Showing posts with label muslim. Show all posts
Showing posts with label muslim. Show all posts

Wednesday, March 11, 2009

[thejakartaglobe.com] Ahmadiyah and Indonesian Democracy

http://www.thejakartaglobe.com/opinion/article/12571.html

March 12, 2009
Wim Tangkilisan

Ahmadiyah and Indonesian Democracy
The Koran is very clear that “in matters of faith there shall be no coercion.”

And it stresses that “if it had been the will of your Lord that all the people of the world should be believers, then all the people of the earth would have believed! Would you now compel humankind against their will to believe?”

Now comes a Muslim leader, Cholid Ridwan, a chairman of the Indonesian Council of Ulema, or MUI, who warns the President of Indonesia that if he does not outlaw Ahmadiyah, an Indonesian-based Islamic sect, the council will issue a fatwa, or religious edict, prohibiting Indonesian Muslims from voting for President Susilo Bambang Yudhoyono in the upcoming presidential elections.

Ahmadiyah is a sect of Indian origin, with some links to Sufism. It is controversial because of its claim that its founder, Mirza Ghulam Ahmad, was the last of the prophets, contrary to the basic tenet of Islam that the final of the prophets is Muhammad.

The sect is not new to controversy. In the 1930s, it was rumored that independence hero and former President Sukarno had become a propagator of Ahmadiyah. He denied it in writing, but in the process he wrote a few words of praise for the good behavior of its adherents. He was emphatic, however, that he was not one of them.

Today there are Muslim circles in Indonesia that clamor for an outright ban against the sect. That is old news. What is new is the election-related threat of a fatwa against the president if he does not outlaw the sect.

Democracy is not just about elections. Even more essential is the way minorities are treated by the majority.
Another Muslim leader, Umar Shihab, also a chairman of the MUI, says that Cholid speaks only for himself. Furthermore, he says no such fatwa is being prepared. No threat of one. But, in effect he says that it would be nice indeed if the president did outlaw the sect.

The presidential spokesman, Andi Mallarangeng, says that this is just one more sign that everyone has caught election fever. “We don’t need to worry about it at all,” he said.

What indeed is there to worry about then? We perhaps have more urgent things to concern ourselves with, like corruption in the House of Representatives and getting the economic stimulus package up and running.

There is, of course, the question of what Islam really teaches about tolerance, about the command against coercion on matters of faith. Where does it say in the Koran or in the Hadith that an exception has to be made in the case of the Ahmadiyah? The Muslim faithful may wish to obtain some clarity on that.

Since I am not a Muslim, I should let this be a matter among Muslims. But as an Indonesian, I am most concerned about the political implications of the issue. And when I say political, I don’t mean electoral politics. President Yudhoyono, I think, will win or lose the election on the basis of his performance as leader of the nation, fatwa or no fatwa.

What I mean is Indonesian democracy. I mean Indonesia’s aspiration and claim to be the world’s third largest democracy. I mean the pride that the Indonesian people derive from our international reputation as living proof that Islam, democracy and modernization can flourish together.

I mean human rights. Freedom of thought. Freedom of speech. Freedom of association.

Democracy is not just about elections. Even more essential to democracy is the way minorities are treated by the majority — whether their rights are held sacred or trampled upon.

We take pride in our tradition of m usyawarah untuk m ufakat , or consultations leading to consensus, a process in which all views are spoken for and all interests are taken into account. But all I have been hearing about Ahmadiyah are the threats against them.

--
Wim Tangkilisan is the president and editor in chief of the Jakarta Globe.

[The Jakarta Post] Let's agree to disagree on Ahmadiyah

http://old.thejakartapost.com/detaileditorial.asp?fileid=20090311.S01&irec=1


Your photographer depicted the demonstration demanding the dissolution of the Islamic sect Jamaah Ahmadiyah in Indonesia (The Jakarta Post, March 6, p. 4). As you published the photograph, I should like to comment on it.

Islam teaches us to behave and to speak politely. Prophet Muhammad's whole life is an example of this. He never spoke harsh words nor uttered foul language either to his followers or his enemies. I think Muslims in Indonesia must strictly follow this example, especially when speaking of something about which he has no knowledge.

The Ahmadiyah opponents suppose that Mirza Ghulam Ahmad died in an unaccepted way. Mirza Ghulam Ahmad was a claimant to the Messiah and the Mahdi.

After his declaration to Mahdihood, he was opposed by most of those around him. He was even boycotted and excommunicated. When he was about to breathe his last, it was too far for his opponents to go to visit him and watch the way he died, since they had never come near him or sat with him or had any conversation with him before.

Logically, therefore, none of his opponents knew how he died; only his followers, who happened to be present at the time, knew the truth. His opponent's claims about what happened, therefore, are absolutely false and misleading.

The fact Ahmadiyah opponents demand that Ahmadiyah followers not use any Islamic terminology is proof that Ahmadiyah has been Islamic from the beginning.

Belief in the coming of the Mahdi and the Messiah is also an Islamic tenet. The dispute is, in fact, about the interpretation of Surah Al-Ahzab verse 40; Ahmadiyah interpretation of it is supported by the Arabic lexicon and Arabic usage.

To reject it is tantamount to rejecting the whole of the Arabic lexicon. Thus it is not an issue of right or wrong, but a matter of like and dislike. If one does not like the Ahmadiyah interpretation, one is free to do so but express it in a proper manner. Let us agree to disagree, and pray for this country's unity in diversity.

Abdul Mukhlis
Jakarta

Tuesday, March 04, 2008

SALAT Sarana Mensucikan Diri

SARIPATI/Kutipan Khotbah Jumat Imam Jemaat Muslim Ahmadiyah Sedunia Sayyidina Hadhrat Amirul Mukminin Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih V atba. di Mesjid Baitul Futuh London Tanggal 15 Februari 2008 (8 Shaffar 1429)


SETELAH mengucapkan tasyahud, taawud serta tilawat Alquran Surah Al-Fâtiĥah (QS 1:1-7) dan QS [Al-‘Ankabût] 29:46, Hudhur atba. bersabda bahwa sebagaimana kita maklumi bahwa abad yang ke-14 penanggalan Islam merupakan takdir dan Janji Allah swt., diturunkannya seorang pencinta sejati Hadhrat Nabi Besar Muhammad-mustafa Rasulullah saw. sebagai tonggak ditegakkan kembali ajaran beliau, yaitu Hadhrat Imam Mahdi-dan-Almasih Yang Dijanjikan (Masîĥ Mau’ûd) a.s.

Beruntunglah kita yang mendapat taufik Tuhan Yang Maha Kuasa karena baiat di tangan beliau dan menjadi Anggota dari Jemaah ini. Tetapi, baiat tidak akan memiliki makna apa pun terkait tujuan diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. melaksanakan dakwah ini. Baiat memberikan beberapa tanggung jawab untuk kita laksanakan.

Kewajiban tersebut harus kita mengerti dan penuhi sebagaimana yang pernah Para Awwalin zaman Hadhrat Rasulullah saw. laksanakan dengan sangat baik. Sehingga, mereka memiliki kedudukan dan status Waliyullah. Dan seterusnya, mereka pun mensucikan orang-orang lain.

Hudhur atba. bersabda bahwa pemikiran tersebut harus kita pahami. Jika tidak demikian, maka kita bukan orang yang benar-benar mengerti akan posisi dan kedudukan Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

Dalam QS [Al-Jumu’ah] 62:4 menyebutkan bahwa Hadhrat Rasulullah saw. akan mensucikan umat beliau pada Akhir Zaman seperti halnya beliau biasa mensucikan para Sahabi beliau pada zamannya. Ini akan terjadi melalui pencinta sejatinya—Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s., yang mendirikan Jemaah Para Kaum Akhirin guna mempertautkan dengan martabat, warna dan aroma iman Para Kaum Awwalin.

Janji Allah swt. kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah memberi kemajuan pada Jemaah ini, dan Tuhan selalu menepati janji-janji-Nya. Pada zaman lampau, kita telah menyaksikan sempurnanya janji-janji tersebut. Dan sekarang pun, kita sedang menyaksikannya. Bahkan pada masa mendatang, kita akan menyaksikannya terus-menerus—insya Allah.

Akan tetapi, Hudhur atba. menasihatkan, agar kita harus selalu ingat bahwa kita bisa layak menerima kesempurnaan janji-janji itu, bila kita penuh perhatian mengadakan tazkiyah nafs atau pensucian hati. Pensucian hati merupakan tanggung jawab setiap Ahmadi baik terhadap diri sendiri maupun terhadap keluarga dan orang-orang yang tinggal di lingkungan sekitar. Hal itu harus sesuai dengan tuntunan Alquran Karim, yang pemahamannya harus mengikuti amalan dan tata cara yang telah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ajarkan kepada kita guna mencegah diri dari keburukan-keburukan. Untuk itu dibutuhkan salat.

Ibadah salat merupakan sarana yang sangat penting untuk kesucian rohani kita sebagaimana firman-Nya dalam QS 29:46 sebagai perintah mendirikan salat beserta unsur-unsur lain di dalamnya dan menunaikannya dengan penuh ikhlas. Alquran sarat dengan ajaran-ajaran tazkiyah nafs, dan untuk mengamalkannya diperlukan taufik dari Allah swt.. Jika beribadah sambil bersujud di hadapan Allah swt. dengan hati tulus ikhlas dan mendapat kesan-kesan baik dari ajaran-ajaran Allah swt., kemudian berusaha menjauhkan diri dari keburukan-keburukan lalu mengamalkan hukum-hukum Allah swt., maka ibadah salat tersebut, tentu memberi kesan kuat untuk terus-menerus membimbing melakukan zikir kepada Allah swt.. Jika ada seorang mukmin yang demikian, pasti menjadi orang yang betul-betul berhasil melakukan tazkiyah nafs bagi dirinya.

Menunaikan salat penuh keikhlasan merupakan kewajiban asasi bagi tiap Ahmadi. Ini tidak cukup hanya dengan melaksanakan salat dua-tiga kali saja. Melainkan, harus berusaha gigih menempuh lima kali salat fardu sehari-semalam sebagai standar pencapaian kesempurnaan ibadah.

Salat merupakan batu loncatan bagi orang yang baru memulai perjalanan meraih martabat ibadah seperti orang-orang Awwalin. Salat lima waktu merupakan benih kebaikan yang akan menumbuhkan pohon yang memberi kelebatan buah-buahnya. Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Anda akan dikenal sebagai orang mukmin melalui salat lima waktu dan melalui akhlak Anda yang baik.”

Kita wajib menanam benih ini di dalam kalbu dan memeliharanya jangan sampai keadaan iklim dan cuaca memberinya kesan buruk. Jika kita tidak menjaga salat-salat tersebut, maka keadaannya bagaikan ladang yang di dalamnya tumbuh berbagai macam tanaman liar dan akan mengganggu pertumbuhan tanam-tanaman lain di dalamnya. Keburukan-keburukan itu akan menghalangi perkembangan amal-amal baik kita. Sementara itu, kenyamanan naungan di bawahnya akan mendatangkan buah-buahan yang baik dan lebat. Pohon itu akan menjaga dan melindungi kita dari setiap keburukan.

Sebagai ibadah yang merupakan sarana peningkatan kemampuan amal saleh, maka setiap Ahmadi harus mengintrospeksi diri dan keluarganya, sampai di mana kita sesuai dan dapat dikenal sebagai khaddim agama yang memiliki akhlaqul karimah.

Berkenaan pentingya salat, kutipan sabda Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. lebih lanjut menjelaskan bahwa salat merupakan amal saleh. Dengan mengamalkannya, kita menjauhkan diri dari kelemahan manusiawi. Karenanyalah salat diberi nama doa, dan kita jangan lengah menunaikan salat. Melalui salat, manusia akan banyak memperoleh kemajuan.

Diharapkan pula, agar kita berkesinambungan dalam menanamkan kecintaan terhadap Tuhan di dalam sanubari. Karenanya, tidak ada amalan lain yang lebih baik selain ibadah salat. Ibadah puasa dilakukan setahun sekali, zakat hanya terbatas pada orang yang mencapai nisabnya, sedangkan salat diharuskan bagi kita untuk menunaikannya lima kali sehari semalam. Jangan sekali-kali menyia-nyiakan ibadah salat.

Seseorang yang berdiri di hadapan Tuhan, hanya memerlukan keyakinan kuat bahwa sesungguhnya dirinya sedang berdiri di hadapan Allah swt.. Jika Dia menghendaki tentu akan memberikan segala sesuatu yang dimohonkan saat itu juga. Dengan berdoa sambil merendahkan diri, tidak berputus asa, tidak berprasangka buruk dan merasa yakin akan pertolongan-Nya, maka kita akan segera menyaksikan keadaan yang menyenangkan dan turunnya karunia dan manifestasi Allah swt..

Manusiawinya, pikiran sering tertuju pada perkara buruk berulang-ulang. Karena itu, untuk menjaganya perlu amal atau usaha berkesinambungan dengan cara menjaga baik-baik salat kita. Hal ini telah QS [Al-Baqarah] 2:239 isyaratkan sebagai hal yang sangat asasi.

Adakalanya tiap orang selalu lengah dan berada dalam kegiatan-kegiatan duniawi atau dalam kemalasan yang menghambat mendirikan salat. Bila kita berhasil menjaga salat yang tiada henti dan penuh ketaatan tersebut, maka salat akan memelihara kita, salat-salat sunah akan memelihara salat-salat fardu, salat-salat nafal akan memelihara salat-salat sunah, dan dari keadaan seperti itu, seorang mukmin dapat kita kenal.

Dengan menjaga salat, berarti kita telah melakukan perubahan diri menuju kesucian sebagai kewajiban khusus bagi setiap Muslim Ahmadi. Sehingga, asas keimanan akan semakin kuat. Kesaksian ayat “Far’uhâ fi`s-samâ`i—Cabang-cabangnya menjangkau sampai ke langit” dalam QS [Ibrâhîm] 14:25), menjadikan kemakbulan doa-doa seorang mukmin dan standar-standar kebaikannya, menjulang tinggi hingga ke Arasy. Bila semangat hati setiap Ahmadi timbul keinginan dan asa untuk meraih kedudukan iman seperti itu, tentu diperlukan semangat khusus dan kekerasan hati untuk menginginkan serta meningkatkan kadar ibadah salatnya lebih tinggi lagi.

Khusus mengenai disiplin waktu mendirikan salat, QS [Banî Isrâ`îl/Al-Isrâ`] 17 :79 menyitir firman Allah swt. mengenai penentuan macam-macam waktu salat. Dengan panjang lebar, Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bahwa Allah swt. telah membagi musibah-musibah ke dalam lima bagian. Yakni—pertama Salat Zuhur: Datangnya musibah yang menimbulkan takut. Kedua, Salat Asar: Melangkah ke depan di saat menjalani musibah. Kemudian—ketiga, Salat Magrib: Timbul keputusasaan. Lalu—keempat, Salat Isa: Zaman kegelapan penuh musibah. Dan akhirnya—kelima, Salat Subuh: Datangnya fajar cinta kasih Allah swt.. Inilah lima macam waktu yang digambarkan di dalam waktu-waktu salat. Lima waktu salat yang Allah swt. tetapkan ini, tidak dipaksakan. Hal tersebut menggambarkan keadaan rohani manusia.

Dari penjelasan Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. tentang ayat tersebut, zaman atau keadaan yang ayat “Inna ma’a`l-‘usri yusrâ[n]—sesudah-kesukaran-akan-ada-kemudahan” lukiskan telah tiba. Jadi, seorang yang beriman jangan merasa malas untuk menunaikan Salat Subuh. Pada waktu itu, sudah tiba masanya mendapatkan banyak kemudahan dan faedah yang sebanyak-banyaknya dan menjadikan tempat tidur sebagai “istirahat”.

Bila perjalanan tiap hari dimulai dan berakhir dengan pikiran seperti itu, maka setiap Subuh tiba, salat kita akan memberi kesaksian bahwa sepanjang hari hingga malam telah dilewatkan dengan keadaan hati yang bertakwa. Inilah sarana bagi terjadinya perubahan besar pada diri seorang mukmin yang telah Allah swt. wajibkan bagi kita sebagaimana firman-Nya dalam QS [An-Nisâ`] 4:104.

Semoga Allah swt. memberi taufik kepada kita agar dapat mendirikan salat sebagai rukun yang sangat penting ini. Semoga kita menjadi penolong-penolong Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. melalui tazkiyah nafs yang betul-betul menjaga salat-salat kita tepat waktu. Semoga Allah swt. memberi taufik kepada kita untuk melakukan itu semua. Amin.

Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. bersabda, salat adalah hak Allah swt.. Karenanya, harus kita tunaikan sebaik-baiknya dan jangan menjalani kemunafikan tinggal bersama musuh-musuh Allah swt.. Kita haru senantiasa menjaga kesetiaan dan kesungguhan kepada-Nya. Biarlah jika semua rumah kita dihancurkan, akan tetapi jangan sekali-kali kita meninggalkan salat.

Orang yang menganggap “Salat itu merugikan” adalah kafir atau munafik. Sesungguhnya, dengan mengatakan bahwa “Mengerjakan salat banyak mengalami kerugian dan pekerjaannya terbengkalai”, di dalam dirinya terdapat racun. Sebagaimana manisnya barang makanan yang dirasakan pahit oleh orang yang sakit, maka demikian pula salat yang tidak akan dapat dirasakan lezat oleh orang yang seperti itu. Salat meluruskan iman, memperbaiki akhlak dan memperbaiki keadaan dunia.

Kelezatan salat mengalahkan segala jenis kelezatan dunia, yang untuk mencarinya manusia harus membelanjakan ribuan dollar, tapi hasilnya bisa menimbulkan berbagai penyakit. Sedangkan salat, adalah surga yang diraih dengan mudah oleh orang yang mendapatkannya. Di dalam Alquran disebutkan dua macam surga, salah satunya adalah surga dunia berupa lezatnya salat.

Salat bukan merupakan pajak yang dipaksakan, melainkan sebuah komunikasi dan daya tarik antara hamba dengan Tuhan-nya. Untuk melestarikannya, Allah swt. menjadikan salat sebagai sarana supaya jalinan ini tetap erat dan telah menanamkan kelezatan di dalamnya.

Seperti sepasang insan yang telah menikah, jika dalam pergaulan dan hubungan mereka tidak terdapat kenikmatan tentu akan timbul keresahan dalam kehidupan mereka. Demikian pula, jika dalam salat tidak terdapat kelezatan, maka jalinan antara hamba dengan Tuhan akan terputus.

Dengan khusyukan doa kita kepada Allah swt. sedemikian rupa, maka jalinan tersebut akan sangat dalam dan erat sekali, penuh cahaya, tak terlukiskan dengan kata-kata. Tapi, jika keadaannya tidak seperti itu, maka manusia tak ubahnya seperti hewan.

Di Denmark, terjadi kezaliman yang sangat biadab, yang menunjukkan kekotoran, permusuhan dan kedengkian hati: Penerbitkan kembali karikatur Wujud Suci Nabi Agung kita Hadhrat Muhammad-mustafa Rasulullah saw. pada sebuah surat kabar setempat. Alasannya, mereka ingin membalas tindakan polisi yang telah menangkap tiga orang kawan mereka yang telah membuat karikatur tersebut tiga tahun yang silam.

Tindakan mereka telah menyakiti hati Umat Islam di seluruh dunia. Padahal, mereka telah menyatakan sebagai bangsa penegak keadilan. Adilkah itu? Seseorang telah berbuat kesalahan lalu hukuman dijatuhkan kepada orang lain lagi, jika hal itu mereka anggap perbuatan adil, maka ada lagi yang ‘lebih adil’ dari mereka, yaitu Sang Aĥkamu`l-Ĥâkimîn swt., Yang-tinggal di atas Arasy, Yang Menguasai alam semesta, Yang-akan menunjukkan keadilan-Nya. Karena, Dia-lah Ghalîb dan juga Dzu`l-Intiqâm, Yang memberi tindak-balas terhadap orang-orang yang tidak mau berhenti dari perbuatan jahat mereka.

Itulah inti perkara yang telah Allah swt. terangkan kepada kita. Cukuplah Tuhan untuk melakukan tindak balas terhadap mereka yang telah melakukan kejahatan seperti itu. Bagaimana cara Allah swt. menangkap mereka? Hanya Dia sendiri yang Maha Tahu. Tugas kita hanya memberi pengertian kepada mereka. Dan kita pun telah melakukan dengan sebaik-baiknya. Kita telah menerbitkan tulisan-tulisan tentang hal tersebut dan mengirimnya kepada editor surat kabar yang bersangkutan, telah menjumpai orang-orang tertentu dan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan mereka.

Jika mereka tidak mau berhenti dari perbuatan buruk mereka, maka urusannya kita serahkan kepada Allah swt.. Tugas kita adalah sujud dan berdoa sebanyak mungkin kepada-Nya. Dan harus berusaha lebih keras dari sebelumnya, menerapkan contoh keteladanan Hadhrat Rasulullah saw. yang baik pada diri kita.

Kita mempunyai Tuhan yang telah Hadhrat Rasulullah saw. perkenalkan, Tuhan Yang sangat dicintai Hadhrat Rasulullah saw.. Dia Yang memiliki segala kekuasaan dan kedaulatan, dan Dia akan memperlihatkan kekuasaan-Nya—insya Allah. Tugas kita hanya mengemukakan keluh rasa hati yang terluka kepada-Nya. Di hadapan-Nya-lah kita hadir dan di hadapan-Nya-lah kita tundukkan kepala kita.

Kita harus panjatkan puji-sanjung serta selawat kepada Hadhrat Rasulullah saw.—lebih banyak dari sebelumnya. Kewajiban kita adalah, bila terjadi peristiwa semacam ini, kita harus berusaha segera dan lebih cepat dari semula menanganinya dan lebih keras memanjatkan doa kepada Tuhan. Kita harus berusaha lebih keras melakukan tazkiyah nafs—dari sebelumnya. Dengan jalan inilah yang akan membuat para penentang Jemaat menemui kegagalan. Dan menjadikan kita meraih kemenangan di atas mereka—insya Allah.

Umat Islam adalah kaum yang bersedia setiap saat mengurbankan jiwa-raga mereka demi menjaga kehormatan dan keagungan Sang Nabi Karim saw.. Dan lebih baik mati, daripada menanggung kehinaan seperti itu dan daripada bersahabat dengan orang-orang yang siang-malam menyebut dan mencaci-maki Hadhrat Rasulullah saw. dengan kotor. Disebutkan dalam buku-buku atau literature, mereka menyebut nama beliau dengan kata-kata yang sangat keji dan menijikkan.

Orang-orang semacam itu tidak memiliki rasa simpati terhadap bangsanya sendiri, sebab di atas jalan mereka tersebar onak duri yang sangat tajam. Kita dapat bersahabat dengan ular-ular hutan berbisa dan hewan-hewan rimba buas, namun kita tidak dapat berdamai dengan orang-orang yang bebas mengumbar mulut mereka dan tidak dapat berhenti berkata kotor dan menghina kesucian dan keagungan Hadhrat Rasulullah saw. yang mulia ini. Mereka mengira bahwa dengan menghina, mencaci maki dan kata-kata mulut kotor adalah kemenangan bagi mereka. Padahal, setiap kemenangan datangnya “dari Langit”.

Begitu banyak buku dan literatur telah mereka cetak berisi hinaan dan caci-maki terhadap Hadhrat Rasulullah saw.. Sehingga dengan mendengarnya, merindingkan bulu roma seluruh badan kita. Dengan penuh keperihan hati, kita memberi kesaksian bahwa jika mereka membunuh anak-anak kita di depan mata kita dan mencincang tubuh saudara-saudara kita-tercinta dan mereka menganiaya kita dengan hina dan mereka merampas semua harta kekayaan kita, maka demi Allah—dan demi Allah (!), kita tidak akan merasa sedih sedikitpun dan hati kita tidak akan pernah pedih secuilpun, dibanding mendengar caci-maki dan pengghinaan mereka yang dilontarkan terhadap Hadhrat Nabi Besar Muhammad-mustafa Rasulullah saw. yang telah melukai hati kita semua.

Ya Allah, obatilah hati kami yang telah mereka lukai, yang menganggap diri mereka paling kuat. Sesungguhnya, Engkau-lah Yang memiliki segala kekuatan. Amin.[] (MTA/Mln. Hasan Basri/Alm. H. Syarief Ahmad Lubis/H. Pipip Sumantri/A. Shaheen Ali/LB)



--
*istgfr+tsbh+slwt+wßlm*

“Don’t hate one another and don’t be jealous of one another, and don’t boycott one another and be servants of God as brethren.” --Muhammad saw.
“The whole worth of a kind deed is in the love that inspires it.” --Moses a.s. (The Talmud)
“Hatred doesn’t cease by hatred, but only by love; this is eternal rule.” --Budha a.s.
“Love your enemies!” --Jesus a.s.
“Love for All, Hatred for None!” --Mirza Nasir Ahmad r.h.
“To be loved, be lovable.” --Ovid

Tuesday, February 26, 2008

Religious intolerance and discrimination an ongoing concern

FOR IMMEDIATE RELEASE
February 21, 2008
ALRC-CWS-07-003-2008

A written statement submitted by the Asian Legal Resource Centre to the 7th session of the UN Human Rights Council

INDONESIA: Religious intolerance and discrimination an ongoing concern

Under Article 29, the Constitution of Indonesia guarantees "all persons the freedom of worship, each according to his/her own religion and belief." Despite this constitutional guarantee, as has been mentioned in an earlier submission (1) by the Asian Legal Resource Centre (ALRC), religious minorities in Indonesia continue to suffer multiple forms of discrimination. The government, for its part, has failed to protect their constitutional rights. Worse still, by its reluctance to take appropriate action to punish the perpetrators of related crimes, the State has tacitly allowed various forms of religious discrimination and attacks to continue. As the freedom of religious belief and expression is a fundamental human right that is linked to many other rights, violations of this right are interlinked with those of other rights, all of which in turn relate to the failure of the rule of law in Indonesia.

The ALRC continues to receive information concerning numerous violent attacks on religious minorities in Indonesia. The ALRC has been making repeated submissions concerning the violations of religious freedom since 2005, yet there is no indication of any attempt by the State to address this issue.

The religious leaders in Indonesia that met in December 2007 to discuss ongoing threats to religious pluralism in the country were of the view that the government has allowed and even endorsed violent acts against certain religious groups.

Despite being a State Party to the Universal Declaration of Human Rights (UDHR), no definite stand has been taken against religious discrimination. The ALRC recalls that Article 18 of the UDHR proclaims that: "Everyone has the right to freedom of thought, conscience and religion; this right includes freedom to change his religion or belief, and freedom, either alone or in community with others and in public or private, to manifest his religion or belief in teaching, practice, worship and observance."

In January 2008, the Muslim Lawyers Team (TPM) and several Islamic organizations vowed to send a letter to the President requesting that the Ahmadiyah sect be banned, and that failing which, lawsuits will be filed at regional courts across the country.

Since the issuing of an edict by the Indonesian Council of Ulamas branding Ahmadiyahs as being heretics in November 2005, there have been a number of attacks on their places of worship and prayer, in addition to attacks on members of the sect. Several cases of attacks that were reported to the police went unheeded. This inaction on the part of the law enforcement authorities has been interpreted as approval, thus resulting in increased violence and the attempt by a number of Muslim groups to force the President to ban the sect.

On December 18th, Ahmadiyah followers in Kuningan, West Java were attacked by about a thousand people, leading to three people being wounded, two mosques being destroyed and eight houses of Ahmadiyah followers being damaged.

In a recent incident at least 49 people who attacked a mosque and houses belonging to the Ahmadiyah sect in Argapura district in Majalengka Regency, West Java, have surrendered to the police due to the intervention of the Indonesian Ulema Council. There is, however, uncertainty regarding the commitment of the police to prosecute them according the Article 170 of the Criminal Procedure Code for causing damage and violence.

Adding insult to injury, it was reported in mid-December that the government has established a monitoring team to supervise the controversial Ahmadiyah sect. After a series of attacks on the group and its properties, the sect was compelled to issue a statement containing a "12 point explanation," which also included the acknowledgement of Muhammad as the final prophet. Thus, instead of providing the freedom of belief and practice, the State intervened to impose the religion of the majority and further created a monitoring team to make sure that its will is adhered to.

Indonesia's Christian community has also suffered from repeated attacks from 2005 until the present. In one reported incident, about 30 self-appointed Islamic vigilantes are alleged to have raided a house that was suspected of being a Christian place of worship, in CiteureupVillage, Bandung in the Indonesian province of West Java, on Monday 19th November, 2007. The owner of the house, Ranto Gunawan Simamora, reportedly told reporters that dozens of people raided the house and went directly to the living room, which is normally used for Christian gatherings and worship.

In a separate incident in early October, residents and officials of Tambora in West Jakarta prevented Catholics from holding services in a 40-year-old church located there.

On September 2, a house that was used as a church in the Pondok Sukatani Permai housing estate, Sukatani, Tangerang, Western Java, was damaged in an attack by about 300 Muslims. One report states that about 200 people were in the house attending a regular Sunday service when a crowd of 300 surrounded the church and demanded that the service stop. When parishioners refused, the mob threw rocks and pieces of wood at the house, slightly injuring both the 50-year-old pastor, Jao Lolok Pasaribu, and a 36-year-old churchgoer, P. Panjaitan, in the head.

The Asian Legal Resource Centre would like to reiterate the recommendations that it has made previously and call on the Human Rights Council to remind the Government of Indonesia of its obligations under the International Covenant on Civil and Political Rights to respect the freedom of belief, worship and the right to redress of victims in case of violations, as envisaged under by Article 2 of the Convention, given the unwillingness on the part of the government to address the issue to date. Moreover, the government must create an effective inter-religious body with a mandate to conduct investigations and give recommendations to the prosecutor general to take legal action against perpetrators of abuses, where necessary, as well as on how to revise legislation that runs contrary to the right to the freedom of religion. The Human rights Council should take all steps necessary to engage the Government of Indonesia in tackling these concerns and the ALRC sincerely believes that its input could lead to positive developments that would help to reverse the serious decline in the enjoyment of religious freedom in Indonesia in recent times.[]

------

Footnote:

1 Please see the ALRC submission to the 62nd session of the Commission on Human Rights at: http://www.alrc.net/doc/rtf/chr62/ALRC-11e-Religious_intolerance_in_Indonesia.rtf

# # #

About the ALRC: The Asian Legal Resource Centre is an independent regional non-governmental organisation holding general consultative status with the Economic and Social Council of the United Nations. It is the sister organisation of the Asian Human Rights Commission. The Hong Kong-based group seeks to strengthen and encourage positive action on legal and human rights issues at the local and national levels throughout Asia.

Friday, February 22, 2008

KEBENARAN Missi Islam Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s.

SARIPATI/Kutipan Khotbah Jumat Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Sedunia Sayyidina Hadhrat Amirul Mukminin Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih V atba. Tanggal 8 Februari 2008 (1 Shafar 1429)

“KITA yang beriman kepada Allahswt., apa perlunya kita merasa takut terhadap kesulitan² ataupun ancaman² mereka yang sifatnya sementara ini?”

SETELAH mengucapkan dua kalimah syahadat, taawud dan tilawat Alquran Karim Surah Al-Fâtiĥah (QS 1:1-7), Hudhur (Hadhrat Khalifatul Masih V) atba. mengawali khotbah dengan mengutip sabda-sabda Pendiri Suci Jemaat Ahmadiyah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad—Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s..

KONTINUITAS Berdoa--Dalam setiap doa-doa yang yang kita panjatkan, terdapat keistimewaan dan hal-hal yang mengesankan sekali ketika cobaan-cobaan keimanan timbul. Sesungguhnya, Tuhan dapat kita kenal melalui doa-doa. Ini asas yang mendalam untuk kita pahami oleh setiap orang yang beriman atau mukmin sejati. Tanpa kontinuitas atau merundukkan hati dan berdoa ke haribaan Allah swt., pengakuan diri sebagai mukmin sungguh tiada arti.

Memang, inilah yang sekarang harus menjadi keistimewaan setiap Muslim Ahmadi. Bahkan, pada hari-hari keadaan sedang aman dan tenteram, kita harus senantiasa banyak berdoa bahwa Dia-lah sumber segala kekuatan. Dengan memiliki rasa takut (baca: “cinta”) di dalam hati kepada-Nya, maka kita akan termasuk di antara para mukmin sejati.

Dan ketika ujian keimanan tiba atas kita, maka iman kita semakin kokoh dari sebelumnya. Bahkan, semakin melompat setinggi-tingginya. Kita akan lebih giat dari sebelumnya meraih keridaan Allah swt..

Timbulnya cobaan dan tantangan-tantangan yang sifatnya sementara, mestinya jangan membuat hati gentar. Justru, menambah semakin giat beribadah kepada Allah swt.. Inilah revolusi agung yang telah Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. bangkitkan pada jiwa setiap Muslim Ahmadi. Selama keadaan kita tetap bersiteguh, maka kita akan terus-menerus menjadi pewaris karunia-karunia Allah swt..

Antara berdoa dan terkabulnya doa, kadang timbul cobaan berturut-turut. Bahkan timbul demikian keras hingga hampir mematahkan semangat. Namun, bagi yang tetap teguh dan sabar menghadapi cobaan-cobaan dan kesulitan-kesulitan, kita dapat mencium aroma pertolongan Allah swt. dan dapat menyaksikannya. Setelah itu barulah pertolongan Tuhan turun.

Salah satu rahasia yang terkandung dalam turunnya cobaan-cobaan pada waktu itu ialah, untuk memicu supaya kita tambah semangat berdoa. Sebab, semakin keras kegelisahan dan ketegangan rasa dalam berpikir, semakin keras pula kekhusyukan ruhani timbul terus-menerus. Hal itu menjadi salah satu sarana terkabulnya doa. Jadi, janganlah sekali-kali merasa cemas, jangan berprasangka buruk terhadap Tuhan dengan menunjukkan perangai kegelisahan dan ketidaksabaran. Sekali-kali, jangan berpikir tentang ketidakterkabulan doa. Prasangka demikian bisa menjadi sebab hilangnya keyakinan bahwa Tuhan adalah Zat Pengabul doa-doa.

KEDENGKIAN Para Penentang--Pada beberapa negara dunia, sudah mulai timbul gerakan usaha untuk melawan dan menyusahkan Jemaat Ahmadiyah. Langsung-tidak langsung, sedang disusun rencana-rencana untuk menyerang Ahmadiyah. Ini merupakan api kedengkian yang sedang dikobarkan orang-orang, golongan-golongan maupun pemerintah negara-negara tertentu. Luapan kedengkian ini mulanya banyak berkobar pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang timbul dari dalam maupun luar, baik dari kalangan muslim sendiri maupun non muslim.

Jika timbul dari pihak non muslim, tiada lain karena sejak zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mereka tidak dapat menahan rasa dengki akibat kemajuan-kemajuan Islam yang diusung Jemaat ini, yang akan memenangkan di atas agama-agama lain. Dan bila hal ini timbul dari pihak orang-orang muslim sendiri dan dari pemimpin-pemimpin Islam serta dari kaum ulama, mereka merasa takut jangan-jangan kedudukan dan kekuasaan mereka hilang. Mereka takut umat mereka akan lari dari mereka kemudian masuk ke dalam Jemaat ini. Dan untuk menyelamatkan posisi dan kedudukan mereka, terpaksa bertekuk lutut dan menyembah-nyembah di hadapan orang-orang non muslim waktu itu untuk meminta bantuan. Perbuatan seperti mereka itu tidak dianggap aib oleh mereka. Semoga Allah swt. memberi akal kepada mereka dan mengasihani mereka.

SALING Mendoakan--Dengan penentangan-penentangan yang mereka lancarkan, akibatnya berbalik, tindakan-tindakan itu merugikan mereka sendiri. Takdir Allah swt. ini hendak mereka lawan. Tentu, mereka sendiri yang akan hancur binasa. Dengan penuh rasa simpati kita terhadap mereka yang masih berpegang kepada kalimah tayyibah, kita harus mendoakan mereka supaya mendapat hidayah.

Perihal kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Allah swt. dalam QS [Al-Jumu’ah] 63:4 dengan tegas menyebutkan diri-Nya adalah Zat Yang Maha Perkasa Yang telah mengutusnya. Tidak ada seorangpun yang akan mampu menghalang-halangi pekerjaan-Nya ini. Allah swt. adalah Maha Bijaksana. Dia telah memutuskan bahwa mutiara ajaran Islam hanya dapat diraih dengan jalan menggabungkan diri dengan jemaah Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud. Sehubungan dengan tugas kita untuk menyampaikan amanat ini kepada dunia, sangat diperlukan banyak-banyak doa untuk menghadapi perbuatan dengki dan makar dari para penentang, berdoa untuk melepaskan diri dari berbagai macam kesulitan yang menjadi cobaan bagi kita.

Di negara-negara mana pun yang sedang melakukan kezaliman terhadap warga Muslim Ahmadi, kita harus banyak-banyak memanjatkan doa untuk kekuatan iman mereka di sana. Kita rundukkan kepala di haribaan Allah swt. sambil memanjatkan doa dan menangis di hadapan-Nya sedemikian rupa, sehingga dapat segera kita saksikan kemenangan-kemenangan dan kemakbulannya. Di seluruh dunia mana pun warga Ahmadi berada, yang sedang dalam keadaan aman dan tentram, tidak ada gangguan dan perlawanan apa pun yang menyusahkan, harus banyak memanjatkan doa untuk Saudara-saudara Ahmadi mereka yang sedang dalam kesusahan. Sebab, hadis Hadhrat Nabi Besar Muhammad-mustafa Rasulullah saw. menerangkan keistimewaan para mukmin laksana sebuah tubuh yang jika terdapat bagian darinya sakit, maka seluruh badan akan merasakan sakit.

Jadi, siapapun dari antara saudara Ahmadi kita yang sedang menanggung kesusahan, kita anggap hal itu menjadi kesulitan kita. Bahkan, perasaan hati orang-orang Ahmadi begitu sensitif—dan memang harus demikian. Siapa pun di antara manusia yang sedang menanggung kesusahan, mereka harus sama-sama merasakan. Apabila dengan perasaan hati luluh kita panjatkan doa bagi mereka agar segera terlepas dari percobaan dan kesusahan yang sedang menimpa, maka pasti Tuhan akan mendengar doa-doa kita sehingga Dia akan menjauhkan semua kesusahan dan keprihatinan mereka.

GERAK Tumbuh Jemaat--Para penentang Ahmadiyah mengira, segala perlawanan dan anarkisme yang mereka lakukan akan menghambat dan menghalangi kemajuan Ahmadiyah. Padahal, jika Ahmadiyah sebuah jemaah ciptaan manusia, ia sudah hancur binasa sejak sejak ratusan tahun yang lalu dengan taufan perlawanan yang terus berjalan tanpa henti. Timbulnya serangan-serangan yang hebat oleh pihak penentang Jemaat Ahmadiyah di Pakistan, telah menjadikan Jemaat di sana semakin tumbuh subur, berbunga dan semakin berbuah dengan lebat lebih hebat dan lebih banyak dengan cepat dari waktu ke waktu.

Seharusnya, kita tidak perlu pusing bahwa segala penentangan pihak lawan menjadi tantangan bagi perkembangan dan kemajuan Jemaat Ahmadiyah. Di Pakistan sedang hangat berbagai usaha menentang Jemaat. Bahkan, tak segan-segan mereka memperkarakan Jemaat dengan tuduhan dusta ke pengadilan.

Beberapa hari yang lalu, seorang anak Ahmadi berumur tiga belas tahun dibawa ke pengadilan oleh seorang polisi terkait laporan seorang maulwi (kyai atau mubalig) kepada polisi bahwa anak itu telah memukuli seorang maulwi lain. Sedangkan maulwi yang katanya telah dipukuli itu justru menolak bahwa ia tidak pernah dipukul oleh anak itu. Nyatalah bahwa tindakan maulwi itu semata-mata perbuatan biadab yang dibuat-buat, sehingga katanya, orang itu telah dipukuli sampai babak-belur, sehingga ia harus masuk rumah sakit. Seorang maulvi muda yang kuat bagaimana dipukuli oleh seorang anak tiga belas tahun sampai babak belur dan tidak melawan. Maksud kejadian buat-buatan ini, tiada lain agar ditimbulkan rasa takut sedemikian rupa di dalam benak generasi mendatang, yakni jika anak ini tetap bertahan juga sebagai orang Ahmadi, jangan sampai dia menjadi orang yang aktif.

Mereka berpikir, jelas Hudhur atba., bahwa dengan cara menutup izin mengadakan Jalsa Salana dan melarang kegiatan-kegiatan tarbiyat Jemaat lain bagi para pemuda yang biasa diselenggarakan di Rabwah, telah berhasil untuk melemahkan Ahmadiyah sehingga mereka menjadi pasif tidak memiliki kegiatan apa pun. Pikiran mereka, jika kekerasan seperti itu ditingkatkan lagi, maka tarbiyyat pemuda Ahmadi menjadi mundur dan lemah, akhirnya mereka akan menjauh dari Jemaat.

WAHAI Para Pemuda Ahmadiyah!--Sebetulnya, orang-orang yang buta akal seperti itu tidak tahu bahwa pelita yang Tuhan nyalakan sendiri, tidak mungkin akan padam dengan tiupan mulut mereka. Banyaknya surat-surat yang datang setiap hari kepada Hudhur atba. dari para pemuda Ahmadi kita di Pakistan membuktikan, bahwa perasaan mereka larut dalam keikhlasan dan kesetiaan. Pemuda Ahmadi tersebut telah memenuhi janji-janji mereka yang setiap saat bersedia mengorbankan jiwa raga, harta waktu dan kehormatannya untuk tetap berdirinya Khilafat Ahmadiyah—selama-lamanya. Sesungguhnya, para penentang Jemaat tidak akan mampu menghambat atau membendung pekerjaan kita.

Barangsiapa memiliki ikatan dengan Khilafat, sesungguhnya dikarenakan telah mengikat hubungan dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Dan timbulnya hubungan dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., disebabkan adanya hubungan dengan Hadhrat Rasulullah saw.. Sedangkan Hadhrat Rasulullah saw. adalah zat perantara untuk sampai kepada Allah swt.. Maka, sebagai orang-orang yang mempunyai hubungan erat dengan Allah swt. dengan iman yang sangat kokoh-kuat kepada-Nya, apakah ancaman-ancaman dan teriakan-teriakan seperti suara keledai itu mampu membuat para mukmin takut dan gentar? Tidak! Sama sekali tidak!

Maka, cetus Hudhur atba., “Wahai para pemuda Ahmadiyah! Jalinlah terus hubungan dengan Allah swt. seerat mungkin. Sebab, itulah karakteristik seorang pemuda Ahmadiyah! Itulah keistimewaan seorang lelaki Ahmadi! Itulah keistimewaan seorang wanita Ahmadi! Inilah keistimewaan seorang anak Ahmadi!”

Demikian pula, lanjut Hudhur atba., di India tempat umat Islam sebagai mayoritas, para mullah atau maulwi-maulwi di sana, melakukan tindak kekerasan dan kezaliman terhadap warga Ahmadi. Nama saja orang-orang Islam, seorang pun di antara mereka tidak ada yang tahu sembahyang dan tidak pula tahu mengucap dua kalimah syahadat, apa lagi membaca Kitab Suci Alquran, mereka buta sama-sekali. Mereka hanyalah tahu mengatakan “Kafir, Non Muslim!” terhadap warga Ahmadi. Di sana mereka menyebarkan ancaman-ancaman kepada para Mubalig kita.

Hudhur atba. menghimbau kita agar jangan berhenti. Kita harus terus bekerja, melaksanakan yang telah Allah swt. wajibkan kepada kita. Kita tundukkan kepala kita di hadapan Allah swt., berdoa kepada-Nya menghadapi semua tantangan mereka. Semoga Allah swt. menempatkan kita semua di bawah naungan perlindungan-Nya.

GELIAT Kemajuan Jemaat Ahmadiyah Indonesia--Sekarang ini, dengan semakin meningkatnya penentangan yang gigih terhadap Ahmadiyah, sebenarnya dipicu oleh berkobarnya api dengki dan kecemburuan sosial yang menyembur dari dalam hati yang sudah sangat panas. Menurut anggapan mereka bahwa dengan genapnya seabad Khilafat Ahmadiyah semenjak kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Jemaat ini sudah hampir mau dihancurleburkan. Namun sekarang, kata mereka, Ahmadiyah malah akan mengadakan pesta seratus tahun berdirinya Khilafat Ahmadiyah. Jadi hati mereka semakin gerah hampir meletup kepanasan. Dengan adanya perlawanan yang bertubi-tubi, memberikan bukti nyata kepada kita bahwa Jemaat Ahmadiyah, dengan karunia Allah swt., sedang berderap maju di atas jalan kemajuan dan kejayaan.

Kemudian Hudhur atba. membahas derap kemajuan Jemaat di Indonesia, bahwa sejak beberapa tahun lalu, para penentang Jemaat Ahmadiyah mengadakan serangan dan kezaliman sangat keras. Banyak rumah-rumah Ahmadi dijarah, mesjid-mesjid dihancurkan dan dibakar. Pemerintah daerah setempat mendukung ulama dan pemimpin umat karena takut kepada mereka karena melihat pengaruh mereka. Dengan keadaan pemerintah daerah yang mulai menentang Jemaat dan disebabkan pemerintah daerah di sana telah memberi berbagai macam peringatan terhadap Jemaat kita, pemerintah pusat turun tangan mencarikan titik temu permasalahan mereka.

Lanjut Hudhur atba. bersabda, pemerintah mengeluarkan semacam perjanjian bersama yang beberapa hari kemudian isi perjanjian itu dimuat pada dalam surat-surat khabar, namun tidak semuanya. Sebagian dimuat, sebagian ditinggalkan. Karenanya, perjanjian itu tidak dapat dipahami sempurna.

Hudhur atba. melukiskan bagaimana berita-berita yang diplintir dalam surat-surat khabar dapat dijumpai di dalam internet juga sehingga beberapa Ahmadi yang tidak mengetahui keadaan, menyatakan tidak tahu permasalahan sebenarnya kepada beliau.

Lebih lanjut beliau atba. mengemukakan bahwa para Ahmadi itu mengatakan bahwa untuk menghapus fitnah ini jika harus mempercayainya juga, tidak ada halangan apa-apa. Mereka tidak tahu pasti tentang itu. Mereka tidak tahu jalan yang mana yang baik untuk diikuti. Sehingga, para Ahmadi menghubung-hubungkannya dengan sejarah Islam mengenai Perjanjian Hudaibiyah bahwa perkataan ‘Rasul Allah’ dihapus dalam perjanjian.

Hudhur atba bersabda bahwa Hadhrat Rasulullah saw. sendiri yang menghapus perkataan ‘Rasul Allah’ dengan tangan beliau sendiri. Beliau saw. bersabda, “Mereka tidak percaya bahwa saya seorang Rasul Allah. Oleh sebab itu, saya hapus perkataan itu!” Akan tetapi, orang-orang yang percaya kepada beliau sebagai Rasul Allah, tidak berani berbuat apa-apa. Sedangkan, Hadhrat Rasulullah saw. tidak mengeluarkan sembarang perintah melakukan hal itu karena memahami perasaan mereka.

KEDUDUKAN Mahdi dan Almasih Mutlak!--Jadi, tegas Hudhur atba., bukanlah pekerjaan kita melakukan kemunafikan atau menunjukkan kelemahan iman dan membuat suatu keputusan yang merendahkan kedudukan Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. demi menyenangkan hati mereka. Kita menganggap dan mempercayai Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani a.s. sebagai Masih Mau’ud-dan-Mahdi Ma’hud.

Jika kita melepaskan diri dari pendirian ini, maka sedikitpun kita tidak mempunyai nilai dan hakikat apa pun di sisi Tuhan. Keindahan kita terletak pada kedudukan sebagai Anggota Jemaah Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. dengan penuh keyakinan. Beliau a.s.-lah yang telah melenyapkan kegelapan menuju cahaya terang-benderang.

Pendirian dan pendakwaan kita di zaman kegelapan ini adalah: Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. telah membukakan pintu rahasia dan hakikat kalimah toyyibah dan kalimah syahadat kepada kita. Dan telah menyinari kalbu-kalbu kita dengan nur sejatinya.

Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s.-lah yang telah mengajarkan kepada kita cara-cara berjumpa dengan Allah swt. sesuai yang Alquran Karim ajarkan. Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. adalah Pecinta-sejati Hadhrat Rasulullah saw.. Beliau a.s.-lah yang telah mengajar kita untuk larut dalam kecintaan terhadap Nabi Suci Muhammad saw..

Dalam sebuah hadis disebutkan tentang panggilan Hadhrat Rasulullah saw. kepada Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. dengan kata “Mahdi kami”. Karena itu, akankah kita tinggalkan sebut beliau sebagai Almasih dan Imam Mahdi hanya disebabkan timbulnya kesusahan sedikit saja atau karena hanya untuk menyenangkan hati mereka—yang menamakan diri ulama?

PENJELASAN 12 Butir PB JAI, Titik Temu--Hudhur atba. mengajak kita berpikir apakah kita harus menyebut nama beliau dengan nama yang lain. Sedangkan, Almasih-dan-Mahdi yang ditunggu-tunggu itu telah datang dan sempurna dengan tanda-tandanya yang dijanjikan dan pendakwaannya sudah diumumkan dan semua tuntutan situasi dunia telah terpenuhinya. Setelah menyaksikan itu semua, disebabkan takut kepada ancaman manusia, walaupun Rasulullah saw. telah memberi nama kepada wujud yang ditunggu-tunggu itu dengan “Masih-dan-Mahdi”, akan tetapi demi menyenangkan hati orang-orang duniawi, sekalipun kita telah lama menggabungkan diri dengan orang-orang yang telah beriman kepada beliau, kita harus menyebut nama beliau dengan nama yang lain?

Dan sebagai imbalannya, apakah dengan begitu mereka (penentang Jemaat) akan membatalkan rencana serangan yang akan mereka lakukan kepada kita? Apakah dengan memberi nama selain “Masih dan Mahdi”—setelah menyaksikan terjadinya terjadinya tanda agung gerhana bulan dan matahari—akan menganggap sesuai nama itu? Ataukah—na’ûdzubi`l-Lâh—Allah swt. telah memberi kesaksian dusta? Apakah kita harus menyatakan dusta kepada nubuatan Alquran Karim yang telah sempurna pada zaman ini? Apakah di satu pihak setelah kita bai’at kepada beliau, mempercayai beliau sebagai Utusan Allah swt., di pihak lain lagi kita menganggap tidak benar kepada ilham beliau a.s. di mana Allah swt. telah memberi khabar suka bahwa sesungguhnya Masih Mau’ud dan Mahdi Mas’ud yang ditunggu-tunggu adalah beliau sendiri? Padahal firman lanjutannya mengatakan agar kita janganlah menjadi peragu.

Berdasarkan semua perkara yang telah Hudhur atba. uraikan di atas, masihkah kita dapat dikatakan sebagai warga Ahmadi? Ingkar kepada Masih dan Mahdi tentu menjadi ingkar kepada Ahmadiyah juga. Dan tidak akan ada seorang Ahmadi pun yang sanggup memikul tanggung-jawab seperti itu.

Berbicara fakta, Hudhur atba. bersabda bahwa “Perjanjian bersama”—demikian beliau atba. menyebutnya—yang telah ditandatangani kedua belah pihak antara Pemerintah dan warga Ahmadi yang telah dimuat di dalam surat-surat kabar, telah memberi kesempatan kepada orang-orang Ahmadiyah Lahore juga ikut gaduh dalam pertentangan itu. Di kalangan mereka timbul pula emosi perlawanan dan tuduhan palsu sehingga perkara yang sudah basi pun dimunculkan kembali. Mereka telah menerbitkan berita bahwa orang-orang Ahmadiyah [Qadian] sudah merubah pendirian mereka. Yang dimaksud mereka tiada lain bahwa mereka merasa telah menang dalam pernyataan palsu mereka, dan mengatakan: Sekarang, orang-orang Ahmadi Qadiani juga sudah mengakui—na’udzu bi`l-Lâh—bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bukan Nabi, melainkan Mujadid dan Mursyid saja.

KESAKSIAN Hudhur atba. Tentang Warga JAI--Mengapa perkara itu timbul? Pertama, Hudhur atba. menjelaskan, karena Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang telah mengirim sebuah Tim untuk mengadakan titik temu dengan Pemerintah Republik Indonesia. Di dalam hati para Tim, sedikitpun tidak ada pikiran untuk mengingkari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani a.s. sebagai Almasih Yang Dijanjikan, Imam Mahdi atau Nabi. Dan seorang anggta pun tidak akan ada yang berpikir seperti itu.

Dengan karunia Allah swt., Jemaat Indonesia dari segi keikhlasan dan kesetiaan merupakan sebuah Jemaat yang maju dan salah satu Jemaat paling terdepan. Pengurbanan harta dan jiwa-raga yang mereka serahkan demi Jemaat menunjukkan bukti nyata atas keikhlasan dan kesetiaan mereka terhadap Jemaat. Tidak nampak sedikitpun kekurangan di dalam keikhlasan dan kesetiaan mereka!

Jadi, jelas Hudhur atba., hal ini merupakan tuduhan yang salah terhadap Jemaat Indonesia dan memang tuduhan pasti akan terus ada jika mereka telah menunjukkan kelemahan iman demi mendapatkaan faedah yang sifatnya sementara. Pernyataan yang telah ditandatangani yang telah diambil oleh Pemerintah, di dalamnya terdapat beberapa bagian yang susunan perkataannya tidak jelas.

Dengan isi-isi pernyataan 12 Butir itu, tegas Hudhur atba., tidak berarti bahwa seorang Ahmadi telah menunjukkan kelemahan iman. “Sehingga, tidak ada satu pun tuduhan terhadap seorang Ahmadi bahwa ia telah menunjukkan kelemahan iman!” Beliau pun, maksud Hudhur atba. adalah Amir Nasional JAI, telah menjelaskan pernyataannya demikian di hadapan saya baik dalam pesannya yang dikirim kepada saya maupun dalam surat yang dikirim. Tetapi, pasti dan jelasnya memang tidak dicantumkan perkataan Masih dan Mahdi. Sehingga, para wartawan mendapat peluang untuk memutar balik fakta, kemudian hasil rekayasa mereka itu dimuat di dalam media surat kabar yang sedikitpun pendapat mereka seperti itu tidak terlintas di dalam pikiran seorang Ahmadi. Bagaimanapun, orang-orang dari Ahmadiyah Lahore telah mengambil kesempatan untuk memetik berita itu lalu disulut dan dibesar-besarkan.

SERUAN Kepada Ahmadiyah Lahore--Ketika telah saya uraikan dengan jelas di dalam Khotbah Jumat yang lalu dan pendirian kita pun telah dimuat di dalam surat-surat kabar. Namun, masih juga para Ahmadiyah Lahore bersikeras dan membuat kegaduhan, sehingga mereka menelepon Sekretaris Pers kita di London sambil mengatakan “Sampai sekarang kami belum juga merasa jelas tentang pernyataan yang masih semrawut itu.”

Sesungguhnya, mereka tidak akan merasa puas kecuali jika Tuhan berhendak memuaskan mereka. Jika mereka tidak mau mendengar dan bersedia menerima pendapat seseorang, maka manusia tidak akan memuaskan mereka. Bagaimanapun apa yang hendak kita jelaskan, sudah kita jelaskan kepada mereka.

Kepada Ahmadiyah Lahore, Hudhur atba. menyerukan agar mereka takutlah kepada Tuhan. Mereka harus mempelajari nubuwatan-nubuwatan Hadhrat Rasulullah saw.. dan menekuni baik-baik ilham-ilham Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s..

Kemudian, Hudhur atba. mengajak mereka bermuhasabah diri apakah hujah Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. ada pada mereka, apakah mereka tengah melangkah menuju kemajuan-kemajuan yang telah dijanjikan, apakah dengan menganggap ‘Anjuman’ lebih tinggi kedudukannya dari pada Khilafat, mampukah mereka memancangkan panji-panji Islam di bawah bendera Ahmadiyah ke seluruh dunia, apakah mereka telah berusaha mengibarkan panji-panji itu dengan penuh tanggung jawab, atau apakah mereka mendapat bagian dari keimanan terhadap Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani sebagai Masih Mahdi maupun Nabi, apakah mereka mengakui kebenaran Nizam Khilafat sesudah beliau a.s.?

Sedangkan, ujar Hudhur atba. lebih lanjut, banyak orang yang telah berbaiat kepada Nizam Khilafat, telah mampu menyebarkan amanat Ahmadiyah sebagai Islam hakiki hingga 189 negara di dunia. “Apa yang telah Anda lakukan? Apakah kesaksian Tuhan secara amaliah tertumpu kepada orang-orang yang beriman kepada beliau sebagai Nabi ataukah kepada orang-orang yang beriman kepada beliau hanya sebagai Guru atau sebagai Mursyid atau sebagai Mujadid saja?

Maka, Hudhur atba. kembali berseru, “Sekarang dengan perasaan takut kepada Tuhan, akhirilah ‘perpisahan’ ini sampai di sini. Dan tengoklah, bagaimana sabda Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. tentang diri beliau sendiri. Anda-pun menerbitkan buku-buku beliau, mencetaknya juga dan mendapat taufik untuk membacanya juga dan mendapat taufiq untuk memahaminya juga.” Hudhur atba. meminta agar mereka membuka Alquran dan bacalah sendiri bagaimana firman Allah swt. tentang orang-orang yang beriman kepada sebagian dari padanya dan mengingkari sebagian lagi dari padanya.”

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sendiri pernah bersabda, tidak menjadi syarat bahwa untuk membuat nubuatan harus menerima khabar dari Tuhan. Dan tidak menjadi syarat bahwa untuk menjadi Nabi harus ada syariat. Hanya dengan perantaraan kecintaan sejati kepada Tuhan, pintu hal-hal gaib akan terbuka.

SUMPAH Pendakwaan--Apabila Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. sampai saat ini telah menerima 150-lebih nubuatan dari Tuhan dan telah menyaksikan dengan jelas kesempurnaannya dengan mata kepala sendiri, maka bagaimana beliau a.s. bisa menolak bahwa diri beliau disebut Nabi atau Rasul? Dan selama Tuhan telah menamakan beliau ‘Nabi dan Rasul’, bagaimana beliau a.s. harus menolaknya? Atau, haruskah beliau takut kepada manusia menggunakan nama yang telah Tuhan berikan kepada beliau?

Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. bersumpah, “Saya bersumpah atas nama Tuhan Yang telah mengutus saya bahwa orang yang mengada-ada atas nama-Nya adalah laknat! Dialah Yang-telah mengutus saya sebagai Masih Mau’ud. Sebagaimana saya beriman kepada ayat-ayat suci Alquran Karim, demikian pula—tanpa perbedaan sebesar zarah pun—saya beriman kepada wahyu—yang sungguh-sungguh sangat jelas—yang telah turun kepada saya. Yang kebenarannya, secara mutawatir (terus-menerus) telah terbuka kepada saya. Dan saya, sambil berdiri di dalam Baitullah berani bersumpah, bahwa wahyu suci yang turun kepada saya adalah Kalam Tuhan Yang-sama, Yang-telah menurunkan Kalam-Nya kepada Hadhrat Musa a.s, Hadhrat Isa a.s. dan kepada Hadhrat Nabi Muhammad saw..

“Bumi dan langit juga telah memberi kesaksian kepada saya. Demikian juga, langit telah berbicara untuk saya dan bumi juga bahwa saya adalah Khalifatu`l-Lâh. Akan tetapi, sesuai dengan nubuatan-nubuatan, pasti [pendakwaan ini] akan di-ingkari juga. Sebabnya ialah, mereka—di antara hatinya yang tertutup—tidak akan menerimanya. Saya tahu, bahwa Tuhan akan mendukung saya sebagaimana Dia senantiasa mendukung Rasul-rasul-Nya. Tidak akan ada yang mampu menandingi saya. Sebab, mereka tidak menerima dukungan dari Tuhan.

“Di tempat mana saja saya telah mengingkari kenabian dan kerasulan, hanyalah dalam arti bahwa saya bukan seorang Pembawa Syari’at secara mustakil (langsung tanpa perantara Nabi sebelumnya), dan bukan pula saya seorang Nabi secara mustakil (diutus langsung tanpa melalui ajaran Nabi sebelumnya). Melainkan, dalam arti bahwa saya, setelah memperoleh berkat-berkat ruhani dari Rasul Junjungan-yang-saya-ikuti dengan keitaatan, saya mendapatkan sebutan untuk diri saya sebagai ‘Rasul’ dan sebagai ‘Nabi’ tanpa membawa satu pun Syariat Baru. Dan dengan perantaraannya, saya memperoleh ilmu tentang hal-hal yang gaib.

“Dengan kedudukan seperti itu, saya tidak pernah mengingkari disebut Nabi. Bahkan, dengan arti seperti itulah, Allah swt. memanggil nama saya ‘Nabi dan Rasul’. Jadi sekarangpun, saya tidak mengingkari diri saya sebagai Nabi dan Rasul dalam arti yang sama seperti itu. Maka, setelah diterangkan begitu jelasnya, apakah masih juga ada keraguan?”

AJAKAN--Jelas, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menerima perintah Allah swt.. Beliau a.s. mengumumkan “Saya adalah Nabi.”

Disertai ribuan rasa santun dan hormat—sabda Hudhur atba., “Saya berkata kepada Saudara-saudara saya yang telah keliru dari jalan lurus: Marilah Saudara-saudaraku. Masuklah bersama-sama kami untuk membangkitkan revolusi rohani di muka bumi. Allah swt. telah mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani sebagai Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, dan sebagai Nabi Zilli (Ummati).

“Beliau-lah Almasih dan Mahdi yang kedudukannya sebagai ghulâm (hamba) dari Hadhrat Rasulullah saw. yang akan menyebarkan amanat ajaran Islam ke seluruh pelosok dunia. Bahkan, telah berhasil menyebarkannya ke seluruh dunia. Yang kepadanya, Allah swt. telah berfirman—dengan ungkapan yang sangat jelas sekali—bahwa, sekalipun di tengah-tengah perlawanan yang keras, Dia telah mengumumkan ‘Aku akan sampaikan tabligh engkau ke seluruh pelosok dunia’.

“Sekarang, hanya orang-orang yang percaya kepada beliau sebagai Nabi dan bergabung dengan Khilafat setelah beliau-lah yang menyaksikan sempurnanya wahyu tersebut. Amanat ini, sekarang sedang menggema sampai ke segenap penjuru dunia melalui media elektronik.”

Jadi sekarang, sambung Hudhur atba., untuk mendukung Nabi-Nya ini, Allah swt. sedang memperlihatkan mukjizat-mukjizat dalam menyampaikan amanat-Nya. Tak satu pun kekuatan dunia yang mampu menghalanginya. Dan jika kita cermati wahyu “Aku akan sampaikan tabligh engkau kesegenap penjuru dunia”, maka terkandung hikmah bahwa dalam melaksanakan amanat itu, akan timbul banyak tantangan dan tiupan taufan penentangan yang keras, kobaran api kedengkian akan membumbung, menyala-nyala di kanan dan kiri kita, para pemerintah pun akan berusaha mengeluarkan banyak hambatan.

Akan tetapi, Allah swt. Yang Maha Aziz serta Ghalib, memberi ketenteraman dengan firman-Nya, “Wahai Masih dan Mahdi. Aku berikan ketentraman kepada engkau dan juga kepada orang-orang yang beriman kepada engkau, bahwa engkau datang dari-Ku dan engkau sedang berjuang untuk menyebarkan amanat-Ku. Karenanya, Aku telah memutuskan bahwa dukungan dan pertolongan-Ku senantiasa bersama engkau. Dan dengan tegas Ku-katakan bahwa Aku akan sampaikan tabligh engkau ke seluruh pelosok dunia.”

Allah swt. berfirman kepada beliau melalui ilham, “Jangan takut! Sesungguhnya, Aku bersama engkau. Dan Aku berjalan menyertai engkau. Martabat engkau disisi-Ku tidak diketahui oleh siapa pun di antara manusia. Aku dapatkan engkau apa yang Ku-dapatkan. Siapa pun yang hendak menghina engkau, akan Ku-hinakan-nya. Dan siapa pun yang hendak menolong engkau, Aku akan menjadi Penolong-nya. Engkaulah milik-Ku. Dan rahasia engkau adalah rahasia-Ku. Dan engkaulah yang Aku maksud. Dan engkau bersama-Ku, dan engkau di sisi-Ku. Engkau orang terhormat di sisi-Ku. Aku telah pilih engkau untuk Diri-Ku.”

Jadi, orang yang diberi ketenangan dalam menghadapi sesuatu yang menakutkan, telah ditegaskan kepadanya untuk diberi dukungan-Nya, sudah diumumkan baginya, siapa pun yang akan menolongnya ianya akan ditolong-Nya, telah diumumkan pula baginya, sesiapa yang hendak menghina dan menentangnya akan dihinakan dan disengsarakan-Nya, orang yang telah dimasukkan kedalam kelompok orang-orang pilihan-Nya yang khas, untuk orang yang beriman kepadanya-pun tidak ada alasan untuk merasa gentar dan takut. Tidak perlu merasa takut dan cemas dari kesulitan dan kesusahan apapun karena hal itu hanya sementara.

SABAR dan Istiqamah--Layaknya Perang Uhud, Hudhur atba. bersabda, sekalipun orang-orang beriman sudah dalam keadaan sangat terdesak dan telah banyak menelan kerugian jiwa-raga dan harta, mereka tidak memberi kesempatan kepada musuh untuk mengalahkan mereka. Akhirnya, merekalah yang mendapat mahkota kemenangan sambil meneriakkan suara dengan keras “Allâhu ‘alâ wa a’jal!” Maka sekarang pun, sabda beliau lagi, bila pekikan itu telah mengumumkan hal-hal tersebut di atas untuk kekasih yang mencintai-Nya, maka kita yang beriman kepada Allah swt., apa perlunya kita merasa takut kepada kesulitan-kesulitan ataupun ancaman-ancaman mereka yang sifatnya sementara ini?

Selanjutnya, Hudhur atba. beralih kepada kejadian beberapa hari sebelumnya tentang adanya beberapa kekhawatiran orang-orang Arab, di antara mereka ada warga Ahmadi Arab dan juga yang non Ahmadi yang simpati serta memiliki rasa cinta terhadap Islam. Mereka khawatir karena atas desakan beberapa pemerintahan negeri Arab kepada pemilik satelit yang menayangkan Muslim Television Ahmadiyya atau MTA3 yang khusus ditayangkan bagi pemirsa Berbahasa Arab di Timur Tengah, telah ditutup. Hal ini, disebabkan beberapa pemerintahan Negara-negara Arab dan para Mullah yang takut kepada gerak dakwah Kristen, sambil memandang kepada orang-orang Ahmadi dan disebabkan berkobarnya api dengki di dalam hati mereka juga terhadap Jemaat Ahmadiyah.

Dan oleh karena tanpa menghiraukan faktor akhlak dan tanpa pemberitahuan sebelumnya, saluran itu telah ditutup. Maka, baik orang-orang Arab Ahmadi maupun orang-orang Arab non Ahmadi, telah mengirimkan banyak sekali surat-surat kepada Hudhur atba. maupun kepada Pengurus MTA dan mereka mengatakan bahwa perbuatan itu perbuatan zalim. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, saluran ini telah ditutup? Dalam menjawab surat mereka tersebut, Hudhur atba. bersabda agar bersabarlah. “Insya Allah swt. akan diusahakan supaya saluran ini dapat dimulai lagi secepat-cepatnya.”

Dengan khotbah yang Hudhur atba. sampaikan ini, semoga menjadi kemakluman penyebab ditutupnya MTA Al-‘Arabiyya akibat pemerintah-pemerintah yang tunduk pada kemunafikan, ciut pada kekuatan manusia dan disebabkan rasa dengki juga telah berusaha untuk memblokir saluran ini.

TABLIG MTA Al-‘Arabiyya--Di negara-negara Arab banyak padri-padri Kristen sedang melancarkan serangan-serangan terhadap Islam. Dan Jemaat Ahmadiyah melalui MTA sedang giat menjawab serangan-serangan mereka, oleh sebab itu mereka juga memberi tekanan-tekanan supaya saluran MTA ini ditutup, kalau tidak MTA ini akan memberi pengaruh buruk terhadap orang-orang Kristen. Bagaimanapun akibatnya, mereka harus berurusan dengan Allah swt..

Mereka dengan mengatasnamakan Tuhan telah melakukan permusuhan terhadap insan-insan Tuhan. Mereka menganggap bahwa semua sumber kekuatan ada di tangan mereka. Akan tetapi, Dia Yang Aziz Tuhan Pemilik semua kudrat dan kekuasaan, telah mengumumkannya dalam QS [Âli ‘Imrân] 3:55 “Wa makarû wa makara`l-Lâh[u], wa`l-Lâhu khairu`l-mâkirîn—Dan mereka membuat rencana dan Allah membuat rencana. Dan Allah-lah sebaik-baik Perencana.”

Pada zaman Almasih Musawi pun telah dibuat banyak rencana. Karenanya, di dalam ayat ini dan di zaman ini pula, telah diumumkan berbagai macam rencana untuk melawan Almasih Muhammadi Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s.. Akan tetapi, Allah swt. telah memberi ketenteraman hati kepada beliau a.s. dan para pengikutnya.

Jadi, peristiwa yang sedang kita hadapi, kita harus berusaha mengantisipasinya. Hal itu semata-mata pekerjaan Allah swt. untuk Almasih-Nya. Dengan cara bagaimana Allah swt. membuat perencanaan-Nya sehingga manusia tidak dapat membayangkan sebelumnya, dan bagaimana Allah swt. telah memberi pertolongan dalam hal ini? Untuk beberapa jam atau barangkali untuk satu hari saja lamanya, saluran ini sudah ditutup.

Bagaimanapun hari ini, Dia telah mengatur jalan lain sebagai gantinya untuk kita. Sehingga, usaha yang pihak penentang lakukan menutup saluran ini, sebagai gantinya, Allah swt. telah menghubungkan kita dengan seorang pengusaha satelit di Eropa yang sebelumnya juga pernah kita usahakan; yang pada waktu itu, pesanan cukup ramai sehingga kita tidak dapat memperolehnya.

Setelah pemblokiran MTA3 Al-‘Arabiyya ini, Allah swt. sendiri telah mengatur untuk kita sebagai ganti. Satelit sebelumnya, jangkauannya tidak begitu luas hanya sampai kepada beberapa negara Arab saja. Sehingga tidak dapat menjangkau negara Maroko dan beberapa negara lainnya yang sangat mendambakan MTA. Tetapi, satelit baru—sebagai gantinya ini—dapat menjangkau banyak sekali negara hingga sampai ke negara Maroko dan beberapa negara lain di sekitarnya. Sehingga, keperluan mereka dapat dipenuhi. Alĥamduli`l-Lâh!

Jadi, lihatlah! Ini semua pekerjaan Allah swt.! Dia-lah Tuhan Yang-sangat tepat memenuhi janji-janji-Nya. Sekarang pun, hambatan-hamabatan sedang berlaku dan akan berlaku terus. Akan terjadi serangan-serangan dari pihak para penentang dan para pedengki terhadap Jemaat.

Hudhur atba. menasihatkan bahwa seorang Ahmadi tidak boleh berkecil hati dan putus asa atas serangan-serangan itu. Sambil menyaksikan serangan-serangan mereka, kita harus lebih banyak bersujud memanjatkan doa di hadapan Allah swt.. Kita tingkatkan semangat doa kepada Allah swt.. Kita jaga baik-baik salat kita. Kita penuhi kewajiban-kewajiban kita dengan teratur. Kita perhatikan pelaksanaan salat-salat nafal.

Dengan perantaraan doa-doa dan ibadah-ibadah tersebut, Allah swt. menolong kita untuk menyempurnakan maksud-maksud kita. Jangan biarkan bibir-bibir kita berhenti zikir kepada Allah swt.. Melalui gerakan-gerakan bibir itulah, pintu-pintu kemenangan akan terbuka bagi kita—insya Allah. Jadi, itulah titik dasar yang harus selalu kita ingat setiap saat.

NIZAM Khilafat--Sekarang dengan genapnya Seabad Khilafat Ahmadiyah, warga Ahmadi sedang membuat program-program untuk merayakannya. Karena rasa dengki para penentang Jemaat, mereka sedang membuat rencana untuk menyerang bahkan lebih hebat dari yang telah mereka lakukan sebelumnya. Mereka hendak menimpakan berbagai macam kesusahan dan kesulitan kepada kita. Mereka pikir, khilafat telah kita rampas mereka. Kita sedang menikmati khilafat, sedangkan mereka tidak. Dan dengan kompaknya, kita terikat dalam persatuan dan kesatuan kokoh, sedangkan mereka tidak demikian.

Para penentang Jemaat telah menzahirkan pengakuan mereka secara terbuka bahwa mereka tidak akan dapat memperoleh kemajuan dan kemenangan tanpa berpegang pada nizam khilafat. Dan mereka telah menulis bermacam-macam ide dan pendapat mereka tentang khilafat sehingga memenuhi lembaran surat-surat kabar dan majalah-majalah. Hampir setiap hari selalu dimuat karangan-karangan tentang khilafat di dalam media cetak. Dan dalam khotbah ini, Hudhur atba. membaca salah satu kutipannya tentang pendapat seorang mufti Non Ahmadi bernama Muhiburrahman Sahib dari Pakistan.

Muhiburrahman Sahib mengemukakan bahwa tiada nizam yang lebih besar dari Nizhâm Khilâfat Islâmiyyah ‘Alâ Minĥâji`n-Nubuwwah. Nizam ini, menurutnya, dapat ditegakkan dengan berhimpunnya umat Islam pada satu platform yang sama. Umat Islam saat ini telah terlepas dari berkat khilafat. Umat Islam harus berbuat seperti pada waktu berusaha mendapatkan negara Pakistan melalui pengorbanan yang sangat besar. Pengurbanan umat Islam pada waktu itu diberikan untuk mendapatkan negara yang bebas dan merdeka. Waktu itu menurut rencana, akan mendapatkan negara merdeka dimana mereka akan menegakkan negara Islam. Tapi kenyataannya, Muhiburrahman Sahib mengakui, Pakistan telah berdiri di balik tabir penipuan. Rahasia untuk keutuhan dan kebaikan umat Islam, hakikinya terletak pada kesepakatan, persatuan, dan sistim Khilâfat Islâmiyyah ‘Alâ Minĥâji`n-Nubuwwah.

Dalam mengakhiri khotbah, Hudhur atba. menanggapi, alangkah baiknya jika orang-orang semacam itu meninggalkan ego dan mau tunduk pada pendapat orang. Mereka tidak melihat bahwa Imam Mahdi yang mereka tunggu-tunggu itu sudah datang. Pada riwayat-riwayat lain telah disebutkan pula bahwa apabila Imam Mahdi sudah datang maka khilafat pun akan berdiri.
Sekarang, Imam Mahdi sudah datang. Dengan perantaraan beliau, kini Khilafat sudah berdiri. Nizam khilafat baru apa pun, tidak akan dapat didirikan lagi. Sekalipun, mereka berusaha keras untuk itu.

Sekarang, setiap warga Ahmadi harus banyak memanjat doa agar Allah swt. melindungi kita keburukan dan kesusahan yang akan timbul. Semoga Dia memberi kekuatan dan keteguhan iman kepada kita. Semoga Dia memberi taufik kepada kita agar tetap berpegang teguh kepada Jemaah Imam Mahdi-dan-Almasih yang-telah-datang sesuai nubuatan Hadhrat Rasulullah saw..
Di samping itu, setiap warga Ahmadi harus memanjatkan doa bagi umat Islam yang telah keliru, agar Allah swt. memberi taufik kepada mereka guna menggabungkan diri dengan Jemaah Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. ini. Semoga Allah swt. mengabulkan semua harapan kita. Amin.[] (MTA/HsB/HSAL/HPSi/www.Ahmadiyya.or.id/Ali “JAI-Kby”)

--
“Don’t hate one another and don’t be jealous of one another, and don’t boycott one another and be servants of God as brethren.” --Muhammad saw.
“The whole worth of a kind deed is in the love that inspires it.” --Moses a.s. (The Talmud)
“Hatred doesn’t cease by hatred, but only by love; this is eternal rule.” --Budha a.s.
“Love your enemies!” --Jesus a.s.
“Love for All, Hatred for None!” --Mirza Nasir Ahmad r.h.
“To be loved, be lovable.” --Ovid