Monday, July 23, 2007

Kumpulan Naskah Historical Jesus a.s.

Rakeeman R.A.M. Jumaan

Kumpulan Naskah

,

HISTORICAL JESUS

( BUNGA RAMPAI KRISTOLOGI )



JAMIAH AHMADIYAH INDONESIA

KAMPUS ( J A M A I ) MUBARAK

Jalan Raya Parung – Bogor KM 27, Kemang 16330

PO Box 33/PRU, Bogor 16330

Phone: +62 (0) 251 717 4273; Mobile: +62 (0) 817 056 1317

Jawa Barat - INDONESIA

Desember 2005

P E R N Y A T A A N

Hadhrat Aqdas Mirza Ghulam Ahmad

AL-IMAM AL-MAHDI & AL-MASIH AL-MAU’UD AS

Pendiri Jemaat Islam Ahmadiyah

T e n t a ng

HADHRAT ISA AL-MASIH AS IBNU MARYAM

“Tidak diragukan lagi, bahwa Hadhrat Isa Al-Masih as adalah seorang Nabi yang benar.” (Arba’in, no. 2).

“Adalah kepercayaanku, bahwa Al-Masih as adalah seorang Nabi dan Rasul yang benar dan dicintai oleh Tuhan, namun ia bukanlah Tuhan.”

(Hujjat al-Islam, h. 31).

“Al-Masih as adalah seorang yang diterima dan disayangi oleh Tuhan. Barang siapa yang memfitnahnya, ia adalah orang yang jahat.”

(I’jaz al-Ahmadi, h. 25).

“Aku telah ditugaskan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa untuk menyatakan bahwa Hadhrat Isa as adalah seorang Nabi Tuhan yang benar, sejati dan saleh serta aku ditugaskan untuk mempercayai kenabiannya.”

(Ayyam al-Shulh, cover).

“Aku bersumpah, bahwa aku memiliki kecintaan yang sejati kepada

Al-Masih as; tidak seperti (kecintaan) yang kamu miliki karena

padamu tidak terdapat cahaya yang dengan itu saya dapat

mengenalinya. Tidak diragukan, bahwa ia adalah seorang Nabi yang dikasihi dan disayangi Tuhan.”

(Da’wat-e-Haqq).




KATA PENGANTAR

Assalaamu ‘alaykum warahmatuLlaahi wabarakaatuHu,

Segala puji bagi ALLAH Ta’ala yang telah melimpahkan taufik, ‘inayah dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga dapat merampungkan beberapa tulisan yang tercantum dalam Kumpulan Makalah BUNGA RAMPAI KRISTOLOGI ini.

Pada awalnya, tulisan ini merupakan materi kuliah Ilmu Perbandingan Agama (Kristologi) yang penulis sampaikan kepada para mahasiswa Jamiah Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAMAI) Tingkat IV dan V. Setelah mendapat perbaikan dan koreksi, tulisan itu akhirnya dapat dipublikasikan dalam bentuk booklet ini.

Latar belakang penulisannya berlandaskan pada kerangka “Sejarah akan selalu terulang” (History repeats itself). Artinya, tuduhan dan fitnah yang dilontarkan kepada Yesus Kristus, tuduhan dan fitnah itu pulalah yang diterima oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah dalam Islam. Tuduhan dan fitnah yang dilontarkan oleh para ulama Yahudi (sekte Farisi, Saduki & Herodian) dan ulama Islam tersebut benar-benar sama. Seakan-akan para ulama Islam itu telah belajar dari mereka.

Tulisan ini juga bertujuan untuk menjernihkan berbagai tuduhan dusta yang dilontarkan kepada Jemaat Ahmadiyah, bahwa pendirinya, yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, al-Imam al-Mahdi & al-Masih al-Mau’ud as seolah-olah tidak menghormati Nabi Isa as dan ibunya, Maryam.

Dengan membaca kumpulan makalah ini diharapkan segala kesalahpahaman itu dapat dihilangkan.

Wassalaamu ‘alaykum warahmatuLlaahi wabarakaatuHu,

Jakarta, Desember 2005

RAKEEMAN R.A.M. JUMAAN

Penulis







DAFTAR ISI


Kata Pengantar ........................................................................ iii

Daftar Isi ……………………………………………….............. iv

1. APAKAH YESUS SEORANG LIBERALIS?..................... 1

Pendahuluan................................................................................................... 1

Kemunculan Yesus Di Tengah-tengah Masyarakatnya......................... 2

Yesus Mengkritisi Hukum Taurat............................................................. 3

Ulama Farisi dan Saduki Berusaha Menjebak Yesus............................. 5

Pengikut Herodes (Herodian) Berusaha Menjebak Yesus................... 7

Yesus Mengecam Ahli-Ahli Taurat Dan Orang-Orang Farisi............. 9

P e n u t u p...................................................................................................... 11

2. YESUS DI MATA PARA ULAMA YAHUDI..................... 13

Pendahuluan................................................................................................... 13

Yesus Dalam Pandangan Masyarakat Yahudi......................................... 15

Beberapa Tuduhan Dusta yang Dilancarkan Terhadap Yesus............. 15

P e n u t u p...................................................................................................... 23

3. KENABIAN YESUS DALAM TIMBANGAN.................. 24

Pendahuluan................................................................................................... 24

Kenabian Yesus Dalam Sorotan ................................................................ 28

Penutup............................................................................................................ 28


APAKAH YESUS SEORANG LIBERALIS?

Telaah Kritis Terhadap Kebebasan Cara Berfikir Yesus Dalam Menafsirkan Teks-teks Taurat yang Menjadi Batu Sandungan Bagi Ahli-ahli Taurat, Orang-orang Farisi dan Saduki

Oleh:

Rakeeman R.A.M. Jumaan

Dosen Perbandingan Agama dan Bahasa Ibrani

Jamiah Ahmadiyah Indonesia, Bogor

PENDAHULUAN

Sosok Yesus menjadi sangat menarik untuk dikaji, mengingat gambaran tentang kehidupan dan misinya ditafsirkan berbeda oleh tiga agama besar di dunia: Yahudi, Kristen dan Islam. Di satu sisi, orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Yesus, na’udzubillah, adalah seorang nabi palsu (Ul. 21:22-23; Gal. 3:13). Sebab menurut mereka, Yesus telah mati dihukum di atas salib yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang terkutuk. Sedangkan pada pihak lain, orang-orang Kristen dengan ekstrim telah mengangkat dan menempatkannya dalam posisi sebagai “Anak Tuhan”, bahkan “Tuhan” itu sendiri. Alasannya, hanya Tuhan saja yang dapat mengalahkan “kematian”. Agama yang terakhir, yaitu Islam, menempatkan beliau hanya sebagai seorang nabi yang benar, bukan nabi palsu apalagi “Tuhan”.

Mengapa orang-orang Yahudi, terutama para ulamanya mengatakan bahwa Yesus adalah seorang nabi palsu? Alasannya sangat jelas, menurut para ulama Farisi dan Saduki, Yesus tidak mentaati hukum Taurat dan Kitab Nabi-nabi. Di antara hukum Taurat yang dilanggar oleh Yesus itu menurut mereka adalah tentang menghormati hari Sabat dan makanan halal-haram (Mrk. 7:19; Yoh. 5:18; 7:19-24). Bahkan yang lebih berat, Yesus juga menyebut ALLAH sebagai bapaknya, yang menurut orang-orang Yahudi berarti menghujat Tuhan (Yoh. 5:18; 10:30-33). Konsekuensinya, bila kedua hukum ini telah dilanggar oleh Yesus, bagaimana mungkin ia seorang ”nabi” apalagi seorang ”nabi yang benar”? Apalagi bagi umat Yahudi, pintu kenabian telah tertutup setelah Musa (Ul. 34:10). Oleh karena itu, tidak ada nabi jenis apa pun yang akan datang setelah Musa. Begitu juga berkenaan dengan wahyu Ilahi, orang-orang Yahudi telah menolaknya bahkan mengatakan bahwa firman Ilahi hanyalah beban. Menurut mereka, wahyu Tuhan pun telah terputus. Tidak ada wahyu jenis apa pun yang akan diturunkan Tuhan setelah Musa.

Untuk memperbaiki kekeliruan dan kerusakan paham ini, Tuhan telah mengutus Yesus. Sayangnya, meski berkali-kali mendakwakan bahwa tujuan kedatangan dan ajarannya tidak bertentangan atau tidak akan menghapuskan hukum Taurat dan Kitab Nabi-nabi bahkan untuk menggenapinya, tetap saja orang-orang Yahudi tidak percaya (Mat. 5:17). Bagi mereka, hukum Taurat telah sempurna dan tidak perlu seorang nabi atau wahyu diturunkan lagi. Apalagi seorang nabi yang berasal dari Nazareth di Galilea (Yoh. 7:41-42, 52), sebuah daerah terpencil yang jauh dari keramaian. Kalaupun nabi itu memang harus datang, kenapa tidak dari Betlehem atau Yerusalem?

KEMUNCULAN YESUS DI TENGAH-TENGAH MASYARAKATNYA

Membaca sejarah perjalanan hidup Yesus, kita akan dibuat menjadi terheran-heran. Betapa sosok tokoh yang disanjung-sanjung oleh jutaan bahkan miliaran umat manusia tersebut tidak memiliki sejarah pada masa-masa mudanya. Setelah dilahirkan oleh dara suci Maria (Mat. 1:18-25; Luk. 2:1-7) hingga berusia 12 tahun, kehidupan Yesus memang diceritakan oleh Injil (Luk. 2:41-52). Akan tetapi sesudah itu hingga usia 30 tahun, sejarah Yesus hilang sama sekali. Tidak ada satu catatan pun dari keempat penulis Injil yang mengetahui dan menuliskan dalam karangannya. Jadi, selama sekitar 18 tahun Yesus tidak pernah menampakan diri di tengah-tengah masyarakat sebangsanya.

Hanya penulis Injil Matius menulis tiga perikopa yang menceritakan tentang masa kanak-kanak Yesus (Mat. 2:13-15; 2:16-18 dan 2:19-23). Di dalamnya diceritakan, bahwa dikarenakan Herodes khawatir akan kekuasaannya yang mungkin bisa runtuh karena kedatangan Yesus yang dianggap oleh orang Majus ia akan menjadi Raja Yahudi, maka ia berniat membunuh bayi Yesus. Hal ini menyebabkan Yusuf membawa Yesus beserta ibunya pindah ke Mesir. Karena yang dicari tidak diketemukan, akhirnya Herodes memerintahkan para pengikutnya untuk membunuh semua anak-anak kecil yang berusia dua tahun ke bawah. Agaknya ia berharap, di antara anak-anak yang dibunuh tidak terkecuali terdapat Yesus. Sayang, ia tidak tahu bahwa Yesus telah dibawa oleh Yusuf --atas perintah malaikat— untuk hijrah ke Mesir. Barulah setelah Herodes mati, mereka bertiga dapat kembali lagi ke Galilea dan tinggal di Nazaret.

Sayang sekali, kisah penyingkiran Yesus ke Mesir hanya terdapat di dalam Injil Matius, sedangkan ketiga Injil lainnya –Markus, Lukas dan Yohanes— sama sekali tidak pernah menyebutkannya alias bungkam seribu bahasa. Setelah kemunculan Yesus yang pertama dalam usia 12 tahun (Luk. 2:41-52) ia menghilang selama 18 tahun kemudian dan baru muncul kembali ketika “ia berumur kira-kira 30 tahun” (Luk. 3:23). Sebelum memulai misinya, menurut para penulis Injil, Yesus terlebih dahulu dicobai oleh Iblis di padang gurun (Mat. 4:1-11; Mrk. 1:12-12; Luk. 4:1-13). Ujian yang diterima Yesus di sana, pada hakikatnya adalah persiapan untuk menjadi seorang penyampai risalah (nabi).

Apabila keberadaan Yesus di padang gurun ini dikaji lebih mendalam, akan terbukti bahwa sebenarnya di sanalah Yesus menuntut ilmu. Boleh jadi, selama beberapa tahun menghilang dari keramaian sebenarnya Yesus tengah menuntut ilmu. Tempatnya tidak lain, di padang gurun itu. Karena sebagaimana Yohanes muncul di dan dari padang gurun (Mat. 3:1-6), Yesus pun selama beberapa waktu mengasingkan diri (khalwat/tahanuts) di sana. Tujuannya adalah sama, mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai persiapan untuk menerima risalah pengangkatan sebagai utusan-Nya. Setelah Yesus diangkat sebagai utusan Tuhan, barulah ia menyampaikan ajaran-ajaran tersebut kepada masyarakat.

Masyarakat yang mengetahui asal-usul Yesus menjadi heran dari mana ia memperoleh semua hikmat dan mukjizat yang disampaikan kepada mereka: “Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar?” (Yoh. 7:15). “Dari manakah diperolehnya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibunya bernama Maria dan saudara-saudaranya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudaranya perempuan ada bersama kita? Jadi dari mana diperolehnya semuanya itu?” (Mat. 13:57). Lalu mereka kecewa dan menolak Yesus. Bahkan, saudara-saudaranya sendiri pun tidak percaya bahwa ia seorang nabi (Yoh. 7:5), sehingga melalui permisalan Yesus mengatakan hal ini (Mat. 12:46-50; Mrk. 3:31-35; Luk. 8:19-21).

Padahal, apabila diperhatikan lebih seksama pada awal kehidupan Yesus, ternyata ia “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padanya” (Luk. 2:40). Artinya, Tuhan sendiri yang mengajar Yesus, sehingga dengan hikmat tersebut ia dapat menjawab dan bertukarpikiran dengan para alim-ulama Yahudi. Hal ini terbukti ketika Yesus masih berusia 12 tahun, ia bersoal-jawab dengan alim-ulama Yahudi di Yerusalem. “Sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar dia sangat heran akan kecerdasannya dan segala jawab yang diberikannya” (Luk. 2:47).

Sebagai seorang Yahudi, Yesus pun disunat dan ditahirkan (Luk. 2:21-22) sesuai dengan hukum Musa (Im. 12:6-8). Yesus juga dibawa ke Yerusalem untuk menghadiri perayaan hari Paskah (Luk. 2:41-42 jo Kel. 12:1-27; Ul. 16:1-8). Menurut Yesus, hal ini karena ”demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak ALLAH” (Mat. 3:15). Karena itu Yesus mengingatkan murid-muridnya, ”Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 5:20). ”Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10). Tujuannya adalah agar murid-murid Yesus menjadi sempurna, ”sama seperti bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48).

YESUS MENGKRITISI HUKUM TAURAT

Dalam Injilnya, Matius menulis sebuah perikopa tentang ”Yesus dan hukum Taurat” (Mat. 5:17-48). Perikopa ini sangat menarik karena menggambarkan bagaimana pandangan Yesus terhadap Taurat. Dengan melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, walaupun yang sekecil-kecilnya, mereka --para murid Yesus-- itu akan menduduki tempat yang tinggi di sisi Tuhan (Mat. 5:19). Namun, hendaknya hidup keagamaan mereka harus melebihi hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Mat. 5:20). Alasannya, menurut Yesus, ”mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (Mat. 23:3). Murid-murid juga harus waspada terhadap ”ragi orang Farisi dan Saduki”, yaitu ajaran orang Farisi dan Saduki (Mat. 16:5-12). Di antara ”ragi” mereka adalah ”mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya, mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang, mereka suka duduk di tempat yang terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan dalam rumah ibadat, mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil rabi” (Mat. 23:1-7). Tepatlah apabila Yesus mengutip nubuat nabi Yesaya as: ”Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” (Yes. 29:13 jo Mat. 15:8-9; Mrk. 7:6-7).

Sungguh mengherankan, dari keempat penulis Injil hanya Matius yang menuliskan bagaimana pandangan Yesus terhadap hukum Taurat. Dengan sangat terbuka Matius mengutip nats-nats Taurat yang dikritisi oleh Yesus. Setidaknya ada enam tempat dimana Yesus dikatakan telah mengutip nats-nats Taurat. Keenam tempat itu adalah Matius pasal 5 ayat 21, 31, 33, 38 dan 43. Nats-nats Taurat tersebut dikutip dari kitab Bilangan, Keluaran, Imamat dan Ulangan. Tidak ada satu pun yang dikutip dari kitab Kejadian, padahal kitab ini juga termasuk ke dalam Taurat (Pentateuch) yang dikatakan telah ditulis oleh nabi Musa as. Perlu diketahui, yang dimaksud dengan Taurat menurut orang-orang Kristen adalah ”pengajaran oleh ALLAH” yang diterapkan pada Kesepuluh Hukum (Kel. 20:1-17; Ul. 5:1-21), kemudian pada segala hukum dan peraturan dari Tuhan, khususnya pada kelima kitab Musa atau kitab Taurat.

Di antara ajaran Taurat yang Yesus kritisi adalah tentang hukum membunuh dan berzinah. Taurat mengatakan: Jangan membunuh (Kel. 20:13; Ul. 5:17). Yesus memberikan kritikan: Tetapi aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala (Mat. 5: 22). Taurat juga mengatakan: Jangan berzinah (Kel. 20:14; Ul. 5:18). Tetapi Yesus menegaskan: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya (Mat. 5:28).

Perkataan Yesus ini mengherankan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Sebab dalam pemahaman mereka, hukuman mati adalah balasan bagi yang melakukan pembunuhan (Kel. 20:12) sedangkan hukuman rajam hingga mati merupakan balasan bagi orang yang kedapatan berzinah (Im. 20:10; Ul. 22:22-24). Apabila hanya karena alasan marah orang bisa dikenakan hukuman mati atau karena memandang perempuan dan menginginkannya sudah termasuk ke dalam zinah sehingga ia pantas dikenai hukum rajam hingga mati pula, maka betapa beratnya hukum ini. Sudah pasti mereka tidak akan dapat menanggungnya. Oleh karena itu, untuk menghindari hukum ini mereka membuat helah bahwa Yesus telah merubah hukum Taurat. Bahkan, banyak dari murid-murid Yesus sendiri mengatakan, ”Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh. 6:60).

Padahal, dengan berkata demikian Yesus bermaksud menasihati murid-muridnya agar lebih berhati-hati dalam hidup keagamaan mereka (Mat. 5:20). Yesus mengatakan, ”Yang kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan pengorbanan” (Mat. 9:13). Senada dengan itu, Yesus juga pernah mengecam orang-orang munafik yaitu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang lebih mementingkan ibadah lahiriah sedangkan hakikatnya mereka lupakan: ”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dari hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.” (Mat. 23:23-24).

Yang lebih mengherankan mereka, dalam perbuatan Yesus sendiri ternyata ia dianggap banyak menyimpang dari hukum Taurat. Padahal Yesus berkata: ”Janganlah kamu menyangka, bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Mat. 5:17).

ULAMA FARISI DAN SADUKI BERUSAHA MENJEBAK YESUS

Farisi adalah suatu golongan dari para rabi dan ahli Taurat yang sangat berpengaruh. Mereka berpegang pada ”adat-istiadat nenek moyang” (Mat. 15:2). Seluruh hukum dan peraturan mereka taati secara mutlak. Sedangkan Saduki adalah suatu golongan pemimpin agama Yahudi, yang sebagian besar terdiri dari imam-imam. Mereka mendasarkan pengajarannya pada kelima kitab Musa dan menolak segala adat-istiadat yang ditambahkan kemudian. Mereka tidak percaya kepada kebangkitan dan adanya malaikat. Terhadap kebudayaan Yunani golongan ini sangat terbuka. Kedua golongan ini berupaya menjebak Yesus agar mereka memiliki suatu alasan dan bukti bahwa Yesus bukanlah seorang nabi yang benar, bahkan seorang yang menentang dan bermaksud menghapus hukum Taurat.

Sejak awal ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sangat membenci Yesus disebabkan mereka mengetahui bahwa Yesus selalu mengecam mereka. Dalam suatu kesempatan, Yesus mengatakan bahwa mereka adalah ”orang mati yang menguburkan orang mati mereka” (Mat. 8:22). Dalam kesempatan lain, Yesus mengatakan bahwa mereka adalah ”orang buta yang menuntun orang buta” (Mat. 15:14). Ketika Yesus mengatakan bahwa ia datang untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta, orang-orang Farisi pun mengerti, bahwa menurut Yesus mereka juga termasuk orang yang buta (Yoh. 10:39-41). Dalam kesempatan lain lagi, Yesus mengatakan bahwa mereka adalah ”angkatan yang jahat dan tidak setia” (Mat.12:39). Bahkan lebih keras dari itu, Yesus mengatakan bahwa mereka adalah ”anak-anak Iblis” (Yoh. 8:44) dan ”ular-ular” atau ”keturunan ular beludak” (Mat. 23:33).

Orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus dengan mengatakan bahwa Yesus telah melanggar hukum Taurat. Tuduhan yang pertama adalah bahwa Yesus tidak menghormati hari Sabat, yaitu ketika murid-murid Yesus melintasi ladang gandum, mereka memetik bulir gandum dan memakannya pada hari Sabat (Mat. 12:1-8). Padahal, menurut orang-orang Farisi, hari Sabat adalah hari yang kudus. Pada hari itu tidak boleh melakukan suatu pekerjaan apa pun. Mereka yang melanggar hukumannya adalah mati (Kel. 35:1-3). Namun apa jawaban Yesus? Ia mengatakan bahwa Daud pun pernah melakukan hal serupa, ketika ia dan yang mengikutinya merasa lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah ALLAH dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam (Mat. 12:3-4 jo 1Sam. 21:1-6). Begitu juga imam-imam melanggar kekudusan hari Sabat dengan mempersembahkan korban bakaran di dalam Bait ALLAH (Mat. 12:5 jo Bil. 28:9-10).

Apabila murid-murid Yesus dipersalahkan karena hal memetik bulir gandum pada hari Sabat, mengapa Daud beserta para pengikutnya dan imam-imam tersebut tidak dipersalahkan? Padahal, murid-murid memetik gandum dengan tangan adalah sesuai dan diperbolehkan menurut hukum Taurat, meskipun ladang gandum itu bukan milik mereka (Ul. 23:25). Bahkan orang-orang Farisi sendiri kadang-kadang menyunat anak yang berusia delapan hari pada hari Sabat demi melaksanakan hukum Taurat (Yoh. 7:22 jo Ul. 7:10; Im. 12:3). Bayangkan saja, apabila ada anak yang lahir pada hari Sabtu, maka hari ketika ia disunat sesuai hukum Musa adalah pada hari Sabtu berikutnya (Sabat). Padahal mereka tahu, hal ini juga menentang hukum Taurat itu sendiri. Jadi untuk melaksanakan hukum Taurat yang satu, mereka juga terkadang menentang hukum Taurat yang lain! Sedangkan menurut Yesus: ”Bapaku bekerja sampai sekarang, maka aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17).

Tuduhan yang kedua adalah bahwa murid-murid Yesus telah melanggar adat-istiadat nenek moyang mereka karena tidak membasuh tangan sebelum makan (Mat. 15:1-2). Lalu apa jawab Yesus? Ia mengatakan, bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu pun telah melanggar perintah ALLAH demi adat-istiadat nenek moyang. Mereka telah melanggar hukum Taurat tentang menghormati kedua orang tua (Kel. 20:12, 21:17; Im. 20:9; Ul. 5:16). Sedangkan mereka berdalih bahwa karena segala sesuatu sudah habis untuk persembahan kepada ALLAH, maka mereka mengatakan tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya (Mat. 15:5-6). Yesus juga mengatakan, ”Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat. 15:11). Maksudnya, makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang, melainkan apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat (Mat. 15:18-20).

Tuduhan yang ketiga adalah tuduhan yang sangat berat terhadap Yesus. Menurut orang-orang Yahudi, karena Yesus telah menghujat ALLAH (Luk. 22:70; Yoh. 10:30) maka hukumannya adalah rajam (Im. 24:16). Ketika Yesus menanyakan atas perbuatan apakah ia dikatakan telah menghujat Tuhan, mereka menjawab: ”Bukan karena suatu perbuatan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat ALLAH dan karena engkau, sekalipun manusia saja, menyamakan dirimu dengan ALLAH” (Yoh. 10:33). Namun, apa jawab Yesus? Yesus berkata: ”Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ALLAH? Jikalau mereka kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ALLAH –sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan--, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat ALLAH! Karena aku telah berkata: Aku Anak ALLAH?” (Yoh. 10:34-36).

Jadi, Yesus beralasan, kalau kepada nabi-nabi yang lain bisa disebut sebagai ALLAH (Mzm. 82:6), mengapa ia tidak boleh menyebut dirinya ”anak ALLAH”? Terhadap nabi Musa, bahkan Tuhan sendiri mengatakan bahwa ia adalah ”ALLAH” (Kel. 7:1). Mengapa mereka tidak mengatakan bahwa Musa juga patut dihukum rajam? Dengan demikian, Yesus mengemukakan kepada mereka, bahwa kedudukannya lebih rendah dari pada Musa. Sebab ia hanya menggenapi hukum Taurat (Mat. 5:17). Bukankah kedudukan ”Anak ALLAH” lebih rendah dari pada kedudukan ”ALLAH” sendiri?

PENGIKUT HERODES (HERODIAN) BERUSAHA MENJEBAK YESUS

Herodian adalah anggota-anggota suatu partai Yahudi yang menghendaki keturunan Herodes Agung memerintah atas mereka dan bukannya gubernur Romawi (Mat. 22:16). Herodes Agung adalah raja atas seluruh tanah Palestina (37-4 sM). Dialah yang membunuh bayi-bayi laki-laki di Betlehem (Mat. 2; Luk. 1:5). Sebagaimana orang-orang Farisi dan Saduki tengah menanti-nanti kedatangan seorang Juru Selamat yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi, orang-orang Herodian pun sama menghendaki agar Yesus memperlihatkan identitas yang jelas: apakah ia membawa Kerajaan Dunia? Apakah ia juga berjuang secara lahiriah?

Mereka berharap, dengan jawaban itu segala masalah menjadi jelas. Bahkan, dengan jawaban itu juga mereka berharap bisa menjerat Yesus ke pengadilan pemerintah Romawi. Inilah yang dikehendaki oleh orang-orang Farisi, setelah mereka gagal menjerat dan membuktikan bahwa Yesus telah melanggar ajaran dan hukum Taurat. Dari masalah agama, akhirnya mereka beralih ke masalah politik. Mereka mengatakan bahwa Yesus akan memberontak dan mengangkat diri menjadi raja orang Yahudi (Yoh. 18:33-35; 19:15).

Meskipun Yesus membenarkan bahwa ia seorang raja, tetapi ia menyatakan bahwa hanyalah seorang raja dari sebuah kerajaan rohani. ”Kerajaanku bukan dari dunia ini; jika kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaku telah melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, tetapi kerajaanku bukan dari sini” (Yoh. 18:36). Inilah penjelasan yang menyebabkan Pilatus membebaskan Yesus dari tuduhan bahwa ia akan memberontak. Secara politis, Pilatus tidak mendapati kesalahan apa pun padanya. Pilatus sendiri paham, bahwa imam-imam Yahudi telah menyerahkan Yesus karena dengki (Mrk. 15:10). Orang-orang Yahudi pun tidak punya alasan untuk menghukum Yesus secara politis selain alasan keagamaan bahwa ia telah menghujat Tuhan dan bahwa hukumannya adalah hukuman mati (Yoh. 19:7). Sedangkan pemerintah Romawi tidak mengakui hukum semacam itu. Oleh sebab itu, Pilatus juga menyuruh mereka menghakimi menurut hukum Taurat saja. Tetapi mereka beralasan bahwa ”kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang” (Yoh. 18:31). Artinya, jika mereka membunuh Yesus berdasarkan hukum Taurat, mereka sendiri akan dikenai tindak kriminal menurut hukum Romawi karena telah membunuh seseorang.

Dua peristiwa di bawah ini cukup menjadi bukti bagaimana orang-orang Farisi dan Herodian berusaha menjebak Yesus. Dalam Injil Matius 22:15-22 (lih. juga Mrk. 12:13-17; Luk. 20:20-26) dikisahkan suatu perikopa tentang ”Membayar Pajak kepada Kaisar”. Orang-orang Farisi dan Herodian berusaha menjerat Yesus secara politis dengan mengajukan sebuah pertanyaan: Katakanlah kepada kami pendapatmu, apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Maksud mereka, apabila Yesus menjawab: ”Ya, bayarlah pajak!” tentu mereka akan mengatakan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus bukanlah Juru Selamat yang mereka tunggu-tunggu. Buktinya, Yesus malah pro pemerintah Romawi yang menjajah mereka. Sedangkan apabila Yesus menjawab: ”Tidak boleh!” tentu mereka tidak akan membayar pajak dengan alasan, Yesus sang Juru Selamat mereka, telah melarang mereka membayar pajak. Itu artinya, Yesus akan dianggap sebagai pemberontak dan orang-orang Farisi dan Herodian punya alasan untuk melaporkan Yesus kepada pemerintah Romawi. Namun apa jawab Yesus? Ia malah meminta mata uang kepada mereka dan menanyakan gambar dan tulisan siapa yang ada di atas koin tersebut. Ketika dijawab bahwa itu adalah gambar dan tulisan Kaisar, Yesus berkata kepada mereka: ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada ALLAH apa yang wajib kamu berikan kepada ALLAH.” (Mat. 22:19-22). Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus, lalu pergi. Jadi, upaya mereka menjerat Yesus ternyata tidak berhasil.

Peristiwa yang kedua adalah, perikopa tentang ”Perempuan yang Berzinah” dalam Injil Yohanes 8:1-11. Dalam perikopa ini ada dua jerat yang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pasang untuk menyalahkan Yesus. Yang satu jerat dari segi agama, lainnya secara politis. Mereka ingin tahu sejauh mana pandangan dan ketaatan Yesus terhadap hukum Taurat dengan menyatakan bahwa Musa dalam hukum Taurat (Im. 20:10; Ul. 22:22-24) memerintahkan mereka untuk melempari perempuan-perempuan yang kedapatan berzinah. Yesus menjawab: ”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”. Setelah mendengar ini, mereka akhirnya pergi seorang demi seorang dimulai dari yang tertua. Alangkah malunya mereka!

Padahal pada awalnya mereka ingin Yesus yang paling pertama melempari perempuan itu dengan batu sehingga mereka mempunyai alasan untuk menyerahkan Yesus kepada pemerintah Romawi atas tindakan kriminal tersebut. Namun, mereka tidak menduga justru Yesus mengatakan demikian. Kalau mereka melaksanakan perkataan Yesus dan jadi melempari perempuan itu dengan batu, mereka sendiri yang akan mendapat dua masalah: masalah kriminal menurut hukum Romawi dan menghujat hukum Taurat sendiri karena menyatakan bahwa mereka tidak berdosa (Mrk. 2:7-8). Bukankah hanya ALLAH yang tidak berdosa? Sedangkan apabila mereka tidak melempari perempuan itu dengan batu, justru mereka sendirilah yang tidak melaksanakan hukum Taurat. Itulah sebabnya mereka menjadi simalakama.

YESUS MENGECAM AHLI-AHLI TAURAT DAN ORANG-ORANG FARISI

Mengingat orang-orang Farisi dan Saduki tetap dalam keingkaran dan kedegilan mereka meskipun Yesus telah menjelaskan berbagai persoalan yang mereka pertanyakan dengan gamblang. Akhirnya Yesus mengungkapkan mengapa mereka tidak dapat percaya sekalipun ia mengadakan begitu banyak mukjizat di depan mata mereka (Yoh. 12:37). Yesus sendiri mengutip nubuatan Yesaya yang menerangkan mengenai alasan ketidakpercayaan mereka (Yes. 53:1; 6:10). Meskipun banyak pemimpin yang telah percaya kepada Yesus tetapi mereka sembunyi-sembunyi supaya jangan dikucilkan karena takut terhadap orang-orang Farisi (Yoh. 9:22; 12:42) dan karena mereka lebih suka akan kehormatan dari manusia dari pada kehormatan ALLAH (Yoh. 12:43).

Alasan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi selalu menentang Yesus adalah karena ketakutan mereka bila semua orang percaya kepadanya. Kalau hal itu terjadi, mereka khawatir Yesus akan memerintahkan murid-muridnya untuk memberontak terhadap pemerintah Romawi. Apabila itu terjadi dikhawatirkan pemerintah Romawi akan menghancurkan bangsa Yahudi termasuk menguasai tempat suci mereka. Ini akibat dalam pikiran mereka telah diindoktrinasi bahwa Yesus ingin menjadi Raja Yahudi. Padahal Yesus sendiri telah menerangkan bahwa ia tidak berambisi untuk menjadi raja, apalagi raja duniawi. Sebagai seorang utusan Tuhan, kerajaan yang Yesus beritakan adalah Kerajaan Sorga alias Kerajaan ALLAH (Mat. 3:2; 4:17, 23). Namun tetap saja orang-orang Yahudi tidak percaya terhadap penjelasan ini.

Mengetahui kedegilan hati mereka, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Mat. 23:1-36; Mrk. 12:38-40; Luk. 11:37-54, 20:45-47):

”Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua bersaudara.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh dengan tulang-belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian juga kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak akan ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?

P E N U T U P

Setelah kita mengkaji apa jawaban Yesus terhadap pertanyaan-pertanyaan orang-orang Farisi dan Saduki di atas, maka jelaslah, sebenarnya Yesus bukanlah seorang yang berniat menghapuskan hukum Taurat seperti yang mereka tuduhkan. Yesus juga tidak tidak pernah melanggar hukum Taurat, bahkan ia datang untuk memperbaharui pemahaman orang-orang Farisi dan Saduki yang telah rusak mengenai hukum Taurat tersebut. Mereka telah kehilangan rohani (Mat. 8:22), yang lebih dipentingkan adalah ibadah lahiriahnya.

Kesimpulan dari semua ini terangkum dalam perikopa ”Orang Muda yang Kaya” (Mat. 19:16-26; Mrk. 10:17-27; Luk. 18:18-27). Yesus menghendaki murid-murid beliau menjadi sempurna ”sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48). Kalau hidup keagamaan mereka tidak lebih baik dari pada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, lalu apa bedanya dengan mereka (Mat. 5:20)? ”Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal ALLAH pun berbuat demikian?” (Mat. 5:46-47). Artinya, apabila perbuatan mereka sama seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, mereka pun tidak mungkin akan beroleh Kerajaan Sorga! Karena ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pun sudah terbiasa melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh murid-murid Yesus tersebut.

Yesus juga mengisyaratkan bahwa untuk memperoleh Kerajaan Sorga itu sangat sulit dan harus mengalami banyak kesukaran. ”Lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan ALLAH” (Mat. 19:24). Artinya, untuk memperoleh jalan yang benar orang harus mengalami berbagai macam penderitaan, ”karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat. 7:14). Murid-murid Yesus sendiri protes, ”Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” (Mat. 19:25). Yesus memandang mereka dan berkata: ”Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi ALLAH segala sesuatu mungkin.” (Mat. 19:26). Maksudnya, hanya karunia Tuhan sajalah yang menyebabkan mereka beroleh Kerajaan Sorga!

Sayang, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah degil hati dan tegar tengkuk sehingga tidak mau menerima penjelasan-penjelasan Yesus meskipun itu mereka akui kebenarannya. Tetap saja mereka memfitnah bahwa Yesus telah melanggar hukum Taurat dengan tidak menghormati hari Sabat, tidak mengerjakan adat-istiadat nenek moyang, bahkan menghujat Tuhan. Suatu dosa yang --menurut mereka-- pantas untuk dihukum mati! Untuk itulah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berambisi menghukum Yesus dengan hukuman disalib. Mereka bermaksud memperlihatkan kepada masyarakat, bahwa Yesus yang bagi sebagian orang dianggap sebagai nabi (Mat. 21:11; Luk. 24:19), bahkan sebagai Mesias atau Kristus (Mat. 16:16; Yoh. 6:68-69) itu pada hakikatnya adalah seorang yang terkutuk. Jangankan untuk menjadi Mesias atau Kristus, menjadi nabi biasa saja tidak mungkin. Sebab, menurut hukum Taurat, ”seorang yang digantung terkutuk oleh ALLAH” (Ul. 21:23; Gal. 3:13). WaLlaahu a’lam bish-shawwaab!

------------ooo000ooo------------



YESUS DI MATA PARA ULAMA YAHUDI

Telaah Kritis Terhadap Berbagai Tuduhan Dusta yang Dilontarkan Ahli-ahli Taurat, Orang-orang Farisi dan Saduki Untuk Membuktikan Kepalsuan Kenabian Yesus

Oleh:

Rakeeman R.A.M. Jumaan

Dosen Perbandingan Agama dan Bahasa Ibrani

Jamiah Ahmadiyah Indonesia, Bogor

PENDAHULUAN

Dalam makalah berjudul: APAKAH YESUS SEORANG LIBERALIS? Telaah Kritis Terhadap Kebebasan Cara Berfikir Yesus Dalam Menafsirkan Teks-teks Taurat yang Menjadi Batu Sandungan Bagi Ahli-ahli Taurat, Orang-orang Farisi dan Saduki, penulis telah menjelaskan beberapa tipu daya dan makar para ulama Yahudi –baik dari sekte Farisi maupun Saduki— untuk menjebak Yesus. Mereka melancarkan berbagai tuduhan yang maksudnya ingin membuktikan bahwa Yesus adalah seorang nabi palsu.

Di antara tuduhan itu adalah bahwa Yesus tidak melaksanakan hukum Taurat, melanggar adat-istiadat nenek moyang dan menghujat Tuhan. Bahkan mereka juga menghasut pemerintah dengan memfitnah bahwa Yesus tidak mau membayar pajak, berniat memberontak dan ingin mengangkat dirinya menjadi raja Yahudi.

Namun dengan mudah Yesus dapat mematahkan berbagai tuduhan dusta tersebut. Bahkan dengan sangat meyakinkan, Yesus juga dapat membuktikan bahwa pemahamannya didukung oleh Taurat dan Kitab Para Nabi. Sebaliknya, Yesus juga mengembalikan tuduhan itu kepada para ulama Yahudi. Akibatnya kedok mereka mulai terbongkar. Justru merekalah sebenarnya yang sering melanggar hukum Taurat.

YESUS DALAM PANDANGAN MASYARAKAT YAHUDI

Dari hari ke hari kehadiran Yesus di tengah-tengah masyarakat ternyata banyak memikat simpati sehingga mereka mengikuti Yesus kemana pun pergi untuk mendengarkan ajaran-ajarannya (Luk. 19:48). Orang banyak itu berbondong-bondong mengikutinya, bahkan ada yang datang dari tempat-tempat yang jauh: dari Yerusalem, dari Yudea dan dari seberang sungai Yordan (Mat. 4:23-25). Mereka terkesan dengan Yesus disebabkan ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat (Mat. 7:28-29).

Di kalangan masyarakat juga timbul berbagai macam pendapat mengenai pribadi Yesus. Ada yang mengatakan bahwa ia adalah “Yohanes Pembaptis yang telah bangkit dari antara orang mati”. Yang lain mengatakan: “Dia itu Elia!” Yang lain lagi mengatakan: “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.” Bahkan, Herodes pun ikut berkomentar bahwa dia itu “Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi.” (Mrk. 6:14-16). Namun semua sepakat dan menganggap bahwa Yesus itu nabi (Mat. 21:46).

Para murid Yesus sendiri pun saling berselisih pendapat mengenai pribadi Yesus. Ada yang mengatakan bahwa ia adalah “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” (Mat. 16:13-15). Bahkan Petrus menambahkan, Yesus adalah “Mesias, Anak ALLAH yang hidup” (Mat. 16:16), Natanael juga berpendapat bahwa Yesus adalah “Anak ALLAH, Raja orang Israel” (Yoh. 1:49) artinya “Yang Kudus dari ALLAH” (Yoh. 6:68-69). Yang jelas, semua itu menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang nabi. Sebab menurut orang-orang Yahudi, Mesias itu juga sama dengan nabi (Mat. 26:68 = Mrk. 14:65).

Berkenaan dengan dirinya sendiri, Yesus pernah mengatakan bahwa “seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya” (Mat. 13:57 jo Mrk. 6:4; Luk. 4:24; Yoh. 4:44). Ini terbukti dengan penolakan orang-orang yang sekampung dengannya, begitu juga keluarganya. Saudara-saudaranya sendiri tidak percaya akan kenabiannya (Yoh. 7:5). Bahkan Yesus juga mengatakan bahwa ibunya sendiri seolah-olah tidak melakukan ajaran yang beliau bawa dari Tuhan (Mat. 12:46-50; Mrk. 3:31-35; Luk. 8:19-21). Sebagai perbandingan terhadap nabi-nabi terdahulu, Yesus juga mengatakan, “tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem” (Luk. 13:33).

Wajar saja apabila sambutan mereka terhadap kedatangan Yesus di Yerusalem begitu gegap gempita. Mereka mengatakan bahwa “inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea.” (Mat. 21:11). Yesus kemudian dinaikkan ke atas seekor keledai, diarak dengan sorak-sorai bahkan banyak orang menghamparkan pakaian mereka di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dan menyebarkannya. Mereka mengikuti Yesus dengan suka cita: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat. 21:7-9).

Meski pada awalnya Yesus memperoleh simpati yang sangat luas dari masyarakat, namun sayangnya, simpati itu kemudian berubah menjadi kekecewaan yang sangat mendalam dikarenakan segala harapan mereka pupus. Pada mulanya mereka ingin Yesus menjadi raja dunia mereka. Bila ia memang Mesias atau Kristus, Yesus harus mengembalikan zaman keemasan Daud dan Sulaiman. Namun bila mereka hendak datang dan membawanya dengan paksa untuk menjadikannya raja, ternyata Yesus malah menolak, bahkan ia menyingkir ke gunung seorang diri (Yoh. 6:15). Yesus pun mengatakan bahwa kerajaan yang beliau bawa bukan dari dunia ini tetapi kerajaan rohani alias Kerajaan ALLAH atau Kerajaan Sorga (Yoh. 18:36). Inilah salah satu sebab yang membuat mereka kecewa dan meninggalkan Yesus.

Penyebab yang lain adalah meski ajaran Yesus menakjubkan mereka (Mrk. 1:27) tetapi itu terlalu keras. “Siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh. 6:60). Ketika Yesus mengatakan bahwa ia adalah “roti yang telah turun dari sorga”, maka orang-orang Yahudi bersungut-sungut. Bagaimana Yesus dapat berkata begitu, sedangkan mereka tahu asal-usul Yesus (Yoh. 6:41-43). Apalagi Yesus mengatakan, barang siapa makan dari padanya, ia tidak akan mati, bahkan hidup untuk selama-lamanya (Yoh. 6:51, 58). Kata mereka, ucapan-ucapan ini sudah menjadi hujatan yang sangat hebat terhadap Tuhan. Jadi, pembaharuan rohani yang ingin Yesus lakukan terhadap hukum Taurat ternyata berbenturan dengan pemahaman mereka yang dangkal dan harfiah. Akibatnya, banyak muridnya yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikutinya (Yoh. 6:66).

BEBERAPA TUDUHAN DUSTA YANG DILANCARKAN TERHADAP YESUS

Melihat popularitas Yesus di masyarakat semakin meluas, para ulama Yahudi menjadi khawatir, “Apabila kita biarkan dia, maka semua orang akan percaya kepadanya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita” (Yoh. 11: 48). Mereka akhirnya berunding untuk merumuskan rencana menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat. Mereka juga tidak akan menangkap Yesus pada waktu perayaan Paskah atau perayaan lainnya. Alasannya, mereka takut akan terjadi keributan karena banyak orang yang ternyata pro Yesus (Mat. 263-5).

Ketika pesta hari raya Pondok Daun tiba, Yesus pun berangkat ke Yerusalem dengan diam-diam. Orang-orang Yahudi mencari-cari Yesus, “Dimanakah Ia?” Banyak terdengar bisikan di antara orang banyak tentang Yesus. Ada yang mengatakan bahwa “Ia orang baik.” Tetapi ada pula yang berkata, “Tidak, Ia menyesatkan rakyat.” Dan di antara orang banyak itu ada banyak yang percaya kepada-Nya dan mereka berkata: “Apabila Kristus datang, mungkinkah Ia akan mengadakan lebih banyak mukjizat dari pada yang telah diadakan oleh Dia ini?” (Yoh. 7:10-12, 31).

Untuk memudahkan rencana mereka secara bertahap membuat tipu muslihat dan tuduhan palsu terhadap Yesus. Tuduhan ini bukan hanya bersifat keagamaan, tetapi mencakup pula tuduhan politis. Di antara tuduhan-tuduhan tersebut adalah:

Yesus Dituduh Kerasukan Setan dan Bersekutu Dengan Beelzebul

Orang-orang Yahudi menuduh Yesus sebagai orang yang kerasukan setan, ketika ia mengatakan bahwa “barang siapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut selama-lamanya” (Yoh. 8: 51-52). Alasan mereka, Abraham dan para nabi pun telah mati. Jadi, menurut mereka, dengan siapa Yesus ingin menyamakan dirinya? Bagaimana ucapannya itu dianggap tidak ngawur? Sebab, hanya orang yang kerasukan setan sajalah yang biasanya tidak ingat dirinya lagi.

Apalagi ketika Yesus juga mengatakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, aku telah ada.” Orang-orang Yahudi semakin yakin kalau Yesus memang sedang kerasukan setan. Maka kata orang-orang Yahudi itu kepadanya, “Umurmu belum lagi lima puluh tahun dan engkau telah melihat Abraham?” (Yoh. 8: 57-58). Karena jengkel mereka bermaksud merajam Yesus atas kelancangannya tersebut; tetapi ia menghilang dan meninggalkan Bait ALLAH (Yoh. 8: 59).

Yesus juga dituduh bersekutu dengan Beelzebul, yaitu nama iblis yang menjadi penghulu roh-roh jahat dan setan-setan. Ketika seorang buta dan bisu akibat kerasukan setan dibawa kepada Yesus, maka Yesus menyembuhkannya, sehingga orang itu bisa melihat dan berkata-kata lagi. Banyak orang takjub dan mengatakan bahwa Yesus itu agaknya Anak Daud. Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: “Dengan Beelzebul, penghulu setan, ia mengusir setan.” (Mat. 12:22-24). Dengan mengatakan demikian, orang-orang Farisi ingin menuduh bahwa mukjizat Yesus tidak berasal dari ALLAH melainkan dari Beelzebul. Bagaimana mungkin orang yang berdosa, bersekutu dengan iblis/setan, bisa mendakwakan diri sebagai nabi dan membuat mukjizat?

Jawaban Yesus:

Ketika dituduh sebagai seorang yang kerasukan setan, Yesus berkata: “Dengan apakah Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.” (Mat. 11:16-19).

Maksudnya, kelakuan orang-orang itu sama saja, tidak ada satu pun nabi yang dikirim ke tengah-tengah mereka yang tidak diperolok-olok. Mereka banyak membuat helah dan berdalih, dan sebenarnya mereka tidak mau mengikuti ajaran-ajaran para nabi. Alasannya beraneka ragam, ada yang mengatakan: “Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan”. Yang lain berkata: “Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: “Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.” (Luk. 14:18-20). Sedangkan yang lainnya lagi berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” (Luk. 9:59).

Ketika orang-orang Farisi menuduh bahwa Yesus menyembuhkan orang yang sakit dengan bantuan Beelzebul, ia berkata kepada mereka: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak akan bertahan. Demikian juga kalau Iblis mengusir Iblis, ia pun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan?” (Mat. 12:25-26).

Yesus juga memberikan perumpamaan: “Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. Tidak mungkin pohon yang baik akan menghasilkan buah yang tidak baik, atau pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” (Mat. 12:33-34 jo 7:17-20).

Ucapan Yesus ini dibenarkan oleh salah seorang yang pernah disembuhkannya dari kebutaan sejak lahirnya. Katanya: “Kita tahu, bahwa ALLAH tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Jikalau orang ini (Yesus) tidak datang dari ALLAH, ia tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh. 9:31-33). Nikodemus, seorang ulama Farisi dan pemimpin Yahudi yang bersimpati terhadap Yesus juga mengatakan: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus ALLAH; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika ALLAH tidak menyertainya.” (Yoh. 3:2). Senada dengan itu Yesus menegaskan, “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh. 7:16; Yoh. 8:28-29).

Yesus Dituduh Sebagai Orang Samaria

Samaria adalah ibukota kerajaan Israel Utara sejak raja Omri (1Raj. 16:24). Pada tahun 722 sM direbut tentara Asyur (2Raj. 17:5). Penduduknya dicampur dengan bangsa-bangsa lain, sehingga agama dicampur juga (2Raj. 17:24-41). Dalam Perjanjian Baru, Samaria adalah daerah di antara Galilea (Utara) dan Yudea (Selatan). Penduduknya dibenci oleh orang-orang Yahudi karena perbedaan agama dan kebiasaan.

Dengan mengatakan bahwa Yesus itu orang Samaria (Yoh. 8:48), mereka bermaksud membangkitkan sentimen agama supaya orang-orang Yahudi memboikot dan menjauhi Yesus. Sebab, orang Yahudi haram bergaul dengan orang Samaria (Yoh. 4:9). Yesus sendiri melarang murid-muridnya untuk masuk apalagi bertablig kepada orang-orang Samaria (Mat. 10:5), meskipun ia ternyata masuk dan bertablig juga ke sana (Yoh. 4:1-42). Mereka juga secara tidak langsung menuduh bahwa Yesus adalah seorang penyembah Baal, karena orang Samaria telah mendirikan mezbah untuk Baal di kuil Baal (1Raj. 16:32). Baal adalah gelar dewa-dewa asli tanah Kanaan yang ditentang para nabi Tuhan dalam Perjanjian Lama. Tugasnya adalah menjamin kesuburan. Karena itu Baal seringkali turut disembah oleh orang Israel sendiri.

Alasan lain mereka menuduh Yesus sebagai orang Samaria, karena mereka beranggapan bahwa Yesus itu adalah anak Yusuf (Luk. 3:23), sedangkan Yusuf yang dianggap ayahnya itu adalah keturunan Ya’kub (Israel). Ya’kub inilah yang menjadi nenek moyang orang-orang Samaria (Yoh. 4:12). Jadi kesimpulan mereka, karena Yesus juga keturunan Ya’kub itu artinya ia orang Samaria. Bagaimana mungkin Yesus, yang keturunan orang-orang Samaria dan penyembah berhala/ dewa Baal atau Beelzebul bisa mendakwakan diri sebagai nabi?

Jawaban Yesus:

Untuk menjawab tuduhan ini Yesus mengingatkan mereka dengan hukum yang terutama dari seluruh Hukum Taurat. Ketika seorang ahli Taurat berdiri untuk mencobai Yesus dengan bertanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Maka jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Ahli Taurat itu menjawab, “Kasihilah Tuhan, ALLAHmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya, orang itu bertanya lagi kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Yesus menjawab bahwa yang dimaksud dengan sesama manusia adalah manusia seluruhnya, tanpa membeda-bedakan agama dan kebiasaan (Luk. 10:25-36). Hal ini dipertegas lagi dengan perkataan Yesus sendiri kepada para muridnya, “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal ALLAH pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat. 5:46-48).

Maksudnya, orang-orang Yahudi yang membangga-banggakan diri bahwa mereka adalah keturunan Abraham (Yoh. 8:39), atau menyombongkan diri bahwa mereka itu menjadi murid-murid Musa (Yoh. 9:28) sebenarnya tidak ada kelebihan apa-apa selama mereka tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh keduanya. Sebaliknya, meskipun ada orang yang bukan keturunan Abraham atau murid Musa tetapi melakukan perintah mereka berdua, sebenarnya orang-orang inilah yang lebih pantas disebut keturunan Abraham atau murid Musa. Jadi, orang-orang Samaria, Kanaan, Yunani dan Roma justru memiliki kualitas keimanan dan kasih yang lebih tinggi dari pada orang-orang Yahudi, bahkan dari pada para murid Yesus sendiri (Mat. 8:10; 15:28; Yoh. 4:19).

Yesus Dituduh Anak Zinah dan Keturunan Para Pezinah

Tuduhan lain yang dilontarkan orang-orang Yahudi adalah bahwa Yesus merupakan anak zinah. Sedangkan mereka sendiri membanggakan bahwa “kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu ALLAH” (Yoh. 8:41). Menurut mereka, jangankan untuk menjadi nabi, menjadi anggota jemaat biasa saja tidak bisa. Bahkan keturunannya yang kesepuluh pun tidak boleh masuk jemaat Tuhan (Ul. 23:2). Bagaimana mungkin orang yang dilahirkan dari zinah bisa mendakwakan diri sebagai nabi?

Jawaban Yesus:

Untuk membantah tuduhan ini Yesus mengatakan, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu katanya sambil menunjuk ke arah murid-muridnya, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Jawaban ini Yesus berikan ketika ia masih mengajar orang banyak di rumah ibadat dan salah seorang memberitahukan kepadanya bahwa ibu dan saudara-saudaranya ada di luar hendak bertemu Yesus (Mat. 12:46-49; Mrk. 3:31-35; Luk. 8:19-21).

Melalui jawaban ini Yesus ingin menegaskan bahwa pada hakikatnya yang berhak disebut sebagai ibu, saudara laki-laki atau saudara perempuan adalah mereka yang secara rohani sama, yaitu melakukan kehendak Tuhan. Apabila disebut ibu, saudara laki-laki atau saudara perempuan hanya karena adanya hubungan kekerabatan jasmani belaka, itu tidak ada lebihnya. Oleh karena itu, salah besar apabila orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Yesus itu anak Yusuf, karena itu hanya anggapan mereka saja (Luk. 3:23; Yoh. 6:42; Mat. 13:55-56). Secara genealogi Yesus bukanlah anak Yusuf, karena ia terlahir bukan karena hasil hubungan antara Yusuf dengan Maryam (Mat. 1:18, 25).

Oleh sebab itu, tuduhan bahwa Yesus adalah anak zinah atau keturunan pezinah tidak dapat dibuktikan, karena ia tidak memiliki garis keturunan laki-laki. Justru sebaliknya, ia terlahir melalui ketetapan Tuhan sebagai kabar gembira bagi Maryam, seorang wanita Yahudi yang saleh dan ahli ibadah (Luk. 1:26-38). Karena ibunya seorang yang saleh, Yesus memperoleh bimbingan dan pendidikan agama yang memadai sesuai hukum Taurat. Ketiga genap delapan hari, ia disunat sesuai hukum Taurat (Im. 12:3; Luk. 1:31). Setelah sempurna waktu pentahiran bagi anak sulung, ia dibawa ke Yerusalem untuk dikuduskan bagi Tuhan (Im. 12:6-8). Yesus juga membayar bea untuk Bait ALLAH (Mat. 17:25) sesuai hukum Musa (Kel. 30:13, 38:26).

Yesus Dituduh Sering Melanggar Hukum Taurat

Tuduhan yang pertama adalah bahwa Yesus tidak menghormati hari Sabat, yaitu ketika murid-murid Yesus melintasi ladang gandum, mereka memetik bulir gandum dan memakannya pada hari Sabat (Mat. 12:1-8). Yesus juga berkali-kali menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat (Mat. 12:9-13; Mrk. 3:1-6; Luk. 6:6-11). Padahal, menurut orang-orang Farisi, hari Sabat adalah hari yang kudus. Pada hari itu tidak boleh melakukan suatu pekerjaan apa pun. Mereka yang melanggar hukumannya adalah mati (Kel. 35:1-3). Oleh sebab itu mereka mengatakan, ”Orang ini tidak datang dari ALLAH, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” (Yoh. 9:16). Bagaimana mungkin Yesus mendakwakan diri menjadi nabi sedangkan ia tidak memelihara hari Sabat?

Jawaban Yesus:

Berkenaan dengan Sabat, Yesus mengatakan bahwa Daud pun pernah melakukan hal serupa, yaitu melanggar kekudusan hari Sabat. Ketika ia dan yang mengikutinya merasa lapar, ia masuk ke dalam Rumah ALLAH dan mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam (Mat. 12:3-4 jo 1Sam. 21:1-6). Begitu juga imam-imam melanggar kekudusan hari Sabat dengan mempersembahkan korban bakaran di dalam Bait ALLAH (Mat. 12:5 jo Bil. 28:9-10).

Apabila murid-murid Yesus dipersalahkan karena hal memetik bulir gandum pada hari Sabat, mengapa Daud beserta para pengikutnya dan imam-imam tersebut tidak dipersalahkan? Padahal, murid-murid memetik gandum dengan tangan adalah sesuai dan diperbolehkan menurut hukum Taurat, meskipun ladang gandum itu bukan milik mereka (Ul. 23:25). Lagi pula bukan Yesus yang melakukan itu. Mengapa ia yang dipersalahkan?

Bahkan orang-orang Farisi sendiri kadang-kadang menyunat anak yang berusia delapan hari pada hari Sabat demi melaksanakan hukum Taurat (Yoh. 7:22 jo Ul. 7:10; Im. 12:3). Apabila ada anak yang lahir pada hari Sabtu, maka hari ketika ia disunat sesuai hukum Musa adalah pada hari Sabtu berikutnya (Sabat). Padahal mereka tahu, pada hari Sabat mereka tidak boleh bekerja. Kalau mereka beralasan, itu untuk menyelamatkan anak tersebut. Maka Yesus juga melakukan itu untuk menyelamatkan orang-orang yang sakit: ”Jikalau seorang menerima sunat pada hari Sabat, supaya jangan melanggar hukum Musa, mengapa kamu marah kepada-Ku, karena Aku menyembuhkan tubuh seorang manusia pada hari Sabat.” (Yoh. 7:23). Jadi untuk melaksanakan hukum Taurat yang satu, mereka juga terkadang menentang hukum Taurat yang lain!

Yesus juga mengecam sikap munafik orang-orang Farisi berkenaan dengan hukum Sabat. Beberapa sikap munafik itu di antaranya, ia katakan: ”Bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?” (Luk. 13:15). Ia juga berkata, ”Jika seorang di antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? Bukankah manusia lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat.” (Mat. 12:11-12). Yesus menambahkan, bagaimana mungkin apabila ada orang yang berniat membunuh mereka pada hari Sabat, mereka tidak akan melarikan diri? (Mat. 24:20).

Yesus juga balik bertanya kepada mereka, ”Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk. 6:9). Ketika datang seorang yang sakit busung air, ia bertanya kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, ”Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” (Luk. 14:3). Tetapi mereka semua diam dan tidak sanggup membantahnya.

Menurut Yesus, karena ”Bapaku bekerja sampai sekarang, maka aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Adalah tidak benar apabila Tuhan pada hari Sabat tidak melakukan apa-apa. Apalagi, ”Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” (Mrk. 2:27). Artinya, tujuan utama dibuat hukum Sabat oleh Tuhan adalah untuk kepentingan dan kemudahan manusia, bukannya untuk kepentingan Tuhan, dan juga bukan untuk mempersulit apalagi mencelakakan manusia.

Yesus Dituduh Mengaku Sebagai “Anak ALLAH” dan “ALLAH” Hakiki

Tuduhan yang lain adalah tuduhan yang sangat berat terhadap Yesus. Menurut orang-orang Yahudi, Yesus telah berkali-kali menyatakan dirinya sebagai Anak ALLAH bahkan menyamakan dengan ALLAH. Itu artinya ia sudah menghujat ALLAH (Luk. 22:70; Yoh. 10:30). Oleh karena itu hukuman yang sesuai menurut hukum Taurat adalah dirajam sampai mati (Im. 24:16). Bagaimana mungkin seorang yang terbukti berkali-kali menghujat ALLAH itu seorang nabi?

Jawaban Yesus:

Ketika Yesus menanyakan atas perbuatan yang manakah sehingga orang-orang Yahudi mau melemparinya dengan batu? Mereka menjawab: ”Bukan karena suatu perbuatan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat ALLAH dan karena engkau, sekalipun manusia saja, menyamakan dirimu dengan ALLAH” (Yoh. 10:33). Namun, apa jawab Yesus? Ia berkata: ”Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ALLAH? Jikalau mereka kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ALLAH –sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan--, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat ALLAH! Karena aku telah berkata: Aku Anak ALLAH?” (Yoh. 10:34-36).

Jadi, Yesus beralasan, kalau kepada nabi-nabi yang lain bisa disebut sebagai ALLAH (Mzm. 82:6), mengapa ia tidak boleh menyebut dirinya ”anak ALLAH”? Para penentang Yesus pun menyebut Tuhan adalah Bapanya: ”Bapa kami adalah satu, yaitu ALLAH.” (Yoh. 8:41). Terhadap nabi Musa, bahkan Tuhan sendiri mengatakan bahwa ia adalah ”ALLAH” (Kel. 7:1). Mengapa mereka sendiri tidak mau dihukum rajam? Mengapa mereka tidak mengatakan bahwa Musa juga patut dihukum rajam? Dengan demikian, Yesus mengemukakan kepada mereka, bahwa kedudukannya lebih rendah dari pada Musa. Sebab ia hanya menggenapi hukum Taurat (Mat. 5:17). Bukankah kedudukan ”Anak” (Anak ALLAH) lebih rendah dari pada kedudukan ”Bapa” (ALLAH) sendiri?


Yesus Dituduh Menyesatkan Masyarakat dan Mau Memberontak

Para ulama Yahudi membawa Yesus ke hadapan Pilatus. Di situ mereka mulai menuduhnya, kata mereka: “Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang dirinya ia mengatakan, bahwa ia adalah Kristus, Raja.” (Luk. 23:2). Penyesatan yang Yesus lakukan itu menurut mereka di antaranya seperti tuduhan-tuduhan di atas. Orang-orang Yahudi juga memfitnah bahwa Yesus ingin menjadi raja Yahudi. Mereka katakan, Yesus telah melarang membayar pajak kepada Kaisar dan ingin memberontak. Bagaimana mungkin orang yang menyesatkan bangsanya bisa mendakwakan diri sebagai nabi?

Jawaban Yesus:

Meskipun Yesus membenarkan bahwa ia seorang raja, tetapi ia menyatakan bahwa hanyalah seorang raja dari sebuah kerajaan rohani. ”Kerajaanku bukan dari dunia ini; jika kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaku telah melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, tetapi kerajaanku bukan dari sini” (Yoh. 18:36). Penjelasan ini dari satu sisi menyebabkan Pilatus membebaskan Yesus, sedangkan pada pihak lain membuat orang-orang Yahudi sangat kecewa.

Ketika Yesus akan ditangkap oleh para pengawal Imam Besar, ia mengatakan kepada mereka: ”Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait ALLAH, dan kamu tidak menangkap Aku.” (Mat. 26:55). Artinya, kalau ajaran Yesus itu menyesatkan banyak orang, mengapa justru orang banyak berbondong-bondong mengikutinya untuk mendengarkan ajaran-ajarannya? Setiap kali Yesus mengajar, Bait ALLAH selalu penuh sesak. Kenapa tidak waktu itu saja mereka menangkapnya?

Apabila Yesus dan para murid juga ingin memberontak, mengapa tidak sejak dulu ketika jumlah murid-murid itu mencapai sekitar lima ribu orang? Apabila Yesus ingin menjadi raja, bukankah dengan jumlah sebanyak itu bisa saja ia menggerakan mereka untuk memberontak? Mengapa itu tidak ia lakukan, malah ia menyuruh orang banyak itu agar pulang? (Mat. 14:22; Mrk. 6:45). Alasannya, Yesus sendiri telah kecewa dengan mereka, sebab yang dikejar oleh mereka adalah keuntungan duniawi (Yoh. 6:59). Sedangkan ajaran-ajaran yang beliau sampaikan tidak pernah mereka laksanakan.

Terhadap tuduhan bahwa ia melarang murid-muridnya membayar pajak kepada Kaisar, sebelum ini Yesus sendiri telah memberikan jawaban yang cemerlang. Jawaban ini bukan saja telah mematahkan muslihat orang-orang Farisi dan Herodian, bahkan lebih dari itu menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang yang sedikit pun tidak berniat untuk menjadi raja duniawi. Ini dipertegas dengan sikap Yesus sendiri ketika orang banyak ingin menjadikannya sebagai raja duniawi mereka. Bila mereka hendak datang dan membawanya dengan paksa untuk menjadikannya raja, ternyata Yesus malah menolak, bahkan ia menyingkir ke gunung seorang diri (Yoh. 6:15). Alasannya, kerajaan yang beliau bawa bukan dari dunia ini tetapi kerajaan rohani alias Kerajaan ALLAH atau Kerajaan Sorga (Yoh. 18:36). Inilah salah satu sebab yang membuat mereka kecewa dan meninggalkan Yesus.

Dalam Injil Matius 22:15-22 (lih. juga Mrk. 12:13-17; Luk. 20:20-26) dikisahkan suatu perikopa tentang ”Membayar Pajak kepada Kaisar”. Orang-orang Farisi dan Herodian berusaha menjerat Yesus secara politis dengan mengajukan sebuah pertanyaan: Katakanlah kepada kami pendapatmu, apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Maksud mereka, apabila Yesus menjawab: ”Ya, bayarlah pajak!” tentu mereka akan mengatakan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus bukanlah Juru Selamat yang mereka tunggu-tunggu. Buktinya, Yesus malah pro pemerintah Romawi yang menjajah mereka.

Sedangkan apabila Yesus menjawab: ”Tidak boleh!” tentu mereka tidak akan membayar pajak dengan alasan, Yesus sang Juru Selamat mereka, telah melarang mereka membayar pajak. Itu artinya, Yesus akan dianggap sebagai pemberontak dan orang-orang Farisi dan Herodian punya alasan untuk melaporkan Yesus kepada pemerintah Romawi. Namun apa jawab Yesus? Ia malah meminta mata uang kepada mereka dan menanyakan gambar dan tulisan siapa yang ada di atas koin tersebut.

Ketika dijawab bahwa itu adalah gambar dan tulisan Kaisar, Yesus berkata kepada mereka: ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada ALLAH apa yang wajib kamu berikan kepada ALLAH.” (Mat. 22:19-22). Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus, lalu pergi. Jadi, upaya mereka untuk menjerat Yesus ternyata tidak berhasil. Jadi tuduhan yang mereka kemukakan di hadapan Pilatus adalah dusta belaka! Inilah yang menyebabkan Pilatus membebaskan Yesus dari tuduhan bahwa ia akan memberontak. Pilatus tidak mendapati kesalahan apa pun padanya. Ia paham, bahwa imam-imam Yahudi telah menyerahkan Yesus karena dengki (Mrk. 15:10).

P E N U T U P

Berbagai tuduhan para ulama Yahudi itu dengan mudah dapat dipatahkan oleh Yesus. Bahkan, Yesus terkadang mengembalikan pertanyaan-pertanyaan itu kepada mereka. Sayangnya, walaupun penjelasan Yesus tidak dapat mereka bantah bahkan sering membuat mereka terdiam seribu bahasa, tetap saja mereka mengulang-ulang fitnah itu. Didorong rasa benci, mereka juga dengan sangat berani menyelewengkan maksud perkataan-perkataan Yesus. Tidak puas dengan itu, mereka pun dengan lancang membuat tuduhan-tuduhan palsu yang tidak pernah dikatakan oleh Yesus sendiri untuk membangkitkan sentimen dan kemarahan, baik masyarakat maupun pemerintah.

------------ooo000ooo------------


KENABIAN YESUS DALAM TIMBANGAN

Telaah Kritis Terhadap Penggenapan Syarat-syarat Kenabian Yesus Menurut Perjanjian Baru

Oleh:

Rakeeman R.A.M. Jumaan

Dosen Perbandingan Agama dan Bahasa Ibrani

Jamiah Ahmadiyah Indonesia, Bogor

PENDAHULUAN

Menurut Xavier Leon – Dufour, kata nabi dalam bahasa Yunani (prophetes) dan Ibrani (נביא, naavi) memiliki makna yang sama, yaitu “orang yang diutus dan diilhami oleh ALLAH untuk menyatakan sesuatu yang tersembunyi, mengungkapkan suatu nubuat, menyatakan pikiran dan kehendak Ilahi, dan juga untuk meramalkan masa depan.” (Ensiklopedi Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, Cet. IV, 1995, hal. 412).

Kata Yunani prophetes berasal dari pro: “sebelum(nya)” dan phemi: “bicara”, yang arti harfiahnya adalah “sebagai ganti sesuatu”, “di muka umum”, dan “secara umum”. Dari kata prophetes inilah orang Inggris kemudian menyebut nabi dengan prophet. Dikarenakan menurut Hadhrat Masih Mau’ud as, semua bahasa di dunia ini induknya adalah bahasa Arab (Rohani Khazaa-in, Jld. 9; Minan al-Rahman, hal. 166), maka tidak mengherankan apabila akar kata prophemi juga dapat ditelusuri dalam bahasa Arab, yaitu dari wara-a ( وراء ): “di dalam/luar” dan famm ( فـم ): “bibir/mulut”, artinya “menyatakan sesuatu yang tersembunyi”.

Sedangkan Perjanjian Baru (Y. he kaine diatheke) adalah keseluruhan 27 kitab yang diterima Gereja sebagai kitab-kitab kanonika (Y. kanon: “patokan”). Yaitu kitab-kitab yang diberi nama Alkitab atau Kitab Suci dan secara resmi diakui oleh bangsa Yahudi dan Gereja-gereja sebagai tulisan-tulisan yang diilhami ALLAH. Ia disebut “baru” bukan untuk menggantikan yang lama (Perjanjian Lama), melainkan untuk menggenapkan yang lama itu, sebab hubungan antara keduanya tetap vital dan lestari (2Kor. 3:6).

Dari pengertian di atas, dapat dibuat suatu pedoman bahwa apabila seseorang diutus atau memperoleh wahyu dari Tuhan, kemudian ia juga bernubuat --baik meramalkan peristiwa yang akan terjadi maupun memberitakan peristiwa yang telah terjadi-- dan melakukan banyak mukjizat, maka ia bisa disebut sebagai seorang nabi. Oleh sebab itu, melalui tolok ukur ini kita dapat menguji keabsahan kenabian Yesus berdasarkan nats-nats Perjanjian Baru.

KENABIAN YESUS DALAM SOROTAN

Yesus Menerima Wahyu Tuhan

Dalam bahasa Latin, wahyu disebut dengan kata revelare (dari re: “kembali/berulang” dan velum: “selubung”), artinya: “membuat dikenal kembali, menyingkapkan selubung”. Dari kata inilah berasal kata revelation dalam bahasa Inggris. Sedangkan padanannya yang tepat dalam bahasa Yunani adalah apo-kalypto. Artinya, ALLAH menyatakan diri melalui ciptaan-Nya, bukan untuk memperkenalkan diri (untuk yang pertama kalinya), melainkan untuk dikenal kembali; dengan demikian ALLAH melibatkan diri secara berulang-ulang dalam suatu dialog dengan berbagai ciptaan-Nya (Rm 1:19-21). ALLAH menyatakan diri-Nya pula melalui teofani atau perantara: malaikat, ucapan tertentu, penglihatan dan tanda-tanda.

Apabila diperhatikan dengan seksama, dalam berbagai situasi dan kesempatan, Yesus selalu menyampaikan kepada orang-orang sezamannya bahwa ia adalah seorang yang telah menerima wahyu dari Tuhan; bahwa Tuhan telah mengutusnya untuk memberitakan Injil Kerajaan Sorga atau Kerajaan ALLAH (Mat. 4:17, 23-25), melakukan berbagai mukjizat (Mat. 9:27-31; 32-34; Mrk. 9:14-29) dan menggenapi nubuat. Sebelum memulai misinya, Yesus berpuasa selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun; setelah hari terakhir ia dicobai oleh Iblis dalam bentuk mukhathaah ilhamiyah. Namun si pencoba tidak mampu melunturkan keimanan Yesus (Mat. 4:1-10; Mrk. 1:12-13; Luk. 4:1-13).

Nats-nats Perjanjian Baru di bawah ini membuktikan hal itu.

Pertama, dalam perikopa “Percakapan Dengan Perempuan Samaria” (Yoh. 4:1-42) diceritakan tentang percakapan antara Yesus dengan seorang perempuan Samaria yang hendak menimba air di sumur. Dalam kesempatan itu Yesus berbicara mengenai karunia yang akan diberikan ALLAH kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Ketika perempuan tersebut terheran-heran karena disangkanya karunia itu hanya berupa air sumur, maka Yesus menjawab: “Barang siapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barang siapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yoh. 4:13-14).

Dari ucapan ini kita maklum, bahwa “air” yang dimaksud Yesus bukanlah air sebagaimana yang akan ditimba oleh perempuan Samaria itu. Karena berkenaan dengan air dari sumur Ya’kub itu, Yesus sendiri telah mengatakan bahwa “barang siapa minum air ini, ia akan haus lagi”. Oleh sebab itu, pastilah air yang dimaksud Yesus bukanlah air dalam arti harfiah, melainkan wahyu-wahyu yang telah Yesus terima dari Tuhan. Alasannya, ketika berbicara tentang “makanan” pun Yesus menjawab dengan redaksi yang sama: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” Ketika murid-murid salah memahami, Yesus meluruskan mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yoh. 4:32-34).

Kedua, dalam perikopa “Roti Hidup” diceritakan mengenai percakapan Yesus dengan orang-orang Yahudi. Yesus berkata, “Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang telah turun dari sorga: Barang siapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yoh. 6:48-51).

Perkataan Yesus ini juga tidak dapat dipahami oleh orang-orang Yahudi, termasuk oleh para murid sendiri. Itulah sebabnya mereka saling bertengkar sesama mereka mengenai hakikat “roti hidup’ yang berupa “darah dan daging Yesus” itu. Apakah itu darah dan daging dalam arti sesungguhnya, ataukah hanya sekedar kiasan? Sayang, mereka lebih memilih arti yang pertama. Oleh sebab itu Yesus menegaskan, “Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barang siapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh. 6:58).

Dikarenakan mereka tetap tidak dapat memahaminya, akhirnya banyak yang goyah keimanannya. Mereka mengatakan, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh. 6:60). Akhirnya, “mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia lagi.” (Yoh. 6:66). Tepatlah apa kata Yesus, “Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” (Yoh. 6:65). Padahal, jauh-jauh hari sebelumnya Yesus telah berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut ALLAH.” (Mat. 4:4). Artinya, “air hidup”, “roti hidup”, “darah dan daging-Ku” yang dimaksudkan Yesus bukanlah secara letterlijk, melainkan figuurlijk dalam arti firman-firman/wahyu-wahyu Tuhan.

Yesus Mengadakan Banyak Mukjizat

Kata mukjizat yang dalam bahasa Inggris disebut miracle berasal dari kata Latin, mirari, artinya: “menjadi heran”. Dalam bahasa Yunani, dipergunakan empat kata untuk menyebut kata mukjizat: dynamis: “kuasa-kuasa”; teras: “hal-hal ajaib”; semeion: “suatu tanda”; thaumazo: “membuat terheran-heran”. Jadi, yang dimaksud dengan mukjizat menurut Alkitab adalah tindakan penuh kuasa yang dilakukan oleh seorang nabi, dengannya ALLAH memberikan suatu tanda kepada manusia sehingga membuat mereka terheran-heran dan akhirnya memuliakan nama Tuhan. Melalui mukjizat inilah manusia mampu melihat tanda-tanda Tuhan (semeia kai terata) yang hidup.

Menurut Perjanjian Baru ada 25 cerita tentang mukjizat penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus. Di antaranya penyembuhan dari: demam (Mat. 18:14-15; Mrk. 1:29-31; Luk. 4:38-39), kusta (Mat. 8:1-4; Mrk. 1:40-44; Luk. 5:12-16), kelumpuhan (Mat. 8:5-13; Luk. 7:1-10), ketuli-bisuan (Mat. 9:32-34; Mrk. 7:31-37), kebutaan (Mat. 9:27-31; Mrk. 8:22-26; Yoh. 9), penyakit ayan/ epilepsi (Mat. 17:14-21; Mrk. 9:14-29; Luk. 9:37-43), rematik (Luk. 13:10-17), dan lain-lain. Kesemua mukjizat tersebut terjadi untuk menunjukkan kuasa ALLAH yang sedang berkarya di dalam/melalui Yesus sehingga orang-orang Yahudi kembali memuliakan ALLAH. Sayangnya, meskipun banyak terjadi mukjizat, tetap saja banyak orang yang tidak melakukan pertobatan (Mat. 11:20). Seolah-olah mukjizat yang dilakukan Yesus itu hanya hiburan belaka.

Menurut penuturan penulis Injil Yohanes, ketika orang-orang Yahudi menyaksikan mukjizat Yesus memberi makan lima ribu orang, banyak yang mengatakan bahwa “Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang.” (Yoh. 6:14). Bahkan anak-anak kecil pun, setelah menyaksikan mukjizat Yesus ketika menyembuhkan orang-orang buta dan timpang, berseru: “Hosana bagi Anak Daud!” (Mat. 21:15). Seruan inilah yang membuat imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat sangat jengkel. Mereka yang siang malam berusaha membuktikan kepalsuan kenabian Yesus dengan berbagai cara, ternyata tidak banyak membuahkan hasil. Orang-orang tetap saja menganggap Yesus sebagai seorang nabi, bahkan lebih dari sekedar nabi, yaitu Mesias.

Yesus Mengetahui Berbagai Peristiwa Melalui Nubuatan

Menurut orang-orang Farisi, salah satu syarat menjadi seorang nabi ialah, mengetahui segala sesuatu. Artinya, menurut mereka, seorang nabi haruslah juga seperti seorang pelihat (2Taw. 9:29; 12:15). Ia mengetahui setiap peristiwa yang lampau dan juga yang akan datang. Bukankah Tuhan selalu memberitakan kabar-kabar gaib kepadanya?

Berkaitan dengan Yesus, orang-orang Farisi juga menerapkan tolok ukur yang sama. Dalam perikopa “Yesus Diurapi Oleh Perempuan Berdosa” (Luk. 7:36-50) diceritakan bahwa ketika seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya, seorang perempuan sundal juga ikut datang ke sana setelah mendengar Yesus ada di sana. Ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakinya, lalu membasuh kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” (Luk. 7:39).

Dalam perikopa “Percakapan Dengan Perempuan Samaria” (Yoh. 4:1-42), disebutkan pula tolok ukur yang sama untuk menunjukkan keabsahan seorang nabi. Ketika perempuan Samaria sudah mulai tertarik dengan ajaran-ajaran yang Yesus sampaikan melalui perumpamaan, ia diperintahkan: “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini!” Kata perempuan itu: “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya: “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.”

Ucapan Yesus ini membuat perempuan itu kaget, dari mana ia mengetahui hal-hal yang bersifat pribadi seperti itu? Apakah ada orang lain yang pernah menceritakan kepadanya? Mustahil! pikirnya. Kalau begitu, pastilah orang itu adalah seorang nabi atau Mesias; sebab hanya nabi saja yang akan memberitakan segala sesuatu kepada mereka. Akhirnya perempuan Samaria itu menyatakan, “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.” (Yoh. 4:19). Alasan perempuan itu mengatakan demikian, karena ia memiliki kepercayaan bahwa Mesias atau Kristus akan datang.

Yesus sendiri berkali-kali menubuatkan tentang dirinya yang akan mengalami nasib yang sama sebagaimana para nabi sebelumnya: ditolak, dihina, dicerca, dianiaya bahkan dibunuh. Ketika orang-orang sekampungnya menolak misinya, ia mengatakan bahwa “seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya” (Mat. 13:57; Mrk. 6:4; Luk. 4:24; Yoh. 4:44). Ia juga menubuatkan, “tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem” (Luk. 13:33; Mat. 23:37-39).

PENUTUP

Sebagai penutup, penulis kutipkan ucapan Kleopas, seorang murid Yesus berkenaan dengan gurunya: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan ALLAH dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.” (Luk. 24:19-21).

------------ooo000ooo------------


P E R N Y A T A A N

Hadhrat Aqdas Mirza Ghulam Ahmad

AL-IMAM AL-MAHDI & AL-MASIH AL-MAU’UD AS

Pendiri Jemaat Islam Ahmadiyah

T e n t a ng

HADHRAT ISA AL-MASIH AS IBNU MARYAM

“Tidak diragukan lagi, bahwa Hadhrat Isa Al-Masih as adalah seorang Nabi yang benar.” (Arba’in, no. 2).

“Adalah kepercayaanku, bahwa Al-Masih as adalah seorang Nabi dan Rasul yang benar dan dicintai oleh Tuhan, namun ia bukanlah Tuhan.”

(Hujjat al-Islam, h. 31).

“Al-Masih as adalah seorang yang diterima dan disayangi oleh Tuhan. Barang siapa yang memfitnahnya, ia adalah orang yang jahat.”

(I’jaz al-Ahmadi, h. 25).

“Aku telah ditugaskan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa untuk menyatakan bahwa Hadhrat Isa as adalah seorang Nabi Tuhan yang benar, sejati dan saleh serta aku ditugaskan untuk mempercayai kenabiannya.”

(Ayyam al-Shulh, cover).

“Aku bersumpah, bahwa aku memiliki kecintaan yang sejati kepada

Al-Masih as; tidak seperti (kecintaan) yang kamu miliki karena

padamu tidak terdapat cahaya yang dengan itu saya dapat

mengenalinya. Tidak diragukan, bahwa ia adalah seorang Nabi yang dikasihi dan disayangi Tuhan.”

(Da’wat-e-Haqq).


1 comment:

Muhammad Hajaruddin said...

Assalamu alaikum
Ana ingin nanya dikit, Kliping ini di kelola oleh siapa? Wassam Hajaruddin di www.Beautifulindonesiaandpeace.blogspot.com