal dalil inilah yang justru diterapkan dalam praktik pendidikan agama di sekolah-sekolah Indonesia: sejak TK murid diwajibkan menghafal ayat-ayat kitab suci dan doa-doa. Ulangan dan ujian juga seputar ayat-ayat dan doa-doa itu.

Sementara itu, menurut teori psikologi, khususnya teori belajar, yang terjadi sebaliknya. Dalam teori belajar dikatakan, seseorang harus berbuat dulu (psiko-motorik), baru timbul pemahaman (kognitif), akhirnya timbul sikap (afektif). Dengan demikian, untuk belajar akhlak, anak TK-SD seharusnya disuruh belajar praktik budi pekerti dulu, misal, bagaimana mengucap terima kasih, mengapa orang harus meminta maaf, apakah hari ini sudah mencium tangan mama-papa, apakah sudah memberi makan kucing kesayangan? Dan seterusnya.

Melalui praktik budi pekerti timbul empati, yaitu kemampuan menyayangi binatang, mengagumi keindahan, menghargai dan berempati pada orang lain, dengan sendirinya akan terhindar dari sikap arogan atau mau menang sendiri. Ketika anak belajar ayat atau doa-doa, ia akan paham apa yang dimaksud ayat dan doa itu sehingga ia tidak akan menghujat atau membunuh orang lain sambil kerongkongannya meneriakkan nama Tuhan.

Sarlito W Sarwono Guru Besar Psikologi UI

Tajuk Rencana Kompas: "Korupasi Sudah Masuk MA" & "Dunia Tanggapi Flu Burung"

KOMPAS -- Opini | Sabtu, 08 Oktober 2005

TAJUK RENCANA

Korupsi Sudah Masuk MA

Isu yang satu ini sebenarnya bukanlah barang baru. Kalau sekarang isu korupsi di Mahkamah Agung diangkat ke permukaan, itu karena faktanya terlalu nyata.

Uang yang ditemukan dan disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ketika menggerebek transaksi sebuah perkara di Gedung Mahkamah Agung sangatlah mencengangkan. Di sana ada uang tunai dalam bentuk valuta asing yang mencapai 400.000 dollar AS dan dalam bentuk rupiah sebanyak Rp 800 juta.

Terungkap kemudian bahwa uang itu dibawa Harini Wijoso. Ia adalah pengacara dari pengusaha Probosutedjo yang, selaku Direktur Utama PT Menara Hutan Buana, sedang mengajukan kasasi menyusul tuduhan korupsi dana reboisasi sebesar Rp 100,931 miliar.

Menurut pengacara Harini, uang tersebut merupakan bagian dari 500.000 dollar AS yang hendak diberikan kepada Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan, yang menjadi hakim ketua dalam kasus kasasi Probosutedjo. Uang itu diberikan melalui lima karyawan MA.

Sejauh ini Bagir Manan menyangkal terlibat dalam kasus suap itu. Menurut Ketua MA, terlalu jauh jarak antara dirinya dan kelima karyawan MA yang terlibat dalam kasus penyuapan tersebut.

Kita harus menunggu penyelidikan lebih lanjut yang dilakukan KPK. Satu yang membuat kita sangat prihatin, bagaimana jadinya nasib bangsa dan negara ini kalau hukum sudah diperjualbelikan sampai pada tingkat yang paling tinggi, puncaknya peradilan, Mahkamah Agung. Padahal, kita paham, suatu negeri pasti akan runtuh apabila hukumnya sudah runtuh.

Yang lebih membuat kita prihatin, mengapa dalam berbagai kasus korupsi kemudian tidak muncul sikap ksatria? Mengapa kita selalu saja berdalih dan kemudian mengorbankan orang kecil?

Jangan salah sangka, kita bukan bermaksud untuk menghukum Ketua MA pasti bersalah dan menerima suap. Hanya saja dalam berbagai kasus korupsi yang telah terjadi dan itu melibatkan pejabat, selalu dicarikan jalan untuk menghindar, meski bukti-buktinya begitu nyata.

Bandingkan dengan negara-negara lain. Baru-baru ini Ketua DPR AS Tom DeLay secara ksatria mundur dari jabatannya ketika dituduh menggunakan uang yang tidak jelas asalnya untuk kepentingan kampanyenya.

Dengan sikap lebih ksatria, memang orang itu harus menjadi korban. Tetapi pengorbanan itu menyelamatkan hal yang lebih besar, yakni masa depan negaranya.

Berbagai praktik korupsi yang terjadi di negeri ini terasa lebih menyesakkan karena melibatkan orang-orang yang seharusnya menjadi panutan bagi masyarakat. Keterlibatan mereka semakin menyadarkan kita, ada yang keliru dari bangsa ini dalam menghargai yang namanya materi dan kekayaan. Seakan-akan orang yang sukses, orang yang berhasil, adalah orang yang mobilnya mewah, rumahnya mewah, tanpa kita peduli dari mana kekayaan itu berasal.

Sepanjang kita tak mampu meluruskan cara pandang hidup yang keliru, maka praktik korupsi tidak pernah akan bisa diberantas dan akan mengena siapa saja.



Dunia Tanggapi Flu Burung

Flu burung tidak saja menjadi berita menghebohkan di Indonesia, tetapi juga dunia. Maklum, gejalanya memperlihatkan penyebaran dalam tingkat regional.

Mulai Kamis (6/10) di Washington, AS, berkumpul para ahli dan pejabat kesehatan dari berbagai penjuru dunia guna membahas respons terkoordinasi terhadap mewabahnya flu burung atau avian influenza (AI). Pertemuan ini diharapkan bisa mengembangkan cara-cara untuk berbagi informasi dan sumber daya apabila saja virus AI bermutasi dan mulai menimbulkan pandemi di kalangan manusia. Kalau itu sampai terjadi, para ahli meyakini akan jatuh korban manusia dalam jumlah jutaan dalam tempo beberapa bulan.

Satu hal menarik adalah bahwa pertemuan di Amerika ini berlangsung hanya sehari setelah dua tim ilmuwan mengumumkan bahwa mereka telah mereproduksi virus flu yang merebak di Spanyol tahun 1918—penyebab salah satu pandemi yang paling mematikan dalam sejarah—yang ternyata merupakan satu AI.

Seperti telah sama-sama kita ketahui, virus AI H5N1 telah menyebabkan kematian dan pemusnahan puluhan juta unggas, menjangkiti lebih dari 100 orang, serta menewaskan sedikitnya 60 orang dari jumlah tersebut di empat negara Asia sejak akhir tahun 2003. Virus juga telah menyebabkan kerugian sebesar 10-15 miliar dollar AS pada industri unggas dunia, dengan kerugian terbesar diderita oleh Thailand, Vietnam, dan Indonesia.

Bisa saja timbul kesan bahwa—dilihat dari angka insidennya—AI masih belum akut. Tetapi yang paling dikhawatirkan adalah apa yang akan terjadi kalau virus AI telah cukup bermutasi sehingga bisa dengan mudah menular di antara manusia yang tak memiliki kekebalan terhadap virus tersebut.

Guna mengikuti perkembangan virus ini, mau tidak mau para ilmuwan harus terus mengetes sampel virus, terutama yang ada pada orang yang terkena AI. Hanya saja masih muncul keluhan, negara yang dijangkiti AI tidak bersedia berbagi sampel virus ini.

Dari model yang dibuat di komputer diperoleh pemahaman bahwa asal bertindak cepat, epidemi bisa dikekang sehingga ia tak berkembang menjadi pandemi. Hanya saja, di sini pun syaratnya adalah semua negara harus mau berbagi informasi segera dan menyediakan pengobatan pasien sesegera mungkin.

Dalam konteks mendapatkan kesepakatan bersama inilah pertemuan yang digalang oleh Departemen Luar Negeri AS ini diselenggarakan. Selain respons global, tentu saja kesiapan di setiap negara dibutuhkan karena pembendungan AI di lingkup nasional akan menjadi kontribusi penting dalam upaya pembendungan global.[]

-------oooOooo-------

8 killed, 20 wounded in gunmen attack on Ahmadiyya Mosque in Mong near Mandi Bahauddin

http://www.liputan6.com/view/9,110414,1,0,1128738960.html

_40884086_pakcopap300
_40884092_pakmanafp300
_40884100_pakmosqueafp203
_40884104_pakmourningap300
_40884106_pakwomenap300
8 killed, 20 wounded in gunmen attack on Ahmadiyya Mosque in Mong near Mandi Bahauddin


Unknown gunmen attacked Ahmadiyya Mosque in Village Mong near Mandi Bahauddin in early hours of Friday when large number of worshippers gathered to offer Fajar prayers. According to sources armed with automatic assault rifles (Kalashinkoves) three persons entered the village riding a motorcycle. Two of them entered Ahmadiyya Mosque and sprayed bullets in every direction killing six instantly and wounding 22 others including 12 children. Two injured succumbed to their injuries in Hospital. Condition of some of the injured is stated to be critical. According to Indus News Network the village Mong never had any religious tension or violence and people of all sects lived there peacefully.

Those who were martyred included two real brothers Raja Muhammad Ashraf, Raja Abid and their other family members Raja Muhammad Altaf, Raja Abdul Majeed, Raja Lahrasab and three others Aslam, Naveed and Yasir.

Further details are awaited.

News gathered from various news networks are produced below.

Last Updated: Friday, 7 October 2005, 13:12 GMT 14:12 UK
Eight killed in Pakistan attack



Police in Pakistan say at least eight people were killed and 19 injured when gunmen opened fire as worshippers gathered for Friday prayers.

The attack on members of the minority Ahmadiyya sect took place near the town of Mandi Bahauddin in Punjab.

The Ahmadiyya profess allegiance to Islam, but were declared heretical by a constitutional amendment 30 years ago.

Police official Mohammed Arif said the gunmen rode up on motorbikes before entering the mosque and opening fire.

‘Religious terrorism’

“So far we only know that three men riding on a motorcycle suddenly came in the village Friday morning. Two of them went inside the mosque and started firing,” he told the Associated Press.



When I reached the mosque, I heard cries and saw blood everywhere


Masood Ahmed Raja, eyewitness
About 150 Ahmadiyya live in Mong, a suburb of Mandi Bahauddin, 150km (94 miles) south of Islamabad.

The head of the mosque, Sadiq Hussain Sherazi, was leading prayers when he heard gunfire and “immediately threw myself on the floor”.

“The attackers thought I was dead and that is what saved me. After a while I got up and saw bodies all around me. There was blood and chaos all around and the wall was full of bullet holes.”

Masood Ahmed Raja, a doctor belonging to the Ahmadiyya sect, said he was going to a mosque when he saw three masked men escaping on a motorcycle.

“I had no idea who these men were, but when I reached the mosque, I heard cries and saw blood everywhere,” he said.

“I don’t know who attacked our mosque, but it seems to be an act of religious terrorism.”

Persecution

Interior Minister Aftab Sherpao said: “We condemn this attack. Any act of violence in which innocent people are killed should be condemned.”


Shahbaz Bhatti, head of the All Pakistan Minorities Alliance, also condemned the killings, but said the government had failed to protect minorities.

Human rights groups have constantly highlighted the persecution suffered by the Ahmadiyya in Pakistan.

In August, authorities closed down the offices of 16 publications run by followers of the sect in Punjab city for “propagation of offensive material.”

Bangladesh has also banned publications by the Ahmadiyya movement amid demands from Islamic hardliners that it be declared non-Muslim.

The Ahmadiyya were declared non-Muslims under the Pakistani constitution in 1974.

The sect was founded by Hadhrat Mirza Ghulam [Ahmad], who was born in the town of Qadian in Punjab in 1835.

The Ahmadiyya believe he was the Imam Mahdi, or the Promised Messiah.

Sectarian violence in Pakistan mostly concerns the rift between the majority Sunnis and minority Shia and has claimed around 4,000 lives in the past decade.


URL : http://news.bbc.co.uk/2/hi/south_asia/4317998.stm



Gunmen slay Pakistani worshippers

Friday 07 October 2005, 9:53 Makka Time, 6:53 GMT

Three gunmen on motorcycles have attacked worshippers belonging to a small religious sect in eastern Pakistan, killing at least eight people and wounding 20 others, police say.

The Friday attack on a building used by the Ahmadiyya sect happened in the village of Mong, about 400km northeast of Multan, a main city in the eastern Punjab province, said Mohammed Arif, an area police officer.

The attack came after a dawn prayer on the second day of Ramadan.

“So far we only know that three men riding on a motorcycle suddenly came in the village on Friday morning. Two of them went inside the mosque and started firing,” he said.

“It was a scene of carnage. The floor of the one-room mosque was littered with blood,” said Mohammad Sajid, who lives nearby. He said 25 people were praying when the attack happened at around 4.45am (2345 GMT).

“We condemn this attack,” Information Minister Sheikh Rashid said.

Religious divisions

The Ahmadiyya sect was founded in 1889 by Mirza Ghulam Ahmad, a 19th-century Indian religious leader who claimed to be a prophet seeking Islam’s renewal. The religious group differs from Muslims over the definition of Islam’s founder Mohammad being the final prophet.

Sunni Muslim Pakistan passed a law in 1970s forbidding Ahmadiyyas from calling themselves Muslims.

Religious violence in Pakistan has claimed 4000 lives in the past decade, mainly through bomb blasts and targeted killings.

No one has yet claimed responsibility for the attack.

URL : http://english.aljazeera.net/NR/exeres/B7309BFF-51B0-4A0B-AE8C-C748FBEDD970.htm



WORLD
Gunmen kill 8 at Pakistani prayers
From CNN’s Syed Mohsin Naqvi
Friday, October 7, 2005 Posted: 0643 GMT (1443 HKT)

LAHORE, Pakistan (CNN) — At least eight people were killed and 18 others injured when a group of men opened fire at a “Qadiani Sect” prayer gathering in Mandi Bahuddin, Pakistan, police said.

In addition, local police said some Qadianis were praying in a house in Mong Town when two motorcyclists opened fire on them on Friday.

The injured people were taken to a hospital, and police have cordoned off the area.

In the late seventies, Qadianis were declared non-Muslims in the Pakistani constitution, and have all the rights of non-Muslims in Pakistan.

The attack occurred on the second day of the Muslim fasting month of Ramadan.

Mandi Bahuddin is about 100 miles (160 kilometers) south of Islamabad.

URL : http://edition.cnn.com/2005/WORLD/asiapcf/10/07/pakistan.violence/



October 7 2005
Friday
Ramazan 2, 1426

Eight dead in Pakistan mosque attack ISLAMABAD, Oct 7 (AFP) - Masked gunmen with Kalashnikov rifles stormed into a mosque belonging to a minority Muslim sect in Pakistan Friday, shooting dead eight people and wounding 14, interior minister Aftab Sherpao and police said. Members of the Ahmadi community offering morning prayers in Mong, a suburb of Mandi Bahauddin town, 100 kilometres south of Islamabad, were attacked by three men on a motorbike and two on foot, reports said. “The floor of the one-room mosque was littered with blood,” said Mohammad Sajid, who lives nearby. He said around 25 people were praying when the attack was made at around 4:45 am (2345 GMT).“Two masked men entered the mosque and sprayed bullets at people standing in two rows for morning prayers,” area police chief Ziaullah Niazi told AFP. “One witness said he could hear the sound of a motorbike with its engine running outside throughout the attack.” Police said one of the injured was in a critical condition.(Updated @ 12:30 PST First posted 10:15 PST)

URL : http://www.dawn.com/2005/10/07/welcome.htm



Friday October 07, 2005 — Ramazan 02, 1426 A.H.
Mandi Bahauddin toll climbs to 8
(Updated at 1030 PST)
MANDI BAHAUDDIN: The toll of Mnadi Bahauddin incident climbed to 8 whereas 13 people were injured in the incident.

The deceased included two real brothers Raja Muhammad Ashraf, Raja Abid and their other family members Raja Muhammad Altaf, Raja Abdul Majeed and Raja Lahrasab.

Names of those received injuries in the incident are Capt Ayub, Muhammad Sajid, Muhammad Adnan, Shariq Ahmad, Zameer, Umair, Farooq, Farooq Ahmad, Irfan, Ashraf, Mahmood Shah, Ashraf, Mahmood Waheed, Abid and Hareer.

Bodies and injured were rushed to hospitals in Kharian and Lahore.

District police sources said that no one claimed responsibility of the attack and search for culprits underway.

Security has beefed up at religious places country wide following the incident. Strict security measures also directed for Jummah prayer congregations.



Six killed in Mandi Bahauddin firing
(Updated at 0810 PST)
LAHORE: At least six persons were killed and 15 others wounded in Mandi Bahauddin here, police said Friday.

Police said some Qadianis were praying in a house in Mong Town when two motorcyclists opened firing leaving six dead and 15 seriously wounded.

The injured persons were rushed to hospital. Police have cordoned the area.

URL : http://www.jang.com.pk/thenews/oct2005-daily/07-10-2005/main/update.shtml#06



http://www.wedding.keywordblogger.net/?sub=full&pid=212047
Turmoil in Pakistan

Our insensitive jerk from Pakistan is still paralysed over dealing with religious extremism in the country. When the fuck is he going to pull his head out of the sand? Eight died and over 20 injured when gunmen opened fire as worshippers from the Ahmadiyya sect in Punjab state. Interior Minister Aftab Sherpao said: “We condemn this attack. Any act of violence in which innocent people are killed should be condemned.” Shahbaz Bhatti, head of the All Pakistan Minorities Alliance, also condemned the killings, but said the government had failed to protect minorities. In Pak, this doesn’t happen just to Ahmadiyyas , but also frequently to the Shias . Pakistan also had its first gay marriage , but its unlikely to open a flood of others. On hearing of the wedding, a tribal council told the pair to leave the area or be killed for breaking religious and tribal “values and ethics”. I’m more worried about the fact that the old man was buying the young kid. Hmmmm…



http://komiek.blog.com/352489/
October 07, 2005
my blood is just as red as yours...
Eight dead, twenty injured in religious sect attack in Pakistan

3 masked men opened fire in a mosque near the town of Mandi Bahauddin in Punjab, Pakistan killing eight and injuring 20 more. The dead and injured belonged to a Muslim sect called Ahmadiyyat. In 1974, the Pakistani government declared them heretical.

The group arrived on motorcycles, entered the mosque and fired away during Friday morning prayers (Friday is the Muslim holy day). The Ahmadiyya have been targeted by Muslim sects throughout the world because of their beliefs.

From Punjab to Bangladesh the Ahmadi's are being accused of "propagation of offensive material". Human rights groups have repeatedly tried to shed light to the problem, but the Pakistan government refuses to protect the minority community.



http://asmamirza.blogspot.com/2005/10/depressing-incident.html
Saturday, October 08, 2005
A Depressing Incident!
Assalam-o-alaykum w.w!

A very sad incident happened in a village of my Pakistan … a real painful incident …! After Sahri time, when people gathered in a mosque to offer Fajr prayers … few people came and opened up fire, that caused eight shahadats and 20 people were injured.

The people who gave their lives belonged to Ahmadiyya Muslim community … they were offering second rak’at of Fajr prayers … when Allah blessed them with shahadat. This happened in a small village in Mandi Bahuddin (near Sargodha) in Pakistan.

I don’t have any words to express the pain … the first thing that came to my mind was the مخالفین who did this act … were they fasting? If yes, what was the neeyat they did after sahri?

It's a repetition, in 2000 and 2001 same incidents happened, martyring many in Ahmadiyya Mosques during and after the prayers were being offered.



http://clarityandresolve.com/archives/2005/10/you_are_not_the.php
October 07, 2005
You Are Not the Right Kind of Muslims, You Must Die

Once again we see how tolerant the death cult is to any deviation from its violent jihad norms: 8 Killed, 19 Wounded at Pakistan Mosque

MONG, Pakistan - Armed assailants opened fire inside a mosque belonging to a small Muslim sect in eastern Pakistan early Friday, killing eight people and wounding 19 others, police and a doctor said.

The attack on the mosque belonging to the Ahmadiyya sect, a frequent target of persecution, happened in the village of Mong, 150 miles southeast of the capital, Islamabad.

"So far we only know that three men riding on a motorcycle suddenly came in the village Friday morning. Two of them went inside the mosque and started firing," said Mohammed Arif, a police official. ...

Masood Ahmed Raja, a cardiologist who belongs to the sect, said he was going to the Baitul Hamad mosque when he saw three masked men fleeing on a motorcycle.

"I had no idea who these men were, but when I reached the mosque, I heard cries and saw blood everywhere," he said. "I don't know who attacked our mosque, but it seems to be an act of religious terrorism."

Yup. It was an act of pious Islamic holy war against the infidels/apostates, as prescribed in the Quran and sunna—an act that the Ahmadiyya Muslim community have forsaken since their inception, more than one hundred years ago. They actually have transformed Islam into a religion of peace, and as this horrific incident makes clear, they are a despised and persecuted minority.

Sadiq Ahmed Sherazi, who was leading prayer at the time, said one bullet missed his head and hit the wall.

"All of a sudden, (the attackers) opened fire and the shooting went on for five minutes and nobody could get out," he said, adding "then it went quiet and all we could hear was the sound of people crying."

Mumtaz Ali Khan, a 55-year-old injured man at a government hospital, said he was praying inside the mosque when he heard firing and saw people falling down.

"Then I fell down and found myself in the hospital when I opened my eyes," he said.

Nightmarish scenes like this illustrate why it is so very critical for infidels to throw their support behind civil, progressive Muslim groups like the Ahmadiyya. Without our help, they are doomed to such intolerance and violence from the mainstream Islamic community.

Posted by Patrick at October 7, 2005 12:06 PM



http://www.livejournal.com/community/nikkinewsnet/374269.html

This is NNN - Eight die in Pakistan Muslim sect attack
The Nikki News Network

01:27 pm October 7th, 2005
nikkinewsnet
delerium69

Eight die in Pakistan Muslim sect attack

At least eight people were killed and 20 injured when gunmen opened fire in a mosque as worshippers gathered for Friday prayers. The attack on members of the minority Ahmadiyya sect - often persecuted according to human rights groups - took place near the town of Mandi Bahauddin in Punjab.

Current Mood: melancholy



http://birpletok.blogspot.com/2005/10/agama-konflik.html
Wednesday, October 05, 2005
Agama & Konflik

Jakarta suatu malam, udara menyesakkan pori-pori, namun mata saya belum mau lelah mengikuti alur kronologispertikaian antara Ahmadiyah di satu sisi dan sebuah Majelis di sisi lainnya. Mirip adegan tinju di, dua-dua petinju sedang ada di pojok ring, konsolidasi untuk babak konflik selanjutnya. Konflik berkelidan, belum mencapai titik temu, belum mencapai

sepakat untuk tidak sepakat. Yang satunya memegang kuasa-yang juga abstrak-dan yang satunya makin merasa keras bahwa keyakinannya layak untuk hidup dan berkembang.


tema konflik dengan mengusung panji-panji agama, kepercayaan, keyakinan dan segala sesuatu yang subtil masih terus berulang di melinium ini, dengan beragam variansi dan anasirnya terus bergerak dengan ragam ekspresinya, membentuk valensi yang terus berubah-ubah sebagai sebuah kekuatan. suatu kali ia bersifat X ketika pemeluknya ditindas, kali lain akan berubah menjadi Y ketika pemeluknya menindas.

Bayangkan saja tuan penganut muslim di palestina dan hidup serta berbagi nafas dengan pemeluk yahudi di jalur gaza, atau cobalah anda menjadi penganut kristen anglikan di tengah-tengah belfast, irlandia utara yang mayoritas katolik. mayoritas melambangkan kuasa, sedang minoritas atas nama jumlah, atas nama keinginan untuk sekedar eksis, dihargai, mendapat senyum dan sapa tiap sore hari. Di pojok-pojok dunia yang makin renta ini, kita bisa menyaksikan tema konflik.

Bayangkan anda jadi muslim di sebuah kota kecil di Bosnia Timur, bersentuhan langsung dengan serbia dan kroasia. di pinggiran sungai Drina yang mengalir deras. Bayangkan anda di musim semi di tahun 1992, pohon-pohon menghijau, tapi anda ketakutan. Milisi-milisi Serbia menguasai kota, penduduk muslim seperti anda dilarang keluar, lalu penangkapan dimulai, dalam hitungan hari, anda digiring ke sebuah kamp, berbaris satu-satu, lalu anda lihat mesjid tempat anda shalat jum'at berjamaah beberapa pekan sebelumnya, di atas permadani hijau dengan motif kembang jingga dan merah bergantian. namun ketika anda berbaris, mendadak ledakan besar menyebabkan mesjid itu rata dengan tanah, beberapa orang milisi telah meletakkan dinamit dan dalam satu kali ledakan, mesjid itu hilang dari tatapan anda, luluh lantak.

Sejarah mencatat, di kota-kota seperti Foca, Srebenika, di pelosok Bosnia sepanjang tahun 1992 hingga 1993, kekejaman berlanjut, perempuan-perempuan diperkosa secara nista, laki-laki dibantai, harta benda digusur, orang-orang muslim masuk ke kamp konsentrasi, persis seperti Nazi menggiring orang Yahudi di wilayah yang sama di perang dunia. Atau persis seperti Nazi menggiring partisan anak buah Broz Tito yang tertangkap di perang dunia ke II.

Di 2005 ini, Jakarta yang panas mencatat, penganut Ahmadiyah menyakini Ghulam Ahmad menerima wahyu, dan status kenabian Ghulam masih berlangsung. Pemeluk Islam lainnya juga wajar menganggap bahwa keyakinan Ahmadiyah itu dipandang merusak akidah dan menyimpang dari Islam.Beda paham antar-pemeluk beda agam, sesama pemeluk Islam, bahkan di antara sebuah organisasi Islam semakin tajam di tengah arus deras globalisasi. Penyelesaian sengketa keagamaan lebih mirip pertandingan tinju tanpa wasit, tanpa akhir. Cenderung diselesaikan dengan aksi pengerahan massa disertai kekerasan. Seolah Islam hanya bisa hadir dengan teror dan kekerasan.

Keyakinan Islam sebagai ajaran yang sempurna dan tunggal sering menempatkan sebagian umatnya sebagai Tangan Tuhan yang hendak menghakimi siapa saja yang berbeda, jika perlu dengan kekerasan, amuk. Pemeluk islam - agama yang santun dan damai - tampaknya mesti berdamai dengan pemeluk Islam lainnya.

Toleransi keagamaan bagi kemuliaan kemanusiaan, bukan untuk mengubah keyakinan, semakin penting untuk dikembangkan. Tuhan sendiri berfirman, jika Dia berkehendak, maka seluruh manusia akan memeluk satu agam dengan paham yang seragam. Tapi Dia biarkan semua berlangsung alami untuk menguji siapa yang terbaik.

Namun apa artinya? bukankah mabuk kemenangan hanya akan bisa dinikmati dalam beberapa bulan saja? teror dibalas dengan teror, dan atas nama agama.

Apa yang menjadi fanatik bagi sebagian orang bersenjata akhirnya mengarah pada kesia-siaan. Yang tersisa; kehancuran peninggalan sejarah, kampung halaman porak poranda, relasi kekerabatan sekejap hilang.

Tema itulah yang tampaknya selalu berulang dalam lintasan sejarah peradaban manusia, dengan segala variasinya. Pelbagai anasir agama, apa pun ekspresinya membentuk valensi yang berubah-ubah sebagai sebuah kekuatan. Ia bersifat "X" ketika pemeluknya ditindas, dan ia bersifat "Y" ketika pemeluknya menindas.

Seorang penyair Inggris, bertanya kepada seekor harimau, "Did he who made the lamb make thee?"-adakah ia yang menciptakan domba juga menciptakanmu?

Di sini, Tuhan selamanya ditafsirkan. Kita tak pernah berhubungan langsung dengan Dia. Dalam sajak Blake yang penuh pertanyaan itu, Tuhan dapat dibayangkan sebagai kemahakuasaan membuat domba yang lemah tapi selamat, tapi juga membuat sang macan penguasa hutan juga tampil gagah.

Agama, di tangan yang berkuasa dan pemeluk yang kuat, dengan gampang membuka godaan untuk memilih Tuhan yang mencipta si raja hutan; Tuhan yang menghadirkan kekuasaan, kecurigaan dan kekerasan sebagai anasir kelebihan Makhluk-Nya.

Namun, penulis menilai, di balik godaan untuk tampil berkuasa, kuat, dengan kekerasan bila perlu, bahwa di situ ada keyakinan yang cemas. Tuhan dibayangkan sebagai kuasa yang penuh amarah dan cemburu, mereka merasakan ada lubang yang masih menganga dalam hidup. Seorang "Pembela Tuhan" merasa mendapat mandat dan kehendak dari Dia tentu menginginkan muka bumi yang bersih dari apa saja yang najis, mencong, ataupun kotor. Mereka siap, apabila ada yang mengganggu sabda-Nya, untuk membuat manusia yang najis, mencong tadi disingkirkan, mesjid didinamit, gereja dibakar dan kuil diruntuhkan. Di setiap lintasan sejarah agama, hal itu terjadi. Tapi akhirnya selalu terbukti, gerak kehidupan selalu lebih rumit, lebih sulit ketimbang jalan yang lurus, hidup manusia ibarat lubuk yang kedap cahaya - bahkan jika cahaya itu datang dari iman yang kuat.

Semakin jauh yang mencong itu, semakin besar lubang kekurangan yang menganga itu, semakin besar nafsu untuk meluruskan jalan manusia, dan kita pun mendadak lupa bahwa ajaran agama manapun tak pernah menyimpan asumsi yang suci sama dengan yang lempang dan terang. "Cahaya" yang muncul di kitab suci melalui penafsiran sering muncul sebagai "cahaya" yang menyentuh, mempesona, menyebabkan kita tergetar, bukan cahaya yang seperti neon dengan sinar yang mereduksi bayang-bayang.

Sebuah sajak Amir Hamzah tepat menggambarkan Cahaya Tuhan sebagai "kerlip lilin di kelam sunyi", sinar yang sabar, setia, selalu, dan tak mantap. Cahaya yang suci juga misterius sebagai sesuatu yang tak dapat diuraikan, dibuktikan atau diargumentasikan. Yang suci bukanlah tempat memperoleh klasifikasi tentang hal-ihwal yang hidup. Agama apa pun mengandung pengakuan yang mendasar kepada enigma nasib, kelahiran, dan kematian - dan sebab itulah agama bisa menumbuhkan kerendahan hati.

Pemeluk ahmadiyah sendiri perlu bercermin dan lebih terbuka mengkomunikasikan pandangan atas wahyu dan kenabian, termasuk makna Al-Mahdi. Para pihak yang memandang Ahmadiyah sesat dan mencong perlu melakukan tabbayyun (klarifikasi) melalui dialog guna menemukan titik kesepahaman. Kesediaan melakukan dialog secara terbuka itu akhirnya semakin penting, tak terhindarkan untuk menemukan yang terbaik bagi kemanusiaan, sehingga Islam benar-benar memberi rahmat bagi seluruh umat manusia.

Bayangkanlah lagi, kita sebagai umat yang terpojok, di pihak yang terancam dan tak bisa lagi berharap. Kitka akan terdesak dan bertanya, apa gerangan Kehendak-Nya, dan kita tahu bahwa kita tak tahu. Satu hal yang pasti: dalam keadaan yang celaka itu, kita tak mungkin mengatakan "akulah kehendak itu". Kita tak hendak menjadikan diri kita pengganti-Nya. Di titik ini, satu hal menunjukkan: tak adanya ketakaburan itu menyebabkan agama bisa dipeluk dengan kuat karena rela.

posted by birpletok at 7:07 PM

Thursday, October 06, 2005

Mematahkan Mitos Tukak Lambung (Artikel Kompas Agnes aristiarini)

Foto: www.gihealth.com/newsletter/32/marshall.jpg pada situs http://www.gihealth.com/newsletter/previous/032.html

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/06/Sosok/2106516.htm
KOMPAS--Sosok || Kamis, 06 Oktober 2005

Mematahkan Mitos Tukak Lambung
Agnes Aristiarini

Siapa pun akan sulit meyakinkan adanya kebenaran baru, kalau kebenaran yang lama dikukuhi kelompok mayoritas. Sejarah mencatat Galileo Galilei, yang hidupnya berakhir dengan hukuman mati karena ia percaya justru Bumilah yang mengelilingi Matahari, bukan Matahari mengelilingi Bumi dalam dogma yang diwariskan berabad-abad.

Dalam kehidupan modern, Barry Marshall dan Robin Warren harus bekerja keras bertahun-tahun untuk membuktikan bahwa tukak lambung bukan disebabkan oleh stres, bukan pula oleh makanan yang pedas berbumbu.

Mitos itu bertahan lama di dunia kedokteran sehingga saat-saat mereka mempresentasikan temuan awal tentang kaitan tukak lambung dengan bakteri, tak ada yang percaya. �Saya seperti bicara dengan bahasa planet,� kata Robin Warren, seperti dikutip kantor berita AFP.

Dicap eksentrik dan sering jadi tertawaan para koleganya, Marshall nekat meminum larutan bakteri yang dipercayanya sebagai penyebab utama gangguan di perut itu untuk membuktikan hipotesisnya.

Apa yang dialami Marshall dan Warren memang tak sedramatis Galileo, bahkan lebih dari 20 tahun kemudian temuan keduanya mendapat penghargaan Nobel Kedokteran 2005.

Namun, mereka mengikuti Galileo untuk berpikiran terbuka terhadap kebenaran baru dan penuh ketabahan saat berupaya membuktikannya.

Tahun 1982

Temuan keduanya berawal tahun 1982, ketika Warren ahli patologi kelahiran Adelaide, Australia, 11 Juni 1937 tengah memeriksa biopsi tukak lambung. Ia melihat sampel-sampel yang menunjukkan pembengkakan dan luka-luka itu dipenuhi bakteri berbentuk tongkat ketika diamati di mikroskop.

Maka, Warren pun mengajak Marshall, saat itu sedang mengambil spesialisasi penyakit dalam, untuk menginvestigasi bakteri ini bersama.

Dengan kesabaran dan kehati-hatian, akhirnya mereka berhasil mengisolasi dan menumbuhkan bakteri itu, yang kemudian disebut sebagai Helicobacter pylori. Bakteri ini muncul pada hampir semua pasien yang terkena gastritis atau pembengkakan pada permukaan lambung, usus halus, maupun luka (tukak) pada lambung.

Namun, keduanya tidak punya bukti akhir yang menunjukkan bahwa H pylori-lah sumber segala masalah. Percobaan pada binatang di laboratorium tidak memberi hasil memuaskan.

Putus asa mencari bukti ilmiah, Marshall dan seorang sukarelawan akhirnya menguji coba pada tubuhnya sendiri. Habis minum larutan bakteri pylori, mereka jatuh sakit tiga hari. Sesuai hipotesis, mereka sembuh setelah minum antibiotik.

Kalau saat itu sempat berpikir panjang, mungkin saya tak berani melakukannya, kata Marshall dalam jumpa pers yang dipublikasikan Reuters.

Hasil pemeriksaan endoskopi Marshall dan sukarelawan itu membuktikan adanya gastritis di lambung. Walau pada keduanya tak ditemukan tukak, momentum telah terbentuk.

Peneliti lain berhasil mengonfirmasi penelitian Warren dan Marshall dengan mengulturkan bakteri dari tukak lambung pasien. Kemudian korelasi pylori dengan tukak lambung terbukti lewat berbagai penelitian epidemiologis.

Terobosan pengobatan

Penelitian Warren dan Marshall membuka cakrawala pengobatan baru. Setelah terbukti bahwa lebih dari 90 persen tukak di usus halus dan 80 persen tukak lambung disebabkan oleh H pylori, metode pengobatan pun dikembangkan.

Sekarang ada berbagai metode diagnostik tukak lambung, mulai dari uji serologi darah untuk melihat antibodi terhadap bakteri ini, uji sampel biopsi lewat endoskopi, sampai uji urea dalam pernapasan.

Pengobatannya pun berbalik jadi murah: cukup dengan antibiotik. Padahal, sebelumnya masalah diselesaikan dengan operasi pemotongan bagian yang luka, yang sering kali berakhir dengan kematian penderitanya.

Terima kasih atas rintisan Warren dan Marshall. Mereka sudah membuat tukak lambung bukan lagi penyakit kronik yang membuat penderitanya tak mampu beraktivitas, melainkan penyakit biasa yang sembuh dengan pengobatan antibiotik sederhana dan penghambat sekresi asam, kata Panitia Nobel saat pengumuman pemenang di Stockholm, Swedia, Selasa (4/10).

Temuan keduanya menolong jutaan orang di seluruh dunia karena H pylori bisa ditemukan pada 50 persen umat manusia. Bahkan di negara miskin, di mana setiap orang berisiko terpapar bakteri karena higiene dan sanitasi kurang, hampir seluruh populasi mungkin terinfeksi.

Masyarakat Indonesia pun termasuk yang diuntungkan dengan pengobatan murah dan mudah ini. Soalnya, seperti yang pernah diperkirakan guru besar gastroenterologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr dr Daldiyono H, 40 persen dari 200 juta penduduk Indonesia terinfeksi H pylori.

Memang yang berkembang menjadi tukak hanya 0,5 persen dan kanker 0,01 persen, namun perubahan rezim pengobatan itu tetaplah bermakna.

Ilmuwan Australia

Bagi bangsa Australia, ini adalah penghargaan Nobel Kedokteran pertama yang diterima. Tidaklah mengherankan bila Perdana Menteri Australia John Howard ikut bangga berkomentar, Ini sekadar mengingatkan, betapa kuatnya perkembangan Australia dalam ilmu dan riset kedokteran. Kini semua mata akan memandang pada pencapaian besar kita.

Warren yang sudah pensiun masih mengajar beberapa hari dalam seminggu. Ia juga sibuk menginspirasi para peneliti muda untuk mendalami riset dengan sepenuh hati.

Adapun Marshall, yang lahir tahun 1951 di Kalgoorlie, kini menangani laboratorium biologi molekuler di Perth. Ia masih berkutat dengan dampak pylori pada manusia dan binatang.

Bedanya, sekarang saya meneliti secara molekuler, mencoba membuat kloningnya, mencari vaksin yang tepat, dan sejenisnya. Kalau cuma mau meneliti tukak lambung, Anda tidak bisa lagi melakukannya di Australia karena tukak lambung setiap penduduk Australia sudah berhasil disembuhkan.[]

------oooOooo-------

Cerpen: KIRIMI AKU MAKANAN

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/02/seni/2089977.htm

CERPEN: Kirimi Aku Makanan
Oleh: GM Sudarta

Aku lupa, kapan aku kenal temanku yang satu ini. Namanya Roni. Dengan tiba-tiba aku sangat akrab dengannya. Semula pada suatu sore dia datang, tanpa mengenalkan diri, dia mengucapkan salam dengan menyebut nama panggilan akrabku: Mas Sudar. Dan kami langsung ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia gaib. Soal tuyul, genderuwo, jin, sampai segala macam pesugihan. Seakan dia sudah tahu benar bahwa aku paling suka cerita-cerita begituan sampai paling getol nonton televisi yang menayangkan tentang dunia hantu dan alam gaib.

Di kompleks rumah Mas Sudar ini ada yang pelihara tuyul lho,” katanya.

”Ah yang benar!” sahutku.

”Benar! Mas Sudar kerap kali kehilangan uang kan?”

Memang benar. Aku kerap dan bahkan sangat kerap kehilangan uang. Uang ”laki-laki” yang aku simpan di tas kerjaku kerap berkurang. Tapi aku tak menyangka itu pekerjaan tuyul, paling-paling kerjaan istriku yang tahu nomor kode kunci tas kerjaku. Karena dia pun suka ngerjain kartu ATM saya.

”Kok tahu?” tanyaku tertawa.

Kemudian dengan serius dia mengatakan bahwa pekerjaannya adalah sebagai mediator untuk orang-orang yang perlu bantuan untuk bisa memelihara tuyul, genderuwo atau jin.

”Di kota ini sudah banyak pengusaha toko sepeda motor, mobil, atau restoran yang memerlukan penjaga usahanya dengan memelihara makhluk seperti itu berkat bantuan saya. Bahkan beberapa pejabat negara pun minta dicarikan jin.”

Saya terdiam bengong.

”Betul kok Mas, saya biasa melihat siapa saja yang memelihara tuyul atau sebangsanya. Kalau Mas Sudar mau bisa saya carikan.”

”Ah musyrik,” jawabku. ”Anda sendiri gimana. Berprofesi makelar tuyul, apa tidak dosa?”

”Ah ya tidak. Wong saya hanya perantara. Meskipun saya mendapat bayaran untuk itu, aku tidak mau dibayar dengan uang sesudah dapat tuyul. Harus dengan uang sebelumnya. Dan saya sudah serahkan tanggung jawab kepada mereka, bahwa mereka akan selamanya sampai hari kiamat menjadi budak setan.”

Beberapa hari kemudian, ada peristiwa aneh di rumahku. Kami sekeluarga sedang menghitung uang belanja dan memisah-misahkan mana untuk belanja harian, mana untuk uang sekolah anak-anak, dan lain-lain. Uang kami atur menurut nilainya, lima puluhan ribu ditumpuk jadi satu, ratusan ribu dengan ratusan ribu. Dan baru sedetik istriku menaruh selembar ratusan ribu, detik itu pula raib di depan mata kami. Kami bingung mencarinya.

”Diambil tuyul kali Yah!” kata anakku.

”Tuyul?… Tuyul kepala hitam!” jawabku. Istriku merengut, rupanya tersinggung karena saya selalu menyebut diambil oleh tuyul kepala hitam, setiap uang di tas kerjaku hilang. Lebih mengherankan lagi tak lama kemudian Roni datang.

”Betul kan Mas, ada tuyul di sekitar sini,” katanya. ”Mau tahu siapa yang punya.”

Kemudian dia minta disediakan baskom berisi air. Dia minta memerhatikan air. Nanti akan terlihat siapa orangnya. Tapi sampai mata saya hampir lepas tak kulihat siapa-siapa, kecuali bayang-bayang wajahku sendiri.

”Lihat Mas. Itu orangnya. Perempuan berambut ikal. Nah itu nomor rumahnya kelihatan.”

”Saya tidak melihat apa-apa,” jawabku.

”Ah memang, perlu tirakat dan ritus tertentu untuk bisa melihat penampakan…. Nanti kalau mau saya ajari. Tapi sekarang kalau Mas Sudar melihat seorang perempuan jalan sore dengan kedua tangan di belakang, itu dia sedang menggendong tuyul. Coba nanti dari belakang kita cibiri dia, maka dia akan menoleh karena tuyulnya memberi tahu bosnya.”

Ternyata betul dengan apa yang Roni katakan. Dan sekarang saya tidak pernah lagi kehilangan uang. Mungkin tuyulnya malu karena sudah ketahuan.

Rupanya perkenalanku dengan alam gaib semakin jauh. Kami sekeluarga baru saja menikmati honor cerpenku yang telah dimuat di sebuah majalah dengan makan-makan di warung lesehan, Roni mengunjungi kami lagi di rumah.

”Cerpenmu bagus Mas,” katanya. ”Saya dengar mau bikin novel ya?”

Aku baru saja membuat cerita pendek dengan latar belakang peristiwa G30S, dengan mengumpulkan referensi dan data dari para saksi mata dan pelaku yang masih hidup.

”Harusnya Mas Sudar melengkapinya dengan menambahkan dari narasumber yang menjadi korban pembantaian!”

Ah gila. Mana mungkin, pikirku.

”Bisa lho Mas,” ujarnya. ”Mereka ini masih penasaran jadi arwah yang masih gentayangan karena merasa tidak rela akan nasibnya. Kuburan massalnya ada di daerah Luwengombo, Pandansimping, atau di Desa Tempuran. Dengan cara tertentu kita bisa menemui mereka. Dan nanti akan membuat novel Mas benar-benar hebat.”

Benar-benar gila orang ini, pikirku.

”Benar-benar biasa lho Mas! Dengan ritual tertentu kita bisa berhadapan dengan mereka di tempat mereka dibunuh. Cuma kita harus tabah dan siap mental karena mereka akan hadir dengan bentuk keadaan terakhirnya. Saya sendiri kurang berani menghadapinya. Sungguh mengerikan mereka menampakkan diri dengan kepala terbelah atau usus terburai atau tanpa kepala.”

Bulu kudukku meremang.

”Tapi kalau Mas hanya ingin mengenal dunia alam gaib mereka, ini saya beri tahu ritualnya.”

Dia menulis kelengkapan ritual dengan laku, rapal, dan amalan di atas sesobek kertas dan diberikan kepadaku.

Ya Allah, ampunilah dosa hambamu ini…! Oleh kekuatan rasa ingin tahuku, tanpa setahu istriku aku laksanakan ritual itu. Ah, ini pasti perbuatan iseng si Roni, pikirku.

Hingga pada suatu sore, sewaktu aku mengunjungi sahabat di sebuah pesantren di Desa Tempuran, agak di luar kota. Ketika melintasi jembatan sungai berpagar tembok di ujung desa, terasa bulu kudukku meremang. Di sepanjang pinggiran sungai penuh pohon pisang sehingga memberi kesan gelap. Pulangnya sehabis magrib, menjelang melintasi jembatan, tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua melambaikan tangannya ke arahku. Aku tidak tahu dari arah mana dia muncul. Kupinggirkan sepeda motorku di samping pagar jembatan.

”Monggo Pak,” sapaku. ”Kalau mau ke kota, saya boncengkan.”

”Tidak kok Nak Mas,” jawabnya lirih. ”Saya hanya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan saya kepada anak saya, supaya kerap mengirimi saya makanan.”

”Alamat anak Bapak di mana?”

Dia sebutkan sebuah nama dengan alamat jalan nomor rumah di luar kota.

”Lha, Bapak tinggal di mana?”

”Tidak jauh dari sini kok, Nak,” jawabnya sambil menunjuk searah dengan rumpun pisang. Mungkin tinggal di desa seberang sawah sana, pikirku.

Saat kunyalakan sepeda motor dan berpamitan, dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Tapi… senyum itu… ya Allah, senyuman seperti orang menahan sakit itu, telah membuatku tidak bisa tidur semalaman.

Paginya kusempatkan waktuku untuk mencari alamat anaknya. Ternyata tidak mudah. Setelah bertanya kesana-kemari, kebanyakan orang mengatakan tidak tahu, bahkan ada yang kelihatan enggan menjawab. Ataupun kalau menjawab pasti ditambah kata: oooh..., eks tapol Pulau Buru itu? Akhirnya kutemukan juga. Seorang lelaki paruh baya, air mukanya nampak bagai orang yang telah mengalami tempaan hidup yang keras, menyambut kedatanganku dengan pandangan penuh curiga.

”Dari mana Bapak tahu alamat saya, dan tujuan Bapak mencari saya?” tanyanya menyelidik. Kusampaikan kepadanya bahwa aku telah bertemu ayahnya yang tinggal di Desa Tempuran, serta kusampaikan pula pesan ayahnya. Dia tertegun beberapa saat.

”Ayah saya? Seperti apa dia?”

”Rambut sudah beruban, alis tebal, berjanggut yang sudah sebagian memutih, berbaju lurik dan memakai sarung pelekat hijau,” jawabku seingatnya.

Tiba-tiba dia benamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Katanya di sela sedu sedannya:

”Ya Allah, dalam pakaian itulah sewaktu ayah dibantai bersama orang-orang yang dianggap melakukan gerakan makar. Ternyata benar kata orang mereka telah dikubur di bantaran sungai yang kemudian ditanami pohon pisang di atasnya.”

Jantungku serasa berhenti berdetak!

(Belakangan aku sarankan kepadanya untuk mengirim doa kepada ayahnya setiap kali dia shalat. Mungkin itu yang dipesankan ayahnya untuk dikirimi makanan. Dan selama ini aku tidak lagi berjumpa dengan Roni, kabarnya dia telah menjadi salah satu penasihat spiritual pejabat tinggi di Jakarta.)

Klaten 2004

Catatan:

Ngalor-ngidul: Utara Selatan, tak terarah

Laku: Melakukan ritual fisik, seperti puasa, tidak tidur malam, dsb.

Rapal: Mantra

Amalan: Bacaan Doa

Monggo: Mari, silakan

Jim Supangkat: Kita Belum Mati (Artikel: Putu Fajar Arcana)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/02/persona/2094122.htm
KOMPAS--Persona | Minggu, 02 Oktober 2005

Jim Supangkat: Kita Belum Mati
Oleh Putu Fajar Arcana

Jim Supangkat (57), orang yang selalu penuh semangat dan begitu mendalam mengupas konsepsi-konsepsi seni rupa, tiba-tiba mengaku kehilangan spirit. Suaranya memang masih berat, tetapi mengandung keputusasaan tiada tara. Awal pekan ini, ia meluncurkan satu pernyataan yang benar-benar ”menyambar” langit seni rupa Indonesia. CP Biennale yang ia gagas bersama beberapa maecenas dan didanai oleh badan-badan internasional sejak tahun 2003 tidak akan lagi diselenggarakan di masa mendatang.

Bahkan, pameran CP Biennale 2005 yang berlangsung pada 5 September- 5 Oktober 2005 di Museum Bank Indonesia Jakarta kemungkinan besar akan ditutup sebelum waktunya berakhir. Banyak yang beranggapan Jim mutung. Harusnya ia melakukan langkah dialog dengan pihak yang memprotes keberadaan karya perupa Agus Suwage dan Davy Linggar sebelum memutuskan menutup ruang di mana karya itu dipajang.

Pekan lalu memang sejumlah massa mendatangi pameran sebagai bentuk protes terhadap karya Agus dan Davy yang dicap mengumbar pornografi dan karenanya bertentangan dengan kaidah-kaidah agama. Sebelumnya, berita tentang pornografi itu di-blow-up sedemikian rupa di media massa (utamanya yang menamakan diri infotainment) sehingga dalam sekejap memancing reaksi massa.

”Selain hanya memunculkan ketelanjangan, yang lebih membuat sakit hati ada manipulasi fakta, seolah-olah figur yang ada telanjang bulat,” kata Jim Supangkat dalam temu pers, Selasa (27/9) di Jakarta.

CP Biennale 2005 dengan tajuk Urban/Culture, menurut Jim, disiapkan selama dua tahun dan dibiayai oleh badan-badan internasional. ”Saya tak mungkin cari sensasi murahan dengan mengekspose kelamin,” tambah Jim.

Banyak yang bilang Anda takut dan mutung?

Apa saya tak diperbolehkan untuk takut. Di sini ada 20 karya seniman asing dan gedung museum yang didirikan tahun 1828, siapa yang jamin tak ada perusakan. Memang ada jaminan dari polisi dan pimpinan pemrotes, tapi saya tetap tak yakin....

Protes ini tampaknya membuktikan premis Anda tentang clash of civilization itu. Benar?

Saya kira ya. Clash of civilization itu jadi kenyataan. Kalau saya pengamat, pasti akan bilang pameran ini berhasil. Tapi karena saya penyelenggara, ya boleh dibilang gagal. Spirit saya padam untuk terus bekerja. Kita berharap saja pemerintah yang ambil inisiatif untuk teruskan biennale ini.

Anda sepertinya termasuk kurator yang paling percaya terhadap peran seni dalam kehidupan sosial?

Saya pikir ini teoritis, dalam arti saya sendiri berpendapat bahwa kesenian dan kebudayaan itu adalah ruang antara. Dia tidak terlihat, tetapi sebenarnya dia menyatukan. Di sana tak ada fungsi praktis. Nah, di ruang antara itulah etika dipikirkan. Bukan mereka menjadi orang- orang yang lebih etis.... Dan saya kira etika adalah dasar-dasar pemikiran intelektual.

Intelektual yang saya maksud, bukan intelektual pintar, tetapi intelektual yang berarti orang- orang yang tidak terikat pada suatu lembaga pun dan berpikir bebas. Dan karena itu ia bisa mengkritik. Tetapi, dasar dari kritiknya itu adalah etika. Dia mengkritik bangsa Indonesia karena dia cinta. Jadi, etika itu semacam itu. Saya kira fungsi kesenian dan pemikiran tentang kebudayaan ada di situ.

Karena itukah kemudian CP Biennale 2005 ini diberi tajuk Urban/Culture. Anda ingin melihat sejauh mana keterlibatan para seniman/pemikir kita pada masalah-masalah di sekitar mereka?

Sebagian besar menampakkan refleksi mereka, menampilkan urban. Jadi, mereka tampilkan ikon-ikon urban, seperti blue jeans dan industri. Kalau diperhatikan satu per satu masih terselip rural-nya, tradisinya. Jadi Adidas yang dipasang di sini sangat bisa dibedakan dengan Adidas yang di Shanghai atau New York.

Jadi, pemahaman urban pada masyarakat kita sangat dekat dengan pembicaraan keadilan. Mereka sangat concern terhadap masalah-masalah masyarakat, terutama kemiskinan.

Kurator independen

Sekitar tahun 1990 Jim Supangkat memutuskan sepenuhnya hidup menjadi kurator. Ia bahkan mengundurkan diri dari sebuah penerbitan yang cukup mapan. Keputusan ini sangat tidak populer. Karena di masa itu belum dikenal istilah kurator independen. ”Semua orang mengkhawatirkan saya tidak akan bisa hidup. Saya sendiri tidak tahu bagaimana bisa hidup...,” tutur Jim Supangkat.

Jim kemudian berkelana sebagai co-curator di berbagai biennale yang diselenggarakan di Jepang, Australia, Belanda, serta kemudian Amerika Serikat. Jim mengaku sangat berutang budi kepada Jepang. Ia pernah berkeliling negeri itu atas jasa Japan Foundation untuk belajar kepada kurator-kurator setempat.

Ada apa sebenarnya tahun 1990-an itu sehingga Anda berani memilih ”profesi” kurator dalam pengertian sekarang ini?

Saya lihat tahun itu ada perubahan-perubahan besar di dunia internasional. Segera saya lihat peluang untuk ngomong.... (Selain) karena saya sadar kita tak punya profesi kurator, dengan alasan-alasan etis saya berhenti berkarya (di seni). Sampai sekarang kalau ditanya, lebih enak jadi kurator atau seniman, saya pikir lebih enak jadi seniman.

Kurator itu bebannya macam- macam. Dan kurator di sini berbeda dengan kurator profesional di luar negeri. Di luar negeri mereka kan hanya menyeleksi seniman kemudian membuat pameran. Kurator di sini, komitmen dasarnya tak hanya fokus ke masalah kesenian, tetapi harus ada kerinduan pada fungsi seni rupa dalam kondisi yang lebih besar.

Maksudnya?

Pameran harus memiliki political impact. Bukan politik praktis, tetapi sebuah pameran harus political. Jadi, kalau sebuah pameran tidak mendapat perhatian, berarti gagal. Saya selalu bilang kepada kurator-kurator yang (bekerja dengan saya) bahwa saya tak mau dengar alasan publiknya yang tidak mengerti pameran. Itu omong kosong. Karena itu, presentasi pameran menjadi sangat penting. Harus ada curatorial introduction. Dulu kan tidak ada, orang disuruh masuk saja lihat pameran tanpa penjelasan.

Banyak yang mengira kerja kuratorial itu cuma menyusun karya-karya, apa begitu?

Menyusun pameran itu seperti menyusun sebuah (pementasan) teater, ada urutan-urutan dan hubungan-hubungan. Bahwa kanvas (kita) itu adalah pameran. Berbeda dengan seniman yang bermain dengan pikirannya sendiri. Sebagai kurator tidak ada pilihan lain selain harus berhadapan dengan publik. Jadi, jangan membuat kurasi untuk kepuasan sendiri.

Apa pendapat Anda tentang seni yang sekarang kayaknya cenderung diperlakukan sebagai komoditas? Apa itu masuk gejala urban juga?

Itu gejala urban yang kita kritik. Saya kira memang terjadi pembelokan dan itu tidak hanya di Indonesia. Istilah komodifikasi karya seni rupa pertama kali digunakan oleh kritikus-kritikus New York. Itu dramatis sekali. Komodifikasi itu membuat karya Van Gogh bisa laku sampai 100 juta dollar AS.

Itu sudah skandal secara (ke)manusia(an). Ada barang begitu kecil dihargai 100-150 juta dollar AS! Seberapa besar harganya kemajuan manusia.

Di Indonesia situasinya seperti apa?

Nah, komodifikasi yang terjadi di Indonesia lebih bodoh dari itu! Tetapi, sama eksesnya. Artinya, pencuri itu ada di mana- mana. Jadi, melihat peluang untuk mencari keuntungan sendiri itu harkat alamiah. Saya selalu membuat jarak dengan gejala ini. Itu sikap tak suka saya. Saya kadang-kadang berpikir, kalau mau cari uang, mbok jangan kesenian gitu lho....

Apa sudah separah itu ya?

Saya tak bisa menggeneralisasi. Ada kolektor-kolektor yang secara khusus punya perhatian. Jadi, ada gray areas. Dan saya melakukan kerja sama dengan mereka. Saya realistis saja. Tetapi, sebagai gejala komodifikasi itu mencemaskan.... Kita mau jadi bangsa apa? Satu contoh adalah dunia film. Film itu sangat dijajah oleh produser. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana film akan maju. Tak mungkin lagi memasukkan nilai- nilai dalam sebuah konstelasi yang sudah dikuasai mereka.

Belakangan seni tampaknya lebih bergantung pada publik. Pendapat Anda?

Saya percaya zaman sekarang kesenian juga ditentukan oleh publik. Dunia seni rupa tak hanya terdiri dari seniman, kurator, promotor, dan ahli sejarah. Publik juga merupakan komponen penting. Dalam pemikiran pascapencerahan, seniman adalah komponen utama. Sekarang pemikiran itu tidak laku, tanpa publik kesenian, itu tidak ada.

Kalau publiknya kuat dan dia mendominasi, tak bisa disalahkan. Tapi di situ nilai-nilai sudah berhenti dicari dan seni rupa hanya akan jadi ajang investasi, ajang spekulasi, dan ajang senang-senang belaka....

Dan saya akan berada di kutub yang selalu melawan supaya seni tetap eksis. Pameran ini (CP Biennale 2005—Red) dibuat untuk menunjukkan kita masih ada! Jumlahnya jauh lebih sedikit daripada balai lelang, tetapi kita belum mati!
(Dahono Fitrianto/ Jimmy S Harianto)

-------oooOooo-------