Showing posts with label khotbah jumat. Show all posts
Showing posts with label khotbah jumat. Show all posts

Tuesday, March 04, 2008

SALAT Sarana Mensucikan Diri

SARIPATI/Kutipan Khotbah Jumat Imam Jemaat Muslim Ahmadiyah Sedunia Sayyidina Hadhrat Amirul Mukminin Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih V atba. di Mesjid Baitul Futuh London Tanggal 15 Februari 2008 (8 Shaffar 1429)


SETELAH mengucapkan tasyahud, taawud serta tilawat Alquran Surah Al-Fâtiĥah (QS 1:1-7) dan QS [Al-‘Ankabût] 29:46, Hudhur atba. bersabda bahwa sebagaimana kita maklumi bahwa abad yang ke-14 penanggalan Islam merupakan takdir dan Janji Allah swt., diturunkannya seorang pencinta sejati Hadhrat Nabi Besar Muhammad-mustafa Rasulullah saw. sebagai tonggak ditegakkan kembali ajaran beliau, yaitu Hadhrat Imam Mahdi-dan-Almasih Yang Dijanjikan (Masîĥ Mau’ûd) a.s.

Beruntunglah kita yang mendapat taufik Tuhan Yang Maha Kuasa karena baiat di tangan beliau dan menjadi Anggota dari Jemaah ini. Tetapi, baiat tidak akan memiliki makna apa pun terkait tujuan diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. melaksanakan dakwah ini. Baiat memberikan beberapa tanggung jawab untuk kita laksanakan.

Kewajiban tersebut harus kita mengerti dan penuhi sebagaimana yang pernah Para Awwalin zaman Hadhrat Rasulullah saw. laksanakan dengan sangat baik. Sehingga, mereka memiliki kedudukan dan status Waliyullah. Dan seterusnya, mereka pun mensucikan orang-orang lain.

Hudhur atba. bersabda bahwa pemikiran tersebut harus kita pahami. Jika tidak demikian, maka kita bukan orang yang benar-benar mengerti akan posisi dan kedudukan Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

Dalam QS [Al-Jumu’ah] 62:4 menyebutkan bahwa Hadhrat Rasulullah saw. akan mensucikan umat beliau pada Akhir Zaman seperti halnya beliau biasa mensucikan para Sahabi beliau pada zamannya. Ini akan terjadi melalui pencinta sejatinya—Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s., yang mendirikan Jemaah Para Kaum Akhirin guna mempertautkan dengan martabat, warna dan aroma iman Para Kaum Awwalin.

Janji Allah swt. kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah memberi kemajuan pada Jemaah ini, dan Tuhan selalu menepati janji-janji-Nya. Pada zaman lampau, kita telah menyaksikan sempurnanya janji-janji tersebut. Dan sekarang pun, kita sedang menyaksikannya. Bahkan pada masa mendatang, kita akan menyaksikannya terus-menerus—insya Allah.

Akan tetapi, Hudhur atba. menasihatkan, agar kita harus selalu ingat bahwa kita bisa layak menerima kesempurnaan janji-janji itu, bila kita penuh perhatian mengadakan tazkiyah nafs atau pensucian hati. Pensucian hati merupakan tanggung jawab setiap Ahmadi baik terhadap diri sendiri maupun terhadap keluarga dan orang-orang yang tinggal di lingkungan sekitar. Hal itu harus sesuai dengan tuntunan Alquran Karim, yang pemahamannya harus mengikuti amalan dan tata cara yang telah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ajarkan kepada kita guna mencegah diri dari keburukan-keburukan. Untuk itu dibutuhkan salat.

Ibadah salat merupakan sarana yang sangat penting untuk kesucian rohani kita sebagaimana firman-Nya dalam QS 29:46 sebagai perintah mendirikan salat beserta unsur-unsur lain di dalamnya dan menunaikannya dengan penuh ikhlas. Alquran sarat dengan ajaran-ajaran tazkiyah nafs, dan untuk mengamalkannya diperlukan taufik dari Allah swt.. Jika beribadah sambil bersujud di hadapan Allah swt. dengan hati tulus ikhlas dan mendapat kesan-kesan baik dari ajaran-ajaran Allah swt., kemudian berusaha menjauhkan diri dari keburukan-keburukan lalu mengamalkan hukum-hukum Allah swt., maka ibadah salat tersebut, tentu memberi kesan kuat untuk terus-menerus membimbing melakukan zikir kepada Allah swt.. Jika ada seorang mukmin yang demikian, pasti menjadi orang yang betul-betul berhasil melakukan tazkiyah nafs bagi dirinya.

Menunaikan salat penuh keikhlasan merupakan kewajiban asasi bagi tiap Ahmadi. Ini tidak cukup hanya dengan melaksanakan salat dua-tiga kali saja. Melainkan, harus berusaha gigih menempuh lima kali salat fardu sehari-semalam sebagai standar pencapaian kesempurnaan ibadah.

Salat merupakan batu loncatan bagi orang yang baru memulai perjalanan meraih martabat ibadah seperti orang-orang Awwalin. Salat lima waktu merupakan benih kebaikan yang akan menumbuhkan pohon yang memberi kelebatan buah-buahnya. Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Anda akan dikenal sebagai orang mukmin melalui salat lima waktu dan melalui akhlak Anda yang baik.”

Kita wajib menanam benih ini di dalam kalbu dan memeliharanya jangan sampai keadaan iklim dan cuaca memberinya kesan buruk. Jika kita tidak menjaga salat-salat tersebut, maka keadaannya bagaikan ladang yang di dalamnya tumbuh berbagai macam tanaman liar dan akan mengganggu pertumbuhan tanam-tanaman lain di dalamnya. Keburukan-keburukan itu akan menghalangi perkembangan amal-amal baik kita. Sementara itu, kenyamanan naungan di bawahnya akan mendatangkan buah-buahan yang baik dan lebat. Pohon itu akan menjaga dan melindungi kita dari setiap keburukan.

Sebagai ibadah yang merupakan sarana peningkatan kemampuan amal saleh, maka setiap Ahmadi harus mengintrospeksi diri dan keluarganya, sampai di mana kita sesuai dan dapat dikenal sebagai khaddim agama yang memiliki akhlaqul karimah.

Berkenaan pentingya salat, kutipan sabda Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. lebih lanjut menjelaskan bahwa salat merupakan amal saleh. Dengan mengamalkannya, kita menjauhkan diri dari kelemahan manusiawi. Karenanyalah salat diberi nama doa, dan kita jangan lengah menunaikan salat. Melalui salat, manusia akan banyak memperoleh kemajuan.

Diharapkan pula, agar kita berkesinambungan dalam menanamkan kecintaan terhadap Tuhan di dalam sanubari. Karenanya, tidak ada amalan lain yang lebih baik selain ibadah salat. Ibadah puasa dilakukan setahun sekali, zakat hanya terbatas pada orang yang mencapai nisabnya, sedangkan salat diharuskan bagi kita untuk menunaikannya lima kali sehari semalam. Jangan sekali-kali menyia-nyiakan ibadah salat.

Seseorang yang berdiri di hadapan Tuhan, hanya memerlukan keyakinan kuat bahwa sesungguhnya dirinya sedang berdiri di hadapan Allah swt.. Jika Dia menghendaki tentu akan memberikan segala sesuatu yang dimohonkan saat itu juga. Dengan berdoa sambil merendahkan diri, tidak berputus asa, tidak berprasangka buruk dan merasa yakin akan pertolongan-Nya, maka kita akan segera menyaksikan keadaan yang menyenangkan dan turunnya karunia dan manifestasi Allah swt..

Manusiawinya, pikiran sering tertuju pada perkara buruk berulang-ulang. Karena itu, untuk menjaganya perlu amal atau usaha berkesinambungan dengan cara menjaga baik-baik salat kita. Hal ini telah QS [Al-Baqarah] 2:239 isyaratkan sebagai hal yang sangat asasi.

Adakalanya tiap orang selalu lengah dan berada dalam kegiatan-kegiatan duniawi atau dalam kemalasan yang menghambat mendirikan salat. Bila kita berhasil menjaga salat yang tiada henti dan penuh ketaatan tersebut, maka salat akan memelihara kita, salat-salat sunah akan memelihara salat-salat fardu, salat-salat nafal akan memelihara salat-salat sunah, dan dari keadaan seperti itu, seorang mukmin dapat kita kenal.

Dengan menjaga salat, berarti kita telah melakukan perubahan diri menuju kesucian sebagai kewajiban khusus bagi setiap Muslim Ahmadi. Sehingga, asas keimanan akan semakin kuat. Kesaksian ayat “Far’uhâ fi`s-samâ`i—Cabang-cabangnya menjangkau sampai ke langit” dalam QS [Ibrâhîm] 14:25), menjadikan kemakbulan doa-doa seorang mukmin dan standar-standar kebaikannya, menjulang tinggi hingga ke Arasy. Bila semangat hati setiap Ahmadi timbul keinginan dan asa untuk meraih kedudukan iman seperti itu, tentu diperlukan semangat khusus dan kekerasan hati untuk menginginkan serta meningkatkan kadar ibadah salatnya lebih tinggi lagi.

Khusus mengenai disiplin waktu mendirikan salat, QS [Banî Isrâ`îl/Al-Isrâ`] 17 :79 menyitir firman Allah swt. mengenai penentuan macam-macam waktu salat. Dengan panjang lebar, Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bahwa Allah swt. telah membagi musibah-musibah ke dalam lima bagian. Yakni—pertama Salat Zuhur: Datangnya musibah yang menimbulkan takut. Kedua, Salat Asar: Melangkah ke depan di saat menjalani musibah. Kemudian—ketiga, Salat Magrib: Timbul keputusasaan. Lalu—keempat, Salat Isa: Zaman kegelapan penuh musibah. Dan akhirnya—kelima, Salat Subuh: Datangnya fajar cinta kasih Allah swt.. Inilah lima macam waktu yang digambarkan di dalam waktu-waktu salat. Lima waktu salat yang Allah swt. tetapkan ini, tidak dipaksakan. Hal tersebut menggambarkan keadaan rohani manusia.

Dari penjelasan Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. tentang ayat tersebut, zaman atau keadaan yang ayat “Inna ma’a`l-‘usri yusrâ[n]—sesudah-kesukaran-akan-ada-kemudahan” lukiskan telah tiba. Jadi, seorang yang beriman jangan merasa malas untuk menunaikan Salat Subuh. Pada waktu itu, sudah tiba masanya mendapatkan banyak kemudahan dan faedah yang sebanyak-banyaknya dan menjadikan tempat tidur sebagai “istirahat”.

Bila perjalanan tiap hari dimulai dan berakhir dengan pikiran seperti itu, maka setiap Subuh tiba, salat kita akan memberi kesaksian bahwa sepanjang hari hingga malam telah dilewatkan dengan keadaan hati yang bertakwa. Inilah sarana bagi terjadinya perubahan besar pada diri seorang mukmin yang telah Allah swt. wajibkan bagi kita sebagaimana firman-Nya dalam QS [An-Nisâ`] 4:104.

Semoga Allah swt. memberi taufik kepada kita agar dapat mendirikan salat sebagai rukun yang sangat penting ini. Semoga kita menjadi penolong-penolong Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. melalui tazkiyah nafs yang betul-betul menjaga salat-salat kita tepat waktu. Semoga Allah swt. memberi taufik kepada kita untuk melakukan itu semua. Amin.

Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. bersabda, salat adalah hak Allah swt.. Karenanya, harus kita tunaikan sebaik-baiknya dan jangan menjalani kemunafikan tinggal bersama musuh-musuh Allah swt.. Kita haru senantiasa menjaga kesetiaan dan kesungguhan kepada-Nya. Biarlah jika semua rumah kita dihancurkan, akan tetapi jangan sekali-kali kita meninggalkan salat.

Orang yang menganggap “Salat itu merugikan” adalah kafir atau munafik. Sesungguhnya, dengan mengatakan bahwa “Mengerjakan salat banyak mengalami kerugian dan pekerjaannya terbengkalai”, di dalam dirinya terdapat racun. Sebagaimana manisnya barang makanan yang dirasakan pahit oleh orang yang sakit, maka demikian pula salat yang tidak akan dapat dirasakan lezat oleh orang yang seperti itu. Salat meluruskan iman, memperbaiki akhlak dan memperbaiki keadaan dunia.

Kelezatan salat mengalahkan segala jenis kelezatan dunia, yang untuk mencarinya manusia harus membelanjakan ribuan dollar, tapi hasilnya bisa menimbulkan berbagai penyakit. Sedangkan salat, adalah surga yang diraih dengan mudah oleh orang yang mendapatkannya. Di dalam Alquran disebutkan dua macam surga, salah satunya adalah surga dunia berupa lezatnya salat.

Salat bukan merupakan pajak yang dipaksakan, melainkan sebuah komunikasi dan daya tarik antara hamba dengan Tuhan-nya. Untuk melestarikannya, Allah swt. menjadikan salat sebagai sarana supaya jalinan ini tetap erat dan telah menanamkan kelezatan di dalamnya.

Seperti sepasang insan yang telah menikah, jika dalam pergaulan dan hubungan mereka tidak terdapat kenikmatan tentu akan timbul keresahan dalam kehidupan mereka. Demikian pula, jika dalam salat tidak terdapat kelezatan, maka jalinan antara hamba dengan Tuhan akan terputus.

Dengan khusyukan doa kita kepada Allah swt. sedemikian rupa, maka jalinan tersebut akan sangat dalam dan erat sekali, penuh cahaya, tak terlukiskan dengan kata-kata. Tapi, jika keadaannya tidak seperti itu, maka manusia tak ubahnya seperti hewan.

Di Denmark, terjadi kezaliman yang sangat biadab, yang menunjukkan kekotoran, permusuhan dan kedengkian hati: Penerbitkan kembali karikatur Wujud Suci Nabi Agung kita Hadhrat Muhammad-mustafa Rasulullah saw. pada sebuah surat kabar setempat. Alasannya, mereka ingin membalas tindakan polisi yang telah menangkap tiga orang kawan mereka yang telah membuat karikatur tersebut tiga tahun yang silam.

Tindakan mereka telah menyakiti hati Umat Islam di seluruh dunia. Padahal, mereka telah menyatakan sebagai bangsa penegak keadilan. Adilkah itu? Seseorang telah berbuat kesalahan lalu hukuman dijatuhkan kepada orang lain lagi, jika hal itu mereka anggap perbuatan adil, maka ada lagi yang ‘lebih adil’ dari mereka, yaitu Sang Aĥkamu`l-Ĥâkimîn swt., Yang-tinggal di atas Arasy, Yang Menguasai alam semesta, Yang-akan menunjukkan keadilan-Nya. Karena, Dia-lah Ghalîb dan juga Dzu`l-Intiqâm, Yang memberi tindak-balas terhadap orang-orang yang tidak mau berhenti dari perbuatan jahat mereka.

Itulah inti perkara yang telah Allah swt. terangkan kepada kita. Cukuplah Tuhan untuk melakukan tindak balas terhadap mereka yang telah melakukan kejahatan seperti itu. Bagaimana cara Allah swt. menangkap mereka? Hanya Dia sendiri yang Maha Tahu. Tugas kita hanya memberi pengertian kepada mereka. Dan kita pun telah melakukan dengan sebaik-baiknya. Kita telah menerbitkan tulisan-tulisan tentang hal tersebut dan mengirimnya kepada editor surat kabar yang bersangkutan, telah menjumpai orang-orang tertentu dan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan mereka.

Jika mereka tidak mau berhenti dari perbuatan buruk mereka, maka urusannya kita serahkan kepada Allah swt.. Tugas kita adalah sujud dan berdoa sebanyak mungkin kepada-Nya. Dan harus berusaha lebih keras dari sebelumnya, menerapkan contoh keteladanan Hadhrat Rasulullah saw. yang baik pada diri kita.

Kita mempunyai Tuhan yang telah Hadhrat Rasulullah saw. perkenalkan, Tuhan Yang sangat dicintai Hadhrat Rasulullah saw.. Dia Yang memiliki segala kekuasaan dan kedaulatan, dan Dia akan memperlihatkan kekuasaan-Nya—insya Allah. Tugas kita hanya mengemukakan keluh rasa hati yang terluka kepada-Nya. Di hadapan-Nya-lah kita hadir dan di hadapan-Nya-lah kita tundukkan kepala kita.

Kita harus panjatkan puji-sanjung serta selawat kepada Hadhrat Rasulullah saw.—lebih banyak dari sebelumnya. Kewajiban kita adalah, bila terjadi peristiwa semacam ini, kita harus berusaha segera dan lebih cepat dari semula menanganinya dan lebih keras memanjatkan doa kepada Tuhan. Kita harus berusaha lebih keras melakukan tazkiyah nafs—dari sebelumnya. Dengan jalan inilah yang akan membuat para penentang Jemaat menemui kegagalan. Dan menjadikan kita meraih kemenangan di atas mereka—insya Allah.

Umat Islam adalah kaum yang bersedia setiap saat mengurbankan jiwa-raga mereka demi menjaga kehormatan dan keagungan Sang Nabi Karim saw.. Dan lebih baik mati, daripada menanggung kehinaan seperti itu dan daripada bersahabat dengan orang-orang yang siang-malam menyebut dan mencaci-maki Hadhrat Rasulullah saw. dengan kotor. Disebutkan dalam buku-buku atau literature, mereka menyebut nama beliau dengan kata-kata yang sangat keji dan menijikkan.

Orang-orang semacam itu tidak memiliki rasa simpati terhadap bangsanya sendiri, sebab di atas jalan mereka tersebar onak duri yang sangat tajam. Kita dapat bersahabat dengan ular-ular hutan berbisa dan hewan-hewan rimba buas, namun kita tidak dapat berdamai dengan orang-orang yang bebas mengumbar mulut mereka dan tidak dapat berhenti berkata kotor dan menghina kesucian dan keagungan Hadhrat Rasulullah saw. yang mulia ini. Mereka mengira bahwa dengan menghina, mencaci maki dan kata-kata mulut kotor adalah kemenangan bagi mereka. Padahal, setiap kemenangan datangnya “dari Langit”.

Begitu banyak buku dan literatur telah mereka cetak berisi hinaan dan caci-maki terhadap Hadhrat Rasulullah saw.. Sehingga dengan mendengarnya, merindingkan bulu roma seluruh badan kita. Dengan penuh keperihan hati, kita memberi kesaksian bahwa jika mereka membunuh anak-anak kita di depan mata kita dan mencincang tubuh saudara-saudara kita-tercinta dan mereka menganiaya kita dengan hina dan mereka merampas semua harta kekayaan kita, maka demi Allah—dan demi Allah (!), kita tidak akan merasa sedih sedikitpun dan hati kita tidak akan pernah pedih secuilpun, dibanding mendengar caci-maki dan pengghinaan mereka yang dilontarkan terhadap Hadhrat Nabi Besar Muhammad-mustafa Rasulullah saw. yang telah melukai hati kita semua.

Ya Allah, obatilah hati kami yang telah mereka lukai, yang menganggap diri mereka paling kuat. Sesungguhnya, Engkau-lah Yang memiliki segala kekuatan. Amin.[] (MTA/Mln. Hasan Basri/Alm. H. Syarief Ahmad Lubis/H. Pipip Sumantri/A. Shaheen Ali/LB)



--
*istgfr+tsbh+slwt+wßlm*

“Don’t hate one another and don’t be jealous of one another, and don’t boycott one another and be servants of God as brethren.” --Muhammad saw.
“The whole worth of a kind deed is in the love that inspires it.” --Moses a.s. (The Talmud)
“Hatred doesn’t cease by hatred, but only by love; this is eternal rule.” --Budha a.s.
“Love your enemies!” --Jesus a.s.
“Love for All, Hatred for None!” --Mirza Nasir Ahmad r.h.
“To be loved, be lovable.” --Ovid

Tuesday, February 26, 2008

[20080222-EN] English Summary of Friday Sermon the Head of the Ahmadiyya Muslim Community

Salat (Prayers)

Summary of Friday Sermon

Delivered by Hadhrat Mirza Masroor Ahmadat, the Head of the Ahmadiyya Muslim Community

February 22 nd, 2008

NOTE: Alislam Team takes full responsibility for any errors or miscommunication in this Synopsis of the Friday Sermon

Huzur continued with the subject of Salat in his Friday Sermon today. He cited verse 19 of Surah Al Fatir (35:19), the translation reads:

‘And no burdened soul can bear the burden of another; and if a heavily laden soul call another to bear its load, naught of it shall be carried by the other, even though he be a kinsman. Thou canst warn only those who fear their Lord in secret and observe Prayer, And whoso purifies himself, purifies himself only to his own advantage; and to Allah shall be the return.’

Huzur said the commandment for Salat is fundamental and without it religion cannot be fulfilled. Indeed in the very beginning of the Holy Qur’an after faith in the ‘Unseen’ it is observance of Salat that is mentioned. In fact even before that in Surah Al Fatiha we pray to Allah saying: ‘You alone do we worship’.

Huzur said today he would further elucidate the merits of Salat in light of the Holy Qur’an, Hadith and the writings of the Promised Messiah (on whom be peace).

Huzur said he had thought of giving a discourse on another subject today but upon reflection and in light of reports from the Tarbiyyat secretary of UK and Sadr Lajna USA he felt it necessary to speak further on the subject of Salat. Huzur said just because he had mentioned UK and USA other countries should not consider that they have achieved the requisite standard of Salat, in fact the high standard of Salat that would bring satisfaction cannot been seen anywhere. Some office-holders express optimism with regard to observance of Salat whereas no undue optimism should be expressed in context of Salat unless every single Ahmadi is 100% firm on the requisites of Salat.

Huzur said while we are in a thankful frame of mind in terms of the Khilafat Centenary we should be most mindful of the key principle of belief (i.e. Salat) because Khilafat is only promised to those who have belief.

Commentating on the Quranic verse recited at the beginning Huzur said it draws the attention of those who fear their Lord in secret to stay alert with regards observance of Salat and try and keep the ‘self’ pure, they should never entertain the thought that indolence about Salat is acceptable. Huzur said all this is to make weak individuals like us heedful of the Hereafter and the fact that we all have to return to Allah – this would make us think about keeping the self pure and indeed the best way to keep the self pure is through observance of Salat.

Explaining the concept of ‘fear of God’ Huzur said it is like the fear of losing a dear one through making them unhappy. Such a feeling for Allah would encourage our love for Him and we will be that much more heedful not to incur His displeasure and we will be drawn towards observance of Salat. Otherwise, bai’at on its own is not a source of salvation.

The Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) said that among the deeds of people the first accountability will be of Salat. Allah will ask His angels to see if His servant accomplished the Salat or left it incomplete. If the person has made any nafl (optional) worship it will be used to make up any deficiency in the fardh (obligatory) worship. Huzur said in light of this how critical it is for us to make arrangements for our Salat.

It is indeed a tremendous favour of Allah on the Ahmadis that having accepted the Promised Messiah (on whom be peace) we are now a Community which is strung together in a manner of a string of pearls, we have an appreciation of rising and sitting down at the gesture of a hand, then how much mindful should we be about something that generates discipline the most and something that will be of great avail to us even in the Hereafter?

Huzur read an extract of the Promised Messiah (on whom be peace) to signify the importance of Salat. The translation of this extract can be read on pages 308 -309 of Essence of Islam Vol. II.

Citing verses 23-24 of Surah Al Ma’arij (70:23) Huzur explained true believers are regular in their Salat and worldly matters are not a hindrance in their observance of Salat, these are the people who have high morals and this indeed is a sign of a true worshipper of God. Huzur said there are some who say their Salat regularly but their surroundings are not safe from them; indeed one should observe Salat with the intention to seek the pleasure of Allah. Huzur said it is a great blessing of Allah that we in the Community of the Promised Messiah (on whom be peace) have understood the true message of Islam as brought by the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him), As for those who say their Salat with different intentions the Qur’an states in verses 5-7 of Surah Al Ma’un (107:5), the translation reads:

‘So woe to those who pray, But are unmindful of their Prayer. Those who show off.’

Huzur said certainly the Companions of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) were not like this, therein is a warning for people to come. The Qur’an also states in Surah Al Nisa verse 143 (4:143) that those who seek to deceive Allah, He causes them to deceive themselves.

Huzur said we are fortunate that we are included in the ‘latter-ones’ who have been likened to the earlier ones. This tremendous blessing comes with a huge responsibility never to let observance of Salat slip, never to be deficient in fulfilling the rights of Allah and indeed the rights of His people. His favour in granting us guidance is immense and requires us to be extremely grateful and to turn to Him with absolute sincerity. Huzur said it is a matter of utmost gravity that not a single person among us should have the indolence that takes one away from faith and away from God.

Huzur read another extract from the noble writings of the Promised Messiah (on whom be peace) about the merits of Salat. The translation of this extract can be read on pages 295-297 of Essence of Islam Vol II.

Huzur cited verses 2 & 3 of Surah al Mumi’nun (23:2) and said that the thing to remember is the Salat is the first rung of success for a true believer in every sense. This is conditional to the fact that Salat is offered with complete sincerity only for Allah, to seek His nearness as well as His blessings and pleasure, which indeed is the true objective of the existence of man. Huzur also cited verse 133 of Surah Ta Ha (20:133).

Huzur read further extracts from the august writings of the Promised Messiah (on whom be peace) elucidating the merits and significance of Salat in a most eloquent manner.

In conclusion Huzur said these are the high standards of Salat that we do not simply have to attain and be regular at, rather every fibre of our being and our very soul should turn to Allah and prostrate to Him and our hearts should make entreaties that take us close to Allah, that bring about a revolutionary change that reflects the pleasure of the One God. May Allah make us experience all this.

Friday, February 22, 2008

KEBENARAN Missi Islam Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s.

SARIPATI/Kutipan Khotbah Jumat Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Sedunia Sayyidina Hadhrat Amirul Mukminin Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih V atba. Tanggal 8 Februari 2008 (1 Shafar 1429)

“KITA yang beriman kepada Allahswt., apa perlunya kita merasa takut terhadap kesulitan² ataupun ancaman² mereka yang sifatnya sementara ini?”

SETELAH mengucapkan dua kalimah syahadat, taawud dan tilawat Alquran Karim Surah Al-Fâtiĥah (QS 1:1-7), Hudhur (Hadhrat Khalifatul Masih V) atba. mengawali khotbah dengan mengutip sabda-sabda Pendiri Suci Jemaat Ahmadiyah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad—Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s..

KONTINUITAS Berdoa--Dalam setiap doa-doa yang yang kita panjatkan, terdapat keistimewaan dan hal-hal yang mengesankan sekali ketika cobaan-cobaan keimanan timbul. Sesungguhnya, Tuhan dapat kita kenal melalui doa-doa. Ini asas yang mendalam untuk kita pahami oleh setiap orang yang beriman atau mukmin sejati. Tanpa kontinuitas atau merundukkan hati dan berdoa ke haribaan Allah swt., pengakuan diri sebagai mukmin sungguh tiada arti.

Memang, inilah yang sekarang harus menjadi keistimewaan setiap Muslim Ahmadi. Bahkan, pada hari-hari keadaan sedang aman dan tenteram, kita harus senantiasa banyak berdoa bahwa Dia-lah sumber segala kekuatan. Dengan memiliki rasa takut (baca: “cinta”) di dalam hati kepada-Nya, maka kita akan termasuk di antara para mukmin sejati.

Dan ketika ujian keimanan tiba atas kita, maka iman kita semakin kokoh dari sebelumnya. Bahkan, semakin melompat setinggi-tingginya. Kita akan lebih giat dari sebelumnya meraih keridaan Allah swt..

Timbulnya cobaan dan tantangan-tantangan yang sifatnya sementara, mestinya jangan membuat hati gentar. Justru, menambah semakin giat beribadah kepada Allah swt.. Inilah revolusi agung yang telah Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. bangkitkan pada jiwa setiap Muslim Ahmadi. Selama keadaan kita tetap bersiteguh, maka kita akan terus-menerus menjadi pewaris karunia-karunia Allah swt..

Antara berdoa dan terkabulnya doa, kadang timbul cobaan berturut-turut. Bahkan timbul demikian keras hingga hampir mematahkan semangat. Namun, bagi yang tetap teguh dan sabar menghadapi cobaan-cobaan dan kesulitan-kesulitan, kita dapat mencium aroma pertolongan Allah swt. dan dapat menyaksikannya. Setelah itu barulah pertolongan Tuhan turun.

Salah satu rahasia yang terkandung dalam turunnya cobaan-cobaan pada waktu itu ialah, untuk memicu supaya kita tambah semangat berdoa. Sebab, semakin keras kegelisahan dan ketegangan rasa dalam berpikir, semakin keras pula kekhusyukan ruhani timbul terus-menerus. Hal itu menjadi salah satu sarana terkabulnya doa. Jadi, janganlah sekali-kali merasa cemas, jangan berprasangka buruk terhadap Tuhan dengan menunjukkan perangai kegelisahan dan ketidaksabaran. Sekali-kali, jangan berpikir tentang ketidakterkabulan doa. Prasangka demikian bisa menjadi sebab hilangnya keyakinan bahwa Tuhan adalah Zat Pengabul doa-doa.

KEDENGKIAN Para Penentang--Pada beberapa negara dunia, sudah mulai timbul gerakan usaha untuk melawan dan menyusahkan Jemaat Ahmadiyah. Langsung-tidak langsung, sedang disusun rencana-rencana untuk menyerang Ahmadiyah. Ini merupakan api kedengkian yang sedang dikobarkan orang-orang, golongan-golongan maupun pemerintah negara-negara tertentu. Luapan kedengkian ini mulanya banyak berkobar pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang timbul dari dalam maupun luar, baik dari kalangan muslim sendiri maupun non muslim.

Jika timbul dari pihak non muslim, tiada lain karena sejak zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mereka tidak dapat menahan rasa dengki akibat kemajuan-kemajuan Islam yang diusung Jemaat ini, yang akan memenangkan di atas agama-agama lain. Dan bila hal ini timbul dari pihak orang-orang muslim sendiri dan dari pemimpin-pemimpin Islam serta dari kaum ulama, mereka merasa takut jangan-jangan kedudukan dan kekuasaan mereka hilang. Mereka takut umat mereka akan lari dari mereka kemudian masuk ke dalam Jemaat ini. Dan untuk menyelamatkan posisi dan kedudukan mereka, terpaksa bertekuk lutut dan menyembah-nyembah di hadapan orang-orang non muslim waktu itu untuk meminta bantuan. Perbuatan seperti mereka itu tidak dianggap aib oleh mereka. Semoga Allah swt. memberi akal kepada mereka dan mengasihani mereka.

SALING Mendoakan--Dengan penentangan-penentangan yang mereka lancarkan, akibatnya berbalik, tindakan-tindakan itu merugikan mereka sendiri. Takdir Allah swt. ini hendak mereka lawan. Tentu, mereka sendiri yang akan hancur binasa. Dengan penuh rasa simpati kita terhadap mereka yang masih berpegang kepada kalimah tayyibah, kita harus mendoakan mereka supaya mendapat hidayah.

Perihal kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Allah swt. dalam QS [Al-Jumu’ah] 63:4 dengan tegas menyebutkan diri-Nya adalah Zat Yang Maha Perkasa Yang telah mengutusnya. Tidak ada seorangpun yang akan mampu menghalang-halangi pekerjaan-Nya ini. Allah swt. adalah Maha Bijaksana. Dia telah memutuskan bahwa mutiara ajaran Islam hanya dapat diraih dengan jalan menggabungkan diri dengan jemaah Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud. Sehubungan dengan tugas kita untuk menyampaikan amanat ini kepada dunia, sangat diperlukan banyak-banyak doa untuk menghadapi perbuatan dengki dan makar dari para penentang, berdoa untuk melepaskan diri dari berbagai macam kesulitan yang menjadi cobaan bagi kita.

Di negara-negara mana pun yang sedang melakukan kezaliman terhadap warga Muslim Ahmadi, kita harus banyak-banyak memanjatkan doa untuk kekuatan iman mereka di sana. Kita rundukkan kepala di haribaan Allah swt. sambil memanjatkan doa dan menangis di hadapan-Nya sedemikian rupa, sehingga dapat segera kita saksikan kemenangan-kemenangan dan kemakbulannya. Di seluruh dunia mana pun warga Ahmadi berada, yang sedang dalam keadaan aman dan tentram, tidak ada gangguan dan perlawanan apa pun yang menyusahkan, harus banyak memanjatkan doa untuk Saudara-saudara Ahmadi mereka yang sedang dalam kesusahan. Sebab, hadis Hadhrat Nabi Besar Muhammad-mustafa Rasulullah saw. menerangkan keistimewaan para mukmin laksana sebuah tubuh yang jika terdapat bagian darinya sakit, maka seluruh badan akan merasakan sakit.

Jadi, siapapun dari antara saudara Ahmadi kita yang sedang menanggung kesusahan, kita anggap hal itu menjadi kesulitan kita. Bahkan, perasaan hati orang-orang Ahmadi begitu sensitif—dan memang harus demikian. Siapa pun di antara manusia yang sedang menanggung kesusahan, mereka harus sama-sama merasakan. Apabila dengan perasaan hati luluh kita panjatkan doa bagi mereka agar segera terlepas dari percobaan dan kesusahan yang sedang menimpa, maka pasti Tuhan akan mendengar doa-doa kita sehingga Dia akan menjauhkan semua kesusahan dan keprihatinan mereka.

GERAK Tumbuh Jemaat--Para penentang Ahmadiyah mengira, segala perlawanan dan anarkisme yang mereka lakukan akan menghambat dan menghalangi kemajuan Ahmadiyah. Padahal, jika Ahmadiyah sebuah jemaah ciptaan manusia, ia sudah hancur binasa sejak sejak ratusan tahun yang lalu dengan taufan perlawanan yang terus berjalan tanpa henti. Timbulnya serangan-serangan yang hebat oleh pihak penentang Jemaat Ahmadiyah di Pakistan, telah menjadikan Jemaat di sana semakin tumbuh subur, berbunga dan semakin berbuah dengan lebat lebih hebat dan lebih banyak dengan cepat dari waktu ke waktu.

Seharusnya, kita tidak perlu pusing bahwa segala penentangan pihak lawan menjadi tantangan bagi perkembangan dan kemajuan Jemaat Ahmadiyah. Di Pakistan sedang hangat berbagai usaha menentang Jemaat. Bahkan, tak segan-segan mereka memperkarakan Jemaat dengan tuduhan dusta ke pengadilan.

Beberapa hari yang lalu, seorang anak Ahmadi berumur tiga belas tahun dibawa ke pengadilan oleh seorang polisi terkait laporan seorang maulwi (kyai atau mubalig) kepada polisi bahwa anak itu telah memukuli seorang maulwi lain. Sedangkan maulwi yang katanya telah dipukuli itu justru menolak bahwa ia tidak pernah dipukul oleh anak itu. Nyatalah bahwa tindakan maulwi itu semata-mata perbuatan biadab yang dibuat-buat, sehingga katanya, orang itu telah dipukuli sampai babak-belur, sehingga ia harus masuk rumah sakit. Seorang maulvi muda yang kuat bagaimana dipukuli oleh seorang anak tiga belas tahun sampai babak belur dan tidak melawan. Maksud kejadian buat-buatan ini, tiada lain agar ditimbulkan rasa takut sedemikian rupa di dalam benak generasi mendatang, yakni jika anak ini tetap bertahan juga sebagai orang Ahmadi, jangan sampai dia menjadi orang yang aktif.

Mereka berpikir, jelas Hudhur atba., bahwa dengan cara menutup izin mengadakan Jalsa Salana dan melarang kegiatan-kegiatan tarbiyat Jemaat lain bagi para pemuda yang biasa diselenggarakan di Rabwah, telah berhasil untuk melemahkan Ahmadiyah sehingga mereka menjadi pasif tidak memiliki kegiatan apa pun. Pikiran mereka, jika kekerasan seperti itu ditingkatkan lagi, maka tarbiyyat pemuda Ahmadi menjadi mundur dan lemah, akhirnya mereka akan menjauh dari Jemaat.

WAHAI Para Pemuda Ahmadiyah!--Sebetulnya, orang-orang yang buta akal seperti itu tidak tahu bahwa pelita yang Tuhan nyalakan sendiri, tidak mungkin akan padam dengan tiupan mulut mereka. Banyaknya surat-surat yang datang setiap hari kepada Hudhur atba. dari para pemuda Ahmadi kita di Pakistan membuktikan, bahwa perasaan mereka larut dalam keikhlasan dan kesetiaan. Pemuda Ahmadi tersebut telah memenuhi janji-janji mereka yang setiap saat bersedia mengorbankan jiwa raga, harta waktu dan kehormatannya untuk tetap berdirinya Khilafat Ahmadiyah—selama-lamanya. Sesungguhnya, para penentang Jemaat tidak akan mampu menghambat atau membendung pekerjaan kita.

Barangsiapa memiliki ikatan dengan Khilafat, sesungguhnya dikarenakan telah mengikat hubungan dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Dan timbulnya hubungan dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., disebabkan adanya hubungan dengan Hadhrat Rasulullah saw.. Sedangkan Hadhrat Rasulullah saw. adalah zat perantara untuk sampai kepada Allah swt.. Maka, sebagai orang-orang yang mempunyai hubungan erat dengan Allah swt. dengan iman yang sangat kokoh-kuat kepada-Nya, apakah ancaman-ancaman dan teriakan-teriakan seperti suara keledai itu mampu membuat para mukmin takut dan gentar? Tidak! Sama sekali tidak!

Maka, cetus Hudhur atba., “Wahai para pemuda Ahmadiyah! Jalinlah terus hubungan dengan Allah swt. seerat mungkin. Sebab, itulah karakteristik seorang pemuda Ahmadiyah! Itulah keistimewaan seorang lelaki Ahmadi! Itulah keistimewaan seorang wanita Ahmadi! Inilah keistimewaan seorang anak Ahmadi!”

Demikian pula, lanjut Hudhur atba., di India tempat umat Islam sebagai mayoritas, para mullah atau maulwi-maulwi di sana, melakukan tindak kekerasan dan kezaliman terhadap warga Ahmadi. Nama saja orang-orang Islam, seorang pun di antara mereka tidak ada yang tahu sembahyang dan tidak pula tahu mengucap dua kalimah syahadat, apa lagi membaca Kitab Suci Alquran, mereka buta sama-sekali. Mereka hanyalah tahu mengatakan “Kafir, Non Muslim!” terhadap warga Ahmadi. Di sana mereka menyebarkan ancaman-ancaman kepada para Mubalig kita.

Hudhur atba. menghimbau kita agar jangan berhenti. Kita harus terus bekerja, melaksanakan yang telah Allah swt. wajibkan kepada kita. Kita tundukkan kepala kita di hadapan Allah swt., berdoa kepada-Nya menghadapi semua tantangan mereka. Semoga Allah swt. menempatkan kita semua di bawah naungan perlindungan-Nya.

GELIAT Kemajuan Jemaat Ahmadiyah Indonesia--Sekarang ini, dengan semakin meningkatnya penentangan yang gigih terhadap Ahmadiyah, sebenarnya dipicu oleh berkobarnya api dengki dan kecemburuan sosial yang menyembur dari dalam hati yang sudah sangat panas. Menurut anggapan mereka bahwa dengan genapnya seabad Khilafat Ahmadiyah semenjak kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Jemaat ini sudah hampir mau dihancurleburkan. Namun sekarang, kata mereka, Ahmadiyah malah akan mengadakan pesta seratus tahun berdirinya Khilafat Ahmadiyah. Jadi hati mereka semakin gerah hampir meletup kepanasan. Dengan adanya perlawanan yang bertubi-tubi, memberikan bukti nyata kepada kita bahwa Jemaat Ahmadiyah, dengan karunia Allah swt., sedang berderap maju di atas jalan kemajuan dan kejayaan.

Kemudian Hudhur atba. membahas derap kemajuan Jemaat di Indonesia, bahwa sejak beberapa tahun lalu, para penentang Jemaat Ahmadiyah mengadakan serangan dan kezaliman sangat keras. Banyak rumah-rumah Ahmadi dijarah, mesjid-mesjid dihancurkan dan dibakar. Pemerintah daerah setempat mendukung ulama dan pemimpin umat karena takut kepada mereka karena melihat pengaruh mereka. Dengan keadaan pemerintah daerah yang mulai menentang Jemaat dan disebabkan pemerintah daerah di sana telah memberi berbagai macam peringatan terhadap Jemaat kita, pemerintah pusat turun tangan mencarikan titik temu permasalahan mereka.

Lanjut Hudhur atba. bersabda, pemerintah mengeluarkan semacam perjanjian bersama yang beberapa hari kemudian isi perjanjian itu dimuat pada dalam surat-surat khabar, namun tidak semuanya. Sebagian dimuat, sebagian ditinggalkan. Karenanya, perjanjian itu tidak dapat dipahami sempurna.

Hudhur atba. melukiskan bagaimana berita-berita yang diplintir dalam surat-surat khabar dapat dijumpai di dalam internet juga sehingga beberapa Ahmadi yang tidak mengetahui keadaan, menyatakan tidak tahu permasalahan sebenarnya kepada beliau.

Lebih lanjut beliau atba. mengemukakan bahwa para Ahmadi itu mengatakan bahwa untuk menghapus fitnah ini jika harus mempercayainya juga, tidak ada halangan apa-apa. Mereka tidak tahu pasti tentang itu. Mereka tidak tahu jalan yang mana yang baik untuk diikuti. Sehingga, para Ahmadi menghubung-hubungkannya dengan sejarah Islam mengenai Perjanjian Hudaibiyah bahwa perkataan ‘Rasul Allah’ dihapus dalam perjanjian.

Hudhur atba bersabda bahwa Hadhrat Rasulullah saw. sendiri yang menghapus perkataan ‘Rasul Allah’ dengan tangan beliau sendiri. Beliau saw. bersabda, “Mereka tidak percaya bahwa saya seorang Rasul Allah. Oleh sebab itu, saya hapus perkataan itu!” Akan tetapi, orang-orang yang percaya kepada beliau sebagai Rasul Allah, tidak berani berbuat apa-apa. Sedangkan, Hadhrat Rasulullah saw. tidak mengeluarkan sembarang perintah melakukan hal itu karena memahami perasaan mereka.

KEDUDUKAN Mahdi dan Almasih Mutlak!--Jadi, tegas Hudhur atba., bukanlah pekerjaan kita melakukan kemunafikan atau menunjukkan kelemahan iman dan membuat suatu keputusan yang merendahkan kedudukan Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. demi menyenangkan hati mereka. Kita menganggap dan mempercayai Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani a.s. sebagai Masih Mau’ud-dan-Mahdi Ma’hud.

Jika kita melepaskan diri dari pendirian ini, maka sedikitpun kita tidak mempunyai nilai dan hakikat apa pun di sisi Tuhan. Keindahan kita terletak pada kedudukan sebagai Anggota Jemaah Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. dengan penuh keyakinan. Beliau a.s.-lah yang telah melenyapkan kegelapan menuju cahaya terang-benderang.

Pendirian dan pendakwaan kita di zaman kegelapan ini adalah: Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. telah membukakan pintu rahasia dan hakikat kalimah toyyibah dan kalimah syahadat kepada kita. Dan telah menyinari kalbu-kalbu kita dengan nur sejatinya.

Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s.-lah yang telah mengajarkan kepada kita cara-cara berjumpa dengan Allah swt. sesuai yang Alquran Karim ajarkan. Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. adalah Pecinta-sejati Hadhrat Rasulullah saw.. Beliau a.s.-lah yang telah mengajar kita untuk larut dalam kecintaan terhadap Nabi Suci Muhammad saw..

Dalam sebuah hadis disebutkan tentang panggilan Hadhrat Rasulullah saw. kepada Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. dengan kata “Mahdi kami”. Karena itu, akankah kita tinggalkan sebut beliau sebagai Almasih dan Imam Mahdi hanya disebabkan timbulnya kesusahan sedikit saja atau karena hanya untuk menyenangkan hati mereka—yang menamakan diri ulama?

PENJELASAN 12 Butir PB JAI, Titik Temu--Hudhur atba. mengajak kita berpikir apakah kita harus menyebut nama beliau dengan nama yang lain. Sedangkan, Almasih-dan-Mahdi yang ditunggu-tunggu itu telah datang dan sempurna dengan tanda-tandanya yang dijanjikan dan pendakwaannya sudah diumumkan dan semua tuntutan situasi dunia telah terpenuhinya. Setelah menyaksikan itu semua, disebabkan takut kepada ancaman manusia, walaupun Rasulullah saw. telah memberi nama kepada wujud yang ditunggu-tunggu itu dengan “Masih-dan-Mahdi”, akan tetapi demi menyenangkan hati orang-orang duniawi, sekalipun kita telah lama menggabungkan diri dengan orang-orang yang telah beriman kepada beliau, kita harus menyebut nama beliau dengan nama yang lain?

Dan sebagai imbalannya, apakah dengan begitu mereka (penentang Jemaat) akan membatalkan rencana serangan yang akan mereka lakukan kepada kita? Apakah dengan memberi nama selain “Masih dan Mahdi”—setelah menyaksikan terjadinya terjadinya tanda agung gerhana bulan dan matahari—akan menganggap sesuai nama itu? Ataukah—na’ûdzubi`l-Lâh—Allah swt. telah memberi kesaksian dusta? Apakah kita harus menyatakan dusta kepada nubuatan Alquran Karim yang telah sempurna pada zaman ini? Apakah di satu pihak setelah kita bai’at kepada beliau, mempercayai beliau sebagai Utusan Allah swt., di pihak lain lagi kita menganggap tidak benar kepada ilham beliau a.s. di mana Allah swt. telah memberi khabar suka bahwa sesungguhnya Masih Mau’ud dan Mahdi Mas’ud yang ditunggu-tunggu adalah beliau sendiri? Padahal firman lanjutannya mengatakan agar kita janganlah menjadi peragu.

Berdasarkan semua perkara yang telah Hudhur atba. uraikan di atas, masihkah kita dapat dikatakan sebagai warga Ahmadi? Ingkar kepada Masih dan Mahdi tentu menjadi ingkar kepada Ahmadiyah juga. Dan tidak akan ada seorang Ahmadi pun yang sanggup memikul tanggung-jawab seperti itu.

Berbicara fakta, Hudhur atba. bersabda bahwa “Perjanjian bersama”—demikian beliau atba. menyebutnya—yang telah ditandatangani kedua belah pihak antara Pemerintah dan warga Ahmadi yang telah dimuat di dalam surat-surat kabar, telah memberi kesempatan kepada orang-orang Ahmadiyah Lahore juga ikut gaduh dalam pertentangan itu. Di kalangan mereka timbul pula emosi perlawanan dan tuduhan palsu sehingga perkara yang sudah basi pun dimunculkan kembali. Mereka telah menerbitkan berita bahwa orang-orang Ahmadiyah [Qadian] sudah merubah pendirian mereka. Yang dimaksud mereka tiada lain bahwa mereka merasa telah menang dalam pernyataan palsu mereka, dan mengatakan: Sekarang, orang-orang Ahmadi Qadiani juga sudah mengakui—na’udzu bi`l-Lâh—bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bukan Nabi, melainkan Mujadid dan Mursyid saja.

KESAKSIAN Hudhur atba. Tentang Warga JAI--Mengapa perkara itu timbul? Pertama, Hudhur atba. menjelaskan, karena Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang telah mengirim sebuah Tim untuk mengadakan titik temu dengan Pemerintah Republik Indonesia. Di dalam hati para Tim, sedikitpun tidak ada pikiran untuk mengingkari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani a.s. sebagai Almasih Yang Dijanjikan, Imam Mahdi atau Nabi. Dan seorang anggta pun tidak akan ada yang berpikir seperti itu.

Dengan karunia Allah swt., Jemaat Indonesia dari segi keikhlasan dan kesetiaan merupakan sebuah Jemaat yang maju dan salah satu Jemaat paling terdepan. Pengurbanan harta dan jiwa-raga yang mereka serahkan demi Jemaat menunjukkan bukti nyata atas keikhlasan dan kesetiaan mereka terhadap Jemaat. Tidak nampak sedikitpun kekurangan di dalam keikhlasan dan kesetiaan mereka!

Jadi, jelas Hudhur atba., hal ini merupakan tuduhan yang salah terhadap Jemaat Indonesia dan memang tuduhan pasti akan terus ada jika mereka telah menunjukkan kelemahan iman demi mendapatkaan faedah yang sifatnya sementara. Pernyataan yang telah ditandatangani yang telah diambil oleh Pemerintah, di dalamnya terdapat beberapa bagian yang susunan perkataannya tidak jelas.

Dengan isi-isi pernyataan 12 Butir itu, tegas Hudhur atba., tidak berarti bahwa seorang Ahmadi telah menunjukkan kelemahan iman. “Sehingga, tidak ada satu pun tuduhan terhadap seorang Ahmadi bahwa ia telah menunjukkan kelemahan iman!” Beliau pun, maksud Hudhur atba. adalah Amir Nasional JAI, telah menjelaskan pernyataannya demikian di hadapan saya baik dalam pesannya yang dikirim kepada saya maupun dalam surat yang dikirim. Tetapi, pasti dan jelasnya memang tidak dicantumkan perkataan Masih dan Mahdi. Sehingga, para wartawan mendapat peluang untuk memutar balik fakta, kemudian hasil rekayasa mereka itu dimuat di dalam media surat kabar yang sedikitpun pendapat mereka seperti itu tidak terlintas di dalam pikiran seorang Ahmadi. Bagaimanapun, orang-orang dari Ahmadiyah Lahore telah mengambil kesempatan untuk memetik berita itu lalu disulut dan dibesar-besarkan.

SERUAN Kepada Ahmadiyah Lahore--Ketika telah saya uraikan dengan jelas di dalam Khotbah Jumat yang lalu dan pendirian kita pun telah dimuat di dalam surat-surat kabar. Namun, masih juga para Ahmadiyah Lahore bersikeras dan membuat kegaduhan, sehingga mereka menelepon Sekretaris Pers kita di London sambil mengatakan “Sampai sekarang kami belum juga merasa jelas tentang pernyataan yang masih semrawut itu.”

Sesungguhnya, mereka tidak akan merasa puas kecuali jika Tuhan berhendak memuaskan mereka. Jika mereka tidak mau mendengar dan bersedia menerima pendapat seseorang, maka manusia tidak akan memuaskan mereka. Bagaimanapun apa yang hendak kita jelaskan, sudah kita jelaskan kepada mereka.

Kepada Ahmadiyah Lahore, Hudhur atba. menyerukan agar mereka takutlah kepada Tuhan. Mereka harus mempelajari nubuwatan-nubuwatan Hadhrat Rasulullah saw.. dan menekuni baik-baik ilham-ilham Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s..

Kemudian, Hudhur atba. mengajak mereka bermuhasabah diri apakah hujah Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. ada pada mereka, apakah mereka tengah melangkah menuju kemajuan-kemajuan yang telah dijanjikan, apakah dengan menganggap ‘Anjuman’ lebih tinggi kedudukannya dari pada Khilafat, mampukah mereka memancangkan panji-panji Islam di bawah bendera Ahmadiyah ke seluruh dunia, apakah mereka telah berusaha mengibarkan panji-panji itu dengan penuh tanggung jawab, atau apakah mereka mendapat bagian dari keimanan terhadap Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani sebagai Masih Mahdi maupun Nabi, apakah mereka mengakui kebenaran Nizam Khilafat sesudah beliau a.s.?

Sedangkan, ujar Hudhur atba. lebih lanjut, banyak orang yang telah berbaiat kepada Nizam Khilafat, telah mampu menyebarkan amanat Ahmadiyah sebagai Islam hakiki hingga 189 negara di dunia. “Apa yang telah Anda lakukan? Apakah kesaksian Tuhan secara amaliah tertumpu kepada orang-orang yang beriman kepada beliau sebagai Nabi ataukah kepada orang-orang yang beriman kepada beliau hanya sebagai Guru atau sebagai Mursyid atau sebagai Mujadid saja?

Maka, Hudhur atba. kembali berseru, “Sekarang dengan perasaan takut kepada Tuhan, akhirilah ‘perpisahan’ ini sampai di sini. Dan tengoklah, bagaimana sabda Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. tentang diri beliau sendiri. Anda-pun menerbitkan buku-buku beliau, mencetaknya juga dan mendapat taufik untuk membacanya juga dan mendapat taufiq untuk memahaminya juga.” Hudhur atba. meminta agar mereka membuka Alquran dan bacalah sendiri bagaimana firman Allah swt. tentang orang-orang yang beriman kepada sebagian dari padanya dan mengingkari sebagian lagi dari padanya.”

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sendiri pernah bersabda, tidak menjadi syarat bahwa untuk membuat nubuatan harus menerima khabar dari Tuhan. Dan tidak menjadi syarat bahwa untuk menjadi Nabi harus ada syariat. Hanya dengan perantaraan kecintaan sejati kepada Tuhan, pintu hal-hal gaib akan terbuka.

SUMPAH Pendakwaan--Apabila Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. sampai saat ini telah menerima 150-lebih nubuatan dari Tuhan dan telah menyaksikan dengan jelas kesempurnaannya dengan mata kepala sendiri, maka bagaimana beliau a.s. bisa menolak bahwa diri beliau disebut Nabi atau Rasul? Dan selama Tuhan telah menamakan beliau ‘Nabi dan Rasul’, bagaimana beliau a.s. harus menolaknya? Atau, haruskah beliau takut kepada manusia menggunakan nama yang telah Tuhan berikan kepada beliau?

Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. bersumpah, “Saya bersumpah atas nama Tuhan Yang telah mengutus saya bahwa orang yang mengada-ada atas nama-Nya adalah laknat! Dialah Yang-telah mengutus saya sebagai Masih Mau’ud. Sebagaimana saya beriman kepada ayat-ayat suci Alquran Karim, demikian pula—tanpa perbedaan sebesar zarah pun—saya beriman kepada wahyu—yang sungguh-sungguh sangat jelas—yang telah turun kepada saya. Yang kebenarannya, secara mutawatir (terus-menerus) telah terbuka kepada saya. Dan saya, sambil berdiri di dalam Baitullah berani bersumpah, bahwa wahyu suci yang turun kepada saya adalah Kalam Tuhan Yang-sama, Yang-telah menurunkan Kalam-Nya kepada Hadhrat Musa a.s, Hadhrat Isa a.s. dan kepada Hadhrat Nabi Muhammad saw..

“Bumi dan langit juga telah memberi kesaksian kepada saya. Demikian juga, langit telah berbicara untuk saya dan bumi juga bahwa saya adalah Khalifatu`l-Lâh. Akan tetapi, sesuai dengan nubuatan-nubuatan, pasti [pendakwaan ini] akan di-ingkari juga. Sebabnya ialah, mereka—di antara hatinya yang tertutup—tidak akan menerimanya. Saya tahu, bahwa Tuhan akan mendukung saya sebagaimana Dia senantiasa mendukung Rasul-rasul-Nya. Tidak akan ada yang mampu menandingi saya. Sebab, mereka tidak menerima dukungan dari Tuhan.

“Di tempat mana saja saya telah mengingkari kenabian dan kerasulan, hanyalah dalam arti bahwa saya bukan seorang Pembawa Syari’at secara mustakil (langsung tanpa perantara Nabi sebelumnya), dan bukan pula saya seorang Nabi secara mustakil (diutus langsung tanpa melalui ajaran Nabi sebelumnya). Melainkan, dalam arti bahwa saya, setelah memperoleh berkat-berkat ruhani dari Rasul Junjungan-yang-saya-ikuti dengan keitaatan, saya mendapatkan sebutan untuk diri saya sebagai ‘Rasul’ dan sebagai ‘Nabi’ tanpa membawa satu pun Syariat Baru. Dan dengan perantaraannya, saya memperoleh ilmu tentang hal-hal yang gaib.

“Dengan kedudukan seperti itu, saya tidak pernah mengingkari disebut Nabi. Bahkan, dengan arti seperti itulah, Allah swt. memanggil nama saya ‘Nabi dan Rasul’. Jadi sekarangpun, saya tidak mengingkari diri saya sebagai Nabi dan Rasul dalam arti yang sama seperti itu. Maka, setelah diterangkan begitu jelasnya, apakah masih juga ada keraguan?”

AJAKAN--Jelas, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menerima perintah Allah swt.. Beliau a.s. mengumumkan “Saya adalah Nabi.”

Disertai ribuan rasa santun dan hormat—sabda Hudhur atba., “Saya berkata kepada Saudara-saudara saya yang telah keliru dari jalan lurus: Marilah Saudara-saudaraku. Masuklah bersama-sama kami untuk membangkitkan revolusi rohani di muka bumi. Allah swt. telah mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani sebagai Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, dan sebagai Nabi Zilli (Ummati).

“Beliau-lah Almasih dan Mahdi yang kedudukannya sebagai ghulâm (hamba) dari Hadhrat Rasulullah saw. yang akan menyebarkan amanat ajaran Islam ke seluruh pelosok dunia. Bahkan, telah berhasil menyebarkannya ke seluruh dunia. Yang kepadanya, Allah swt. telah berfirman—dengan ungkapan yang sangat jelas sekali—bahwa, sekalipun di tengah-tengah perlawanan yang keras, Dia telah mengumumkan ‘Aku akan sampaikan tabligh engkau ke seluruh pelosok dunia’.

“Sekarang, hanya orang-orang yang percaya kepada beliau sebagai Nabi dan bergabung dengan Khilafat setelah beliau-lah yang menyaksikan sempurnanya wahyu tersebut. Amanat ini, sekarang sedang menggema sampai ke segenap penjuru dunia melalui media elektronik.”

Jadi sekarang, sambung Hudhur atba., untuk mendukung Nabi-Nya ini, Allah swt. sedang memperlihatkan mukjizat-mukjizat dalam menyampaikan amanat-Nya. Tak satu pun kekuatan dunia yang mampu menghalanginya. Dan jika kita cermati wahyu “Aku akan sampaikan tabligh engkau kesegenap penjuru dunia”, maka terkandung hikmah bahwa dalam melaksanakan amanat itu, akan timbul banyak tantangan dan tiupan taufan penentangan yang keras, kobaran api kedengkian akan membumbung, menyala-nyala di kanan dan kiri kita, para pemerintah pun akan berusaha mengeluarkan banyak hambatan.

Akan tetapi, Allah swt. Yang Maha Aziz serta Ghalib, memberi ketenteraman dengan firman-Nya, “Wahai Masih dan Mahdi. Aku berikan ketentraman kepada engkau dan juga kepada orang-orang yang beriman kepada engkau, bahwa engkau datang dari-Ku dan engkau sedang berjuang untuk menyebarkan amanat-Ku. Karenanya, Aku telah memutuskan bahwa dukungan dan pertolongan-Ku senantiasa bersama engkau. Dan dengan tegas Ku-katakan bahwa Aku akan sampaikan tabligh engkau ke seluruh pelosok dunia.”

Allah swt. berfirman kepada beliau melalui ilham, “Jangan takut! Sesungguhnya, Aku bersama engkau. Dan Aku berjalan menyertai engkau. Martabat engkau disisi-Ku tidak diketahui oleh siapa pun di antara manusia. Aku dapatkan engkau apa yang Ku-dapatkan. Siapa pun yang hendak menghina engkau, akan Ku-hinakan-nya. Dan siapa pun yang hendak menolong engkau, Aku akan menjadi Penolong-nya. Engkaulah milik-Ku. Dan rahasia engkau adalah rahasia-Ku. Dan engkaulah yang Aku maksud. Dan engkau bersama-Ku, dan engkau di sisi-Ku. Engkau orang terhormat di sisi-Ku. Aku telah pilih engkau untuk Diri-Ku.”

Jadi, orang yang diberi ketenangan dalam menghadapi sesuatu yang menakutkan, telah ditegaskan kepadanya untuk diberi dukungan-Nya, sudah diumumkan baginya, siapa pun yang akan menolongnya ianya akan ditolong-Nya, telah diumumkan pula baginya, sesiapa yang hendak menghina dan menentangnya akan dihinakan dan disengsarakan-Nya, orang yang telah dimasukkan kedalam kelompok orang-orang pilihan-Nya yang khas, untuk orang yang beriman kepadanya-pun tidak ada alasan untuk merasa gentar dan takut. Tidak perlu merasa takut dan cemas dari kesulitan dan kesusahan apapun karena hal itu hanya sementara.

SABAR dan Istiqamah--Layaknya Perang Uhud, Hudhur atba. bersabda, sekalipun orang-orang beriman sudah dalam keadaan sangat terdesak dan telah banyak menelan kerugian jiwa-raga dan harta, mereka tidak memberi kesempatan kepada musuh untuk mengalahkan mereka. Akhirnya, merekalah yang mendapat mahkota kemenangan sambil meneriakkan suara dengan keras “Allâhu ‘alâ wa a’jal!” Maka sekarang pun, sabda beliau lagi, bila pekikan itu telah mengumumkan hal-hal tersebut di atas untuk kekasih yang mencintai-Nya, maka kita yang beriman kepada Allah swt., apa perlunya kita merasa takut kepada kesulitan-kesulitan ataupun ancaman-ancaman mereka yang sifatnya sementara ini?

Selanjutnya, Hudhur atba. beralih kepada kejadian beberapa hari sebelumnya tentang adanya beberapa kekhawatiran orang-orang Arab, di antara mereka ada warga Ahmadi Arab dan juga yang non Ahmadi yang simpati serta memiliki rasa cinta terhadap Islam. Mereka khawatir karena atas desakan beberapa pemerintahan negeri Arab kepada pemilik satelit yang menayangkan Muslim Television Ahmadiyya atau MTA3 yang khusus ditayangkan bagi pemirsa Berbahasa Arab di Timur Tengah, telah ditutup. Hal ini, disebabkan beberapa pemerintahan Negara-negara Arab dan para Mullah yang takut kepada gerak dakwah Kristen, sambil memandang kepada orang-orang Ahmadi dan disebabkan berkobarnya api dengki di dalam hati mereka juga terhadap Jemaat Ahmadiyah.

Dan oleh karena tanpa menghiraukan faktor akhlak dan tanpa pemberitahuan sebelumnya, saluran itu telah ditutup. Maka, baik orang-orang Arab Ahmadi maupun orang-orang Arab non Ahmadi, telah mengirimkan banyak sekali surat-surat kepada Hudhur atba. maupun kepada Pengurus MTA dan mereka mengatakan bahwa perbuatan itu perbuatan zalim. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, saluran ini telah ditutup? Dalam menjawab surat mereka tersebut, Hudhur atba. bersabda agar bersabarlah. “Insya Allah swt. akan diusahakan supaya saluran ini dapat dimulai lagi secepat-cepatnya.”

Dengan khotbah yang Hudhur atba. sampaikan ini, semoga menjadi kemakluman penyebab ditutupnya MTA Al-‘Arabiyya akibat pemerintah-pemerintah yang tunduk pada kemunafikan, ciut pada kekuatan manusia dan disebabkan rasa dengki juga telah berusaha untuk memblokir saluran ini.

TABLIG MTA Al-‘Arabiyya--Di negara-negara Arab banyak padri-padri Kristen sedang melancarkan serangan-serangan terhadap Islam. Dan Jemaat Ahmadiyah melalui MTA sedang giat menjawab serangan-serangan mereka, oleh sebab itu mereka juga memberi tekanan-tekanan supaya saluran MTA ini ditutup, kalau tidak MTA ini akan memberi pengaruh buruk terhadap orang-orang Kristen. Bagaimanapun akibatnya, mereka harus berurusan dengan Allah swt..

Mereka dengan mengatasnamakan Tuhan telah melakukan permusuhan terhadap insan-insan Tuhan. Mereka menganggap bahwa semua sumber kekuatan ada di tangan mereka. Akan tetapi, Dia Yang Aziz Tuhan Pemilik semua kudrat dan kekuasaan, telah mengumumkannya dalam QS [Âli ‘Imrân] 3:55 “Wa makarû wa makara`l-Lâh[u], wa`l-Lâhu khairu`l-mâkirîn—Dan mereka membuat rencana dan Allah membuat rencana. Dan Allah-lah sebaik-baik Perencana.”

Pada zaman Almasih Musawi pun telah dibuat banyak rencana. Karenanya, di dalam ayat ini dan di zaman ini pula, telah diumumkan berbagai macam rencana untuk melawan Almasih Muhammadi Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s.. Akan tetapi, Allah swt. telah memberi ketenteraman hati kepada beliau a.s. dan para pengikutnya.

Jadi, peristiwa yang sedang kita hadapi, kita harus berusaha mengantisipasinya. Hal itu semata-mata pekerjaan Allah swt. untuk Almasih-Nya. Dengan cara bagaimana Allah swt. membuat perencanaan-Nya sehingga manusia tidak dapat membayangkan sebelumnya, dan bagaimana Allah swt. telah memberi pertolongan dalam hal ini? Untuk beberapa jam atau barangkali untuk satu hari saja lamanya, saluran ini sudah ditutup.

Bagaimanapun hari ini, Dia telah mengatur jalan lain sebagai gantinya untuk kita. Sehingga, usaha yang pihak penentang lakukan menutup saluran ini, sebagai gantinya, Allah swt. telah menghubungkan kita dengan seorang pengusaha satelit di Eropa yang sebelumnya juga pernah kita usahakan; yang pada waktu itu, pesanan cukup ramai sehingga kita tidak dapat memperolehnya.

Setelah pemblokiran MTA3 Al-‘Arabiyya ini, Allah swt. sendiri telah mengatur untuk kita sebagai ganti. Satelit sebelumnya, jangkauannya tidak begitu luas hanya sampai kepada beberapa negara Arab saja. Sehingga tidak dapat menjangkau negara Maroko dan beberapa negara lainnya yang sangat mendambakan MTA. Tetapi, satelit baru—sebagai gantinya ini—dapat menjangkau banyak sekali negara hingga sampai ke negara Maroko dan beberapa negara lain di sekitarnya. Sehingga, keperluan mereka dapat dipenuhi. Alĥamduli`l-Lâh!

Jadi, lihatlah! Ini semua pekerjaan Allah swt.! Dia-lah Tuhan Yang-sangat tepat memenuhi janji-janji-Nya. Sekarang pun, hambatan-hamabatan sedang berlaku dan akan berlaku terus. Akan terjadi serangan-serangan dari pihak para penentang dan para pedengki terhadap Jemaat.

Hudhur atba. menasihatkan bahwa seorang Ahmadi tidak boleh berkecil hati dan putus asa atas serangan-serangan itu. Sambil menyaksikan serangan-serangan mereka, kita harus lebih banyak bersujud memanjatkan doa di hadapan Allah swt.. Kita tingkatkan semangat doa kepada Allah swt.. Kita jaga baik-baik salat kita. Kita penuhi kewajiban-kewajiban kita dengan teratur. Kita perhatikan pelaksanaan salat-salat nafal.

Dengan perantaraan doa-doa dan ibadah-ibadah tersebut, Allah swt. menolong kita untuk menyempurnakan maksud-maksud kita. Jangan biarkan bibir-bibir kita berhenti zikir kepada Allah swt.. Melalui gerakan-gerakan bibir itulah, pintu-pintu kemenangan akan terbuka bagi kita—insya Allah. Jadi, itulah titik dasar yang harus selalu kita ingat setiap saat.

NIZAM Khilafat--Sekarang dengan genapnya Seabad Khilafat Ahmadiyah, warga Ahmadi sedang membuat program-program untuk merayakannya. Karena rasa dengki para penentang Jemaat, mereka sedang membuat rencana untuk menyerang bahkan lebih hebat dari yang telah mereka lakukan sebelumnya. Mereka hendak menimpakan berbagai macam kesusahan dan kesulitan kepada kita. Mereka pikir, khilafat telah kita rampas mereka. Kita sedang menikmati khilafat, sedangkan mereka tidak. Dan dengan kompaknya, kita terikat dalam persatuan dan kesatuan kokoh, sedangkan mereka tidak demikian.

Para penentang Jemaat telah menzahirkan pengakuan mereka secara terbuka bahwa mereka tidak akan dapat memperoleh kemajuan dan kemenangan tanpa berpegang pada nizam khilafat. Dan mereka telah menulis bermacam-macam ide dan pendapat mereka tentang khilafat sehingga memenuhi lembaran surat-surat kabar dan majalah-majalah. Hampir setiap hari selalu dimuat karangan-karangan tentang khilafat di dalam media cetak. Dan dalam khotbah ini, Hudhur atba. membaca salah satu kutipannya tentang pendapat seorang mufti Non Ahmadi bernama Muhiburrahman Sahib dari Pakistan.

Muhiburrahman Sahib mengemukakan bahwa tiada nizam yang lebih besar dari Nizhâm Khilâfat Islâmiyyah ‘Alâ Minĥâji`n-Nubuwwah. Nizam ini, menurutnya, dapat ditegakkan dengan berhimpunnya umat Islam pada satu platform yang sama. Umat Islam saat ini telah terlepas dari berkat khilafat. Umat Islam harus berbuat seperti pada waktu berusaha mendapatkan negara Pakistan melalui pengorbanan yang sangat besar. Pengurbanan umat Islam pada waktu itu diberikan untuk mendapatkan negara yang bebas dan merdeka. Waktu itu menurut rencana, akan mendapatkan negara merdeka dimana mereka akan menegakkan negara Islam. Tapi kenyataannya, Muhiburrahman Sahib mengakui, Pakistan telah berdiri di balik tabir penipuan. Rahasia untuk keutuhan dan kebaikan umat Islam, hakikinya terletak pada kesepakatan, persatuan, dan sistim Khilâfat Islâmiyyah ‘Alâ Minĥâji`n-Nubuwwah.

Dalam mengakhiri khotbah, Hudhur atba. menanggapi, alangkah baiknya jika orang-orang semacam itu meninggalkan ego dan mau tunduk pada pendapat orang. Mereka tidak melihat bahwa Imam Mahdi yang mereka tunggu-tunggu itu sudah datang. Pada riwayat-riwayat lain telah disebutkan pula bahwa apabila Imam Mahdi sudah datang maka khilafat pun akan berdiri.
Sekarang, Imam Mahdi sudah datang. Dengan perantaraan beliau, kini Khilafat sudah berdiri. Nizam khilafat baru apa pun, tidak akan dapat didirikan lagi. Sekalipun, mereka berusaha keras untuk itu.

Sekarang, setiap warga Ahmadi harus banyak memanjat doa agar Allah swt. melindungi kita keburukan dan kesusahan yang akan timbul. Semoga Dia memberi kekuatan dan keteguhan iman kepada kita. Semoga Dia memberi taufik kepada kita agar tetap berpegang teguh kepada Jemaah Imam Mahdi-dan-Almasih yang-telah-datang sesuai nubuatan Hadhrat Rasulullah saw..
Di samping itu, setiap warga Ahmadi harus memanjatkan doa bagi umat Islam yang telah keliru, agar Allah swt. memberi taufik kepada mereka guna menggabungkan diri dengan Jemaah Hadhrat Imam Mahdi-dan-Masih Mau’ud a.s. ini. Semoga Allah swt. mengabulkan semua harapan kita. Amin.[] (MTA/HsB/HSAL/HPSi/www.Ahmadiyya.or.id/Ali “JAI-Kby”)

--
“Don’t hate one another and don’t be jealous of one another, and don’t boycott one another and be servants of God as brethren.” --Muhammad saw.
“The whole worth of a kind deed is in the love that inspires it.” --Moses a.s. (The Talmud)
“Hatred doesn’t cease by hatred, but only by love; this is eternal rule.” --Budha a.s.
“Love your enemies!” --Jesus a.s.
“Love for All, Hatred for None!” --Mirza Nasir Ahmad r.h.
“To be loved, be lovable.” --Ovid

Saturday, July 28, 2007

Guidelines for the guests attending the Jalsa Salana UK

Guidelines for the guests attending the Jalsa Salana UK

Summary of Friday Sermon delivered by the Head of the Ahmadiyya Muslim Community July 27th, 2007

NOTE: Alislam Team takes full responsibility for any errors or miscommunication in this Synopsis of the Friday Sermon


In the Friday sermon today, Huzoor gave a few guidelines for the guests attending the Jalsa Salana UK along with some last minute advice to the volunteers on duty. Huzoor also remarked that the weather in the UK has been quite severe for the past few days, with heavy rainfall, which has caused inconvenience to the organizers as well as the guests arriving for Jalsa Salana. He prayed that the weather conditions should not deter the guests nor the residents of UK from attending the Jalsa Salana, which is an institution that was inaugurated by the Promised Messiah himself under Divine Guidance in order for people to elevate their spirituality. He narrated a few examples where people have braved severe weather conditions to attend Jalsa Salana in Rabwah, Qadian, Ghana and Tanzania. He repeatedly prayed for all the guests and organizers attending the Jalsa that may Allah bestow His special favors on this auspicious occasion and protect everyone from all harm, Ameen.

Huzoor also gave advice to the guests who are attending this Jalsa Salana as well as the hosts to treat one another with mutual respect and love. Huzoor quoted the following Hadith, where the Prophet Muhammad is reported to have said, "Whoever believes in Allah and the Last Day, should serve his guest generously. The guest's reward is: to provide him with a superior type of food for a night and a day and a guest is to be entertained with food for three days, and whatever is offered beyond that, is regarded as something given in charity. And it is not lawful for a guest to stay with his host for such a long period so as to put him in a critical position." (Bukhari)

A host should be mindful of their guests and treat them kindheartedly. They should not offend them with any harsh words and provide the best that they can for them in terms of accommodation, dining, hospitality, etc. Similarly, the guests should not become a burden on the hosts and try to make their trip as short as possible and return to their homelands within reasonable time after attending the Jalsa.

Huzoor reminded all those who are attending the Jalsa Salana from Pakistan, India, Bangladesh or from any other country that if they were granted visa for UK to attend the Jalsa Salana, then they must not seek asylum in UK or in any other European country as this is a breech of trust with the authorities that have granted the visa. Such an undertaking blemishes the Jama’at’s repute and also creates difficulties for those who wish to attend the Jalsa Salana in the coming years, as they are not granted visas.

Huzoor reiterated that one of the objectives of holding the Jalsa is to inculcate Islamic values amongst us; therefore the use of saying “Assalam-o-Alaikum” should be extensive during these days. He emphasized the importance of this Islamic salutation by quoting a Hadith and reminded every Ahmadi in attendance of this Jalsa Salana to utilize this occasion to proliferate the usage of Salam.

Huzoor also reminded all Jalsa attendees to pay special attention to safeguarding their Salat (Farz) and Nawafil prayers and not to overindulge in social gatherings with their relatives to the extent that it affects the offering of their Salat, as one of the benefits of the Jalsa is to gain special blessings by observing prayers.

In the last part of the sermon, Huzoor directed the attention of the audience towards two very important organizational aspects of the Jalsa Salana, namely parking facilities and security. For parking, he reminded everyone to use the parking facility that has been made available at a short distance from the Jalsa Gah and to fully cooperate with the volunteers and use the shuttle service. Last year, the police and the neighbors were highly impressed with the discipline that was displayed during the Jalsa days with regards to traffic control; this year, we should try to outdo our previous performance and maintain this good impression.

In terms of security, Huzoor said that everyone attending the Jalsa should keep an eye around and if they suspect anyone, they should not take it upon themselves to deal with such a person, but they should promptly report to the staff on duty for security and in the meanwhile, keep an eye on that suspicious person. He also reminded the volunteers on duty to deal with people politely at all time. He also enjoined the Lajna to cooperate with the security staff and not to be offended if they are asked to clear the security measures. He instructed everyone to display their ID badges at all times for safety reasons.

Huzoor closed the sermon by reminding everyone to pray for themselves and for those they have left behind in their homes, and he read the following passage from the writings of the Promised Messiah.
I pray to God that He may be with all those who are coming to attend this Jalsa for the sake of Allah that He may grant them great rewards and He may show mercy to them and He may remove their hardships and sorrows; may He let them have what they desire and raise them up on the Day of Resurrection along with those to whom He has shown mercy and His grace and be the protector of all in their absence till the completion of the journey. O God! O You who are the Great Granter, the Benevolent and Merciful, and Remover of hardships, do listen to all these prayers of mine and grant us victory over our opponents, with great and grand signs, for, You have the power to do whatever You like. Aameen, Aameen once again. (Ishteharat, Vol.1 p.342)

Monday, July 23, 2007

Mengaplikasikan Sifat Al-Mu'min Allah swt. Diperlukan Karakteristik Seseorang Yang Beriman


Hudhur atba. masih melanjutkan topik Asma Ilahi Al-Mu'min atau Yang Maha Melimpahkan Keamanan pada khotbah jumat yang beliau sampaikan melalui siaran satelit Muslim Television Ahmadiyya (MTA) dari Mesjid Baitul Futuh London, minggu lalu (13/7). Pada khotbah kali ini, Hudhur menguraikan beberapa karakteristik yang harus dipenuhi oleh seorang mukmin atau yang beriman menurut Alquran Surah ke-2 Al-Baqarah ayat 4 dan 5 (QS 2:4-5). Ayat-ayat tersebut berbicara mengenai dasar-dasar keimanan—yaitu beriman kepada kebenaran meski hal itu masih gaib, mendirikan salat, pembelanjaan sebagian hal-hal yang telah Allah swt. rezekikan, keyakinan masalah wahyu dan kehidupan hal-hal yang akan datang.

Berkenaan dengan beriman kepada yang gaib, Hudhur atba. mengartikannya dengan keyakinan terhadap wujud Allah swt.. Demikian pula, beriman kepada hal-hal yang masih gaib meliputi dengan kepercayaan adanya para malaikat, kehidupan sesudah mati dan lain-lain. Seseorang harus berpegang teguh kepada ajaran tersebut sekokoh mungkin. Karena, keimanan inilah yang mampu meraih keridaan Allah swt., Dia dapat mengetahui keadaan setiap hati manusia di setiap situasi dan kondisi.

Seseorang yang mendirikan salat, lanjut Hudhur atba., merupakan salah satu ciri khas seorang yang beriman. Ia akan bekerja keras untuk itu dan berusaha terus-menerus konsentrasi penuh menghadap Allah swt.. Bagi beberapa orang, ada yang sulit untuk bangun salat Subuh. Tapi, mereka harus berusaha keras mendirikan salat ini begitu mereka bangun. Tidak mendirikan salat pada waktunya, akan menggerakkan beberapa bentuk penyesalan mendalam pada hati. Atau kemungkinan besar, mereka akan merasa malu nantinya mendirikan salat dibanding waktu yang ditetapkannya sebelum anggota-aggota rumah tangga lain, dan besar kemungkinan ini akan mendorong mereka berusaha bangun tepat waktu. Demikian halnya, sering terjadi bahwa orang-orang yang bekerja tidak peduli mendirikan salat Zuhur dan Asar. Surah ke-70 Al-Ma’ârij ayat 24 (QS 70:24) melukiskan bahwa pribadi seorang mukmin adalah orang yang tetap menjaga dan mengingatkan diri dalam mendirikan salat. Sehingga, salatnya lebih berharga dari hal apa pun di dunia.

Pada Surah ke-4 An-Nisâ' ayat 104 menyebutkan bahwa seorang mukmin adalah orang yang mendirikan salatnya dengan tepat waktu. Di samping itu, orang yang mendirikan salat berarti juga mengerjakan salat dengan penuh konsentrasi dan berjamaah. Makna lain dari mendirikan salat—sebagaimana yang Surah Al-Ma’ârij ayat 35 dan Surah ke-6 Al-An’âm ayat 35 sebutkan—adalah orang yang memelihara dan menjaga salatnya. Meski begitu, ia harus memotivasi orang lain untuk mendirikan salat juga dengan penuh cinta kasih dan sayang.

Beranjak kepada ayat “Wa mimmâ razaqnâhum yunfiqûn” di awal-awal ayat QS Al-Baqarah, Hudhur atba. bersabda bahwa memaknainya tidak hanya sekedar membelanjakan di jalan Allah swt. begitu saja, tapi lebih kepada membantu saudara-saudara maupun karib kerabat kita. Hal-hal ‘yang telah direzekikan Allah swt.’ itu tak hanya sebatas pada harta kekayaan berupa uang saja. Tapi, kemampuan maupun bakat yang telah Allah swt. anugerahkan kepada kita, harus kita infakkan di jalan-Nya. Hal tersebut bisa berupa pengkhidmatan tanpa pamrih kepada sesama manusia yang dapat menimbulkan ikatan cinta kasih, persaudaraan, persatuan dan kesatuan.

Jika konsep cinta kasih tersebut diterapkan pada tatanan masyarakat yang lebih luas sebagai bentuk pemenuhan atas perintah-perintah Allah swt., maka akan menjadi model kehidupan sosial yang maju dan ideal. Hudhur atba. menyontohkan, antara lain pada hubungan suami isteri, anak dan orang tua, kehidupan bertetangga, hubungan si kaya dan miskin, dan seterusnya.

Mengenai infak harta, Hudhur atba. menyebutkan bahwa Jemaat menjadi saksi atas pengorbanan harta para Ahmadi di seluruh dunia. Pada Juni yang lalu terlihat, ketika tahun anggaran keuangan jemaat akan berakhir, setiap jemaat lokal tidak hanya ada yang berusaha mencapai anggaran penerimaan-nya, namun ada yang telah jauh melampaui target. Hal ini terjadi di Jemaat Karachi, Pakistan, meski di sana mengalami berbagai ujian berat dengan banyaknya bencana alam. Namun ajaibnya, target tersebut telah tercapai. Ini menunjukkan betapa Allah swt. menurunkan bantuan-Nya kepada para warga jemaat yang saleh, dan ini semakin memperkuat keimanan kita.

Hudhur atba. bersabda bahwa seorang mukmin adalah seorang yang memegang kuat keimanannya terhadap ajaran-ajaran yang Allah swt. turunkan kepada Hadhrat Nabi Besar Muhammad—Rasulullah saw. sebagai Khataman Nabiyyin dengan Alquran sebagai kitab syariat terakhir.

Seorang mukmin adalah orang yang harus mempercayai kebenaran semua nabi yang diturunkan Allah swt. sebelum Hadhrat Rasulullah saw. diutus. Sebagaimana yang tercantum pula di Surah ke-35 Al-Fâthir ayat 25, Allah swt. telah mengirimkan nabi sebagai pembawa kabar suka kepada setiap bangsa meski tidak semuanya disebut oleh Alquran.

Hudhur atba. menambahkan bahwa seorang mukmin adalah orang meyakini teguh tentang kehidupan ‘yang akan datang’. Mengutip dari Tafsir Kabir yang disusun Hadhrat Khalifatul Masih II r.a., kehidupan ‘yang akan datang’ merupakan keyakinan adanya lagi seorang nabi sesudah Hadhrat Rasulullah saw., dan keyakinan adanya Hari Pembalasan. Menjelaskan makna ‘yang akan datang’, Pendiri Suci Jemaat Islam Ahmadiyah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad—Imam Mahdi dan Masih Mau’ud (Almasih Yang Dijanjikan) a.s. bersabda bahwa hal tersebut merupakan wahyu-wahyu yang akan senantiasa turun terus-menerus.

Ke poin berikutnya, merujuk QS Al-Baqarah ayat 166, Hudhur bersabda bahwa seorang mukmin harus meletakkan kecintaan Allah swt. jauh di atas segalanya. Seluruh hidupnya harus menggantungkan diri pada keberadaan Allah swt.. Semuanya bakal bermakna jika memiliki kecintaan kepada Allah swt.. Wujud suci Hadhrat Rasulullah saw. merupakan contoh sempurna tentang kecintaannya kepada Allah swt.. Sehingga, para penentang beliau pun mengakuinya. Untuk meraih cinta ini, seseorang harus senantiasa kembali atau rujuk atau tobat kepada Allah, dan berdoa khusyuk kepada-Nya.

Makna lain dari orang yang beriman sebagaimana yang termaktub di Surah ke-8 Al-Anfâl ayat 3, adalah sorang yang tatkala nama Allah disebut, maka hatinya akan bergetar. Seorang mukmin harus mengamalkan perintah-perintah Allah swt. guna meraih kedekatan dengan-Nya. Selamanya, ia harus memperhatikan tentang kedudukannya di pandangan Allah swt. dan senantiasa bekerja keras dalam rangka meningkatkan keimanannya.

Hudhur atba. menekankan bahwa seorang mukmin adalah orang yang taat. Hal ini Alquran lukiskan dalam Surah ke-24 An-Nûr ayat 52. Ketaatan tak hanya cukup dengan di lisan saja. Ketaatan akan memiliki makna jika ajaran tersebut teraplikasikan dengan amalan nyata. Seorang mukmin harus taat terhadap instruksi Hadhrat Khalifah dan menghormati Nizam Khilafat. Dia harus sepenuh hati menerima keputusan yang telah berlaku tanpa adanya pembangkangan dan perselisihan, meski keputusannya itu bertentangan dengan ego. Meskipun keputusan itu tidak ia sukai, dia tidak boleh mencurigai motif apa yang terdapat dalam diri sang pengambil keputusan. Ia harus mencegah kemungkinan adanya konflik interes dengan cara menghindari pembahasan yang berpeluang ke arah terjadinya gibat. Jika sebuah keputusan keliru terjadi terhadap seseorang yang tidak bersalah dan polos, seseorang yang beriman harus mematuhinya. Dengan cara ini, pertolongan Allah swt. akan datang kepada orang-orang tersebut.

Seseorang yang beriman adalah yang takut atau cinta kepada Allah dan berusaha keras meningkatkan keimanannya. Seorang mukmin adalah orang yang senantiasa sibuk dalam kerja dan ibadahnya demi memperoleh kedekatan Allah swt.. Dengan petunjuk-petunjuk Hudhur atba. tersebut, setiap pribadi harus berperan aktif sepenuhnya dalam persatuan dan kesatuan Jemaat. Hubungan dengan Allah swt. meningkatkan diri dan menjadi sumber dalam memperoleh limpahan ganjaran rohani.

Semoga Allah swt. memperkenankan setiap warga Muslim Ahmadi meraih anugerah-Nya sebagaimana yang telah dijanjikan-Nya. Semoga Allah swt. menganugerahkan kita kemampuan dalam mengembangkan cinta kepada-Nya dan mengaplikasikan asma Ilahi Al-Mu'min tersebut demi keridaan-Nya. Semoga Allah swt. menyelimuti kita dengan ganjaran yang berlimpah-limpah melalui kasih sayang-Nya. Amin.[] (Alislam.org/ASh/LB)

Tuesday, June 12, 2007

Khotbah Jumat 1 Juni 2007

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىعَلى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىعَبْدِهِ الْمَسِيْحِ الْمَوْعُوْدِ

KHUTBAH JUM’AH

HADZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.

Tanggal 01-Juni-2007 dari Mesjid Baitul Futuh, London UK

TENTANG SIFAT ALLAH :

“ AS SALAAM ( السَّلا َم ) ”

Bagian ke 04

وَاعْبُدُوْااللهَ وَلاَتُشْرِكُوْابه ِشَيْـئًاوَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاوَّبِذِىالْقُرْبىوَالْيَتمىوَالْمَسكِيْنِ

وَالْجَارِِذِالْقُربىوَالْجَارِالْجُنُبِ وَالصًّاحِبِ باِلْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَامَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ

اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُوْرًا

Artinya : Dan sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya: dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim dan orang miskin dan tetangga yang sesanak-saudara dan tetangga yang bukan kerabat dan handai taulan dan orang musafir dan yang dimiliki oleh tangan kananmu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang sombong membanggakan diri. (Surah An Nisa ayat 37)

Setelah mengucapkan Syahadat, dan membaca surat Al-Fatihah, Huzur atba menilawatkan ayat 37 Surah An Nisa tersebut diatas, lalu beliau bersabda:

Didalam khutbah Jum’ah yang lalu telah dijelaskan tentang mengucapkan salaam dirumah-rumah dan menyebar luaskannya kepada yang lain. Berkat penyampaian amanat keselamatan Allah swt itu suasana kedamaian dirumah-rumah tangga menjadi mapan. Karena hadiah-hadiah keselamatan itulah kegelapan menjadi hilang sirna. Dengan karunia Allah swt sesuai dengan janji-Nya pintu Daarus-Salaam selalu terbuka, baik untuk yang mengucapkan salaam itu sendiri maupun untuk keluarganya sendiri yang diberi ucapan salaam itu. Ucapan salaam itu adalah pembuka pintu daarus-salaam.

Sebagaimana telah saya katakan bahwa amanat keselamatan Islam ini adalah amanat keselamatan bagi kehidupan manusia secara individu dan juga bagi kehidupan manusia secara global. Di dalam khutbah itu sudah saya jelaskan juga bahwa menyampaikan amanat keselamatan yang sangat indah ini baik dikalangan rumah tangga sendiri maupun dikalangan rumah kaum kerabat atau rumah kawan-kawan adalah perintah dari Allah swt. Dan Allah swt telah memberitahukan bahwa dengan ucapan salaam itu suasana kedamaian dan keselamatan dapat ditegakkan dan kezaliman dapat dihindarkan.

Didalam ayat 37 Surah An Nisa tersebut diatas, secara tidak langsung Allah swt dalam bentuk beberapa macam ihsan (kebaikan) telah menyebutkan perintah-perintah-Nya sebagai amanat kedamaian dan keselamatan bagi dunia. Dan amanat itu dapat sampai kepada setiap orang yang telah disebutkan didalam ayat tersebut. Dan jika seorang manusia, seorang mu’min melaksanakan perintah-perintah itu maka keselamatan dan kedamaian pasti dapat ditegakkan dikalangan masyarakat banyak. Didalam satu ayat ini petunjuk-petunjuk yang diberikan untuk menegakkan kecintaan, perdamaian dan keselamatan didalam masyarakat jumlahnya ada sebelas macam. Jika didalam masyarakat tertentu semua petunjuk itu diamalkan, pasti dapat tercipta suasana masyarakat yang sangat indah. Disebabkan harumnya angin keselamatan suasana masyarakat dan lingkungan disana akan bertambah semerbak kemana-mana.

Hidayat pertama yang harus dilaksanakan adalah menunaikan ibadah kepada Tuhan. Jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Sebagaimana firman-Nya :

وَاعْبُدُوْااللهَ وَلاَتُشْرِكُوْابهِ شَيْئًا

Artinya : Dan sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya:

Seorang muslim baru dapat menyatakan dirinya muslim sejati, jika ia paham betul akan maksud daripada ajaran Islam yang sangat mendasar ini, untuk mana manusia telah diciptakan oleh Allah swt. Sebab tanpa memperoleh hasil daripada maksud ini, ruh sejati Islam tidak dapat tercipta. Dan sifat-sifat Tuhan tidak dapat dikenal dengan sebaik-baiknya. Disebabkan tidak mengenal Sifat Salaam Tuhan, seorang mu’min tidak akan berhasil mendapatkan barokah-barokahnya. Maka setiap mu’min harus selalu menaruh perhatian khusus kearah itu, supaya dengan mengenal hakikat keselamatan itu, ia sendiri dapat meraih berkah-berkahnya dan dapat pula menyebarkan kepada masyarakat sekitarnya. Apabila sudah memahami hakikatnya, dan hal itu sudah menjadi adat kebiasaan hidup sehari-hari, maka firman-Nya, tegakkanlah haq-haq kewajiban terhadap sesama manusia seperti telah dijelaskan didalam ayat itu, yakni jika saling berlaku baik antara sesama sudah terbiasa dilakukan, maka hal serupa itu dapat menjadi jaminan bagi keselamatan masyarakat banyak. Akhirnya petunjuk yang harus mendapat perhatian didalam ayat itu merupakan amalan yang bersangkutan dengan hak-hak Allah swt, dan juga yang bersangkutan dengan hak-hak sesama manusia.

Sekarang akan saya jelaskan satu persatu yang dapat memberi jaminan terhadap perdamaian, kecintaan dan keselamatan bersama didalam setiap tingkatan masyarakat.

Yang pertama adalah اِحْسَانًا وَّبِالْوَالِدَيْنِ

artinya : dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua. Hal ini menunjukan bahwa setelah perintah menunaikan ibadah kepada Tuhan, perintah berlaku baik terhadap orang tua mendapat tempat yang sangat penting, yaitu harus berusaha menjaga keselamatan kedua ibu dan bapak dari setiap keburukan, sebab mereka berdua selalu menjaga keselamatan anak-anak mereka dari setiap keburukan semenjak mereka masih kecil. Sepanjang kehidupan kedua orang tua menanggung kesulitan dan kesusahan menjaga keselamatan anak-anak mereka. Maka sekarang setelah anak-anak menjadi besar-besar mereka harus memenuhi hak-hak kewajiban terhadap kedua orang tua mereka. Ditempat lain Allah swt berfirman :

وَلاَ تَقُلْ لَهُمَا اُفٍّ

Artinya : dan (apabila kedua orang tua sudah berusia lanjut) janganlah engkau membantah kehendak orang tua dengan mengatakan kepada mereka “akh“ engkau harus menta’ati mereka. (Surah Bani Israil ayat 24)

Ditempat lain lagi Allah swt berfirman :

وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَاكَمَا رَبَّينِىْ صَغِيْرًا

artinya : Dan katakanlah (panjatkanlah do’a untuk mereka) Ya Allah kasihanilah mereka berdua sebagaimana keduanya telah memeliharaku dengan kasih sayang ketika aku masih kecil ! ( Surah Bani Israil ayat 25)

Do’a itu diperintahkan kepada anak-anak supaya dalam hati mereka timbul pikiran dan perasaan kasih sayang terhadap kedua orang tua mereka.

Didalam surah Al Ahqaf ayat 16 Allah swt berfirman :

وَوَصَّيْنَااْلاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا حَمَلَتْهُ اُمُّهُ كُرْهًاوَّوَضَعَتْهُ كُرْهًاوَحَمْلُهُ وَفِصلُهُ ثَلَثُوْنَشَهْرًا حَتّى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهُ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِىْ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضـهُ وَاَصْلِحْ لِى فِيْ ذُرِّيَّتِى اِنِّى تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya; Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik terhadap orang tuanya. Ibunya telah mengandung dia dengan derita, dan melahirkan dia dengan derita sedangkan mengandungnya dan menyapihnya mengambil waktu tiga puluh bulan hingga apabila dia mencapai usia dewasanya dan mencapai usia empat puluh tahun ia berkata : Hai Tuhan-ku limpahkanlah taufiq kepadaku supaya aku dapat bersyukur atas ni’mat Engkau yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orang tuaku dan supaya aku dapat beramal saleh yang Engkau ridhoi. Dan tegakkanlah kesalehan ditengah-tengah keturunanku bagiku. Sesungguhnya aku senantiasa bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang patuh ta’at kepada Engkau.

Yakni aku akan menjadi orang patuh-ta’at yang haqiqi, dan Islam haqiqi akan akan masuk kedalam hatiku dan aku akan menjadi penyebar keselamatan apabila aku mengamalkan salah satu perintah itu, yaitu berbuat baik terhadap kedua orangtua, dan aku harus menjadi orang yang bersyukur atas ni’mat-ni’mat yang telah Allah swt karuniakan kepadaku, sambil mengenang dan mengingat semua kebaikan yang telah beliau-beliau lakukan kepadaku. Sesuai dengan do’a diatas : “Hai Tuhan-ku limpahkanlah taufiq kepadaku supaya aku dapat bersyukur atas ni’mat Engkau yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orang tuaku” dan aku akan terus berdo’a untuk keturunan yang akan datang juga supaya mereka menjadi orang-orang penyebar kedamaian dan keselamatan.

Disini kedua orangtua harus ingat bahwa orangtua yang disebut didalam ayat tersebut diatas adalah orangtua yang anak-anak keturunannya selalu paling depan dalam beramal soleh dan menjadi pencinta kebaikan. Jadi orangtua harus memberi tarbiyyat terhadap anak-anak sambil memohon karunia dari Allah swt supaya mereka menjadi penyebar kedamaian dan keselamatan yang patuh ta’at. Jika tidak, akan menjadi seperti seorang ibu yang kupingnya telah digigit oleh anaknya, ketika anaknya itu telah diputuskan mau dihukum gantung. Ia menghampiri ibunya dan dgn pura-pura mau berbisik dikuping ibunya itu tiba-tiba ia menggigit kuping ibunya hingga menjerit kesakitan. Dan anak itu berkata kepada ibunya, wahai Ibu!! karena ibu tidak mendidik saya dengan baik, tidak memberitahu perbedaan antara kebaikan dan keburukan, perbedaan antara kekacauan dan kedamaian, saya mengambil barang kepunyaan orangpun dibiarkan, mencuri harta orang dibiarkan sehingga menjadi seorang perampok yang jahat, yang akhirnya saya diputuskan dihukum gantung. Jika Ibu mengajar saya apa artinya amal soleh, apa artinya dosa, apa artinya kedamaian dan apa artinya keselamatan, tentu saya tidak akan naik keatas tiang gantungan melainkan akan menjadi seorang penyebar kedamaian dan keselamatan dan mendo’akan Ibu supaya mendapat karunia dan kasih sayang dari Allah swt.

Jadi, kedua orangtua harus memahami betul tanggung jawab masing-masing. Didalam ayat tersebut diatas Allah swt mengingatkan kedua belah pihak, pertama anak-anak dinasihatkan supaya berusaha memenuhi hak-hak kedua orangtua dan selalu memanjatkan do’a untuk mereka. Kedua, orangtua harus selalu memanjatkan do’a untuk mereka supaya mereka sentiasa berada diatas jalan kebaikan. Kebiasaan berdo’a ini baik pada orang tua maupun pada anak-anak, jika dilaksanakan sambil menunaikan hak-kewajiban terhadap manusia (hakukul-ibaad) dapat menjadikan mereka para penyebar keselamatan. Tidak hanya sampai disitu perintah Allah swt ini. Dia menyuruh agar kita juga menaruh perhatian kepada kaum kerabat dan harus berbuat kebaikan kepada mereka. Sebab budi pekerti dan perlakuan yang baik itu dapat menjamin terselenggaranya suasana aman dan damai dikalangan masyarakat, dikalangan kaum kerabat yang terdekat, dikalangan semua saudara baik dari pihak bapak maupun saudara-saudara dari pihak ibu. Wajiblah bagi kedua belah pihak untuk saling menunaikan kewajiban satu sama lain, saling harga-menghargai, saling hormat-menghormati satu sama lain. Dan semua pihak juga harus membangkitkan kesan dan perasaan hati yang baik untuk semuanya. Pendeknya semua kewajiban untuk berbuat kebaikan terhadap sesama manusia baik terhadap mereka yang kalian tidak menyukainya ataupun yang kalian sendiri menyukainya, harus diperlakukan sama, walaupun memang keadaan tabiat manusia tidak semuanya sama. Jangan berlaku baik hanya kepada mereka yang dianggap mempunyai karakter atau tabi’at yang sama dengan kalian, melainkan harus kepada setiap orang tanpa pilih. Perintah berlaku baik ini bukan hanya kepada keluarga saja. Seorang suami harus berlaku baik kepada keluarga dari pihak isteri dan seorang isteri harus berlaku baik kepada keluarga pihak suami juga. Tujuan perlakuan baik itu hendaklah untuk menggalang penyampaian amanat keselamatan yang intinya adalah amanat keselamatan Tuhan. Sering terjadi pertengkaran diantara sesama keluarga dekat disebabkan lemahnya hubungan kekelurgaan dan hambarnya rasa hormat satu sama lain diantara mereka.

Keluarga paling dekat kedua pasangan suami isteri adalah orangtua mereka. Maka dimana ada perintah untuk berlaku baik terhadap orangtua disana maksudnya perintah berlaku baik terhadap kedua orang tua suami isteri. Banyak peristiwa terjadi, sang suami berkata-kata buruk terhadap kedua orangtua pihak isteri. Sebaliknya isteripun berbuat keterlaluan melemparkan kata-kata buruk terhadap orangtua dan keluarga suami. Kejadian seperti itu tidak boleh terjadi dikalangan keluarga Ahmadi sebab Allah dan Rasul-Nya memberi perintah kepada setiap orang Ahmadi untuk menyampaikan amanat keselamatan kepada seluruh ummat manusia. Mereka telah beriman kepada Hadzrat Imam Zaman a.s. Beliau a.s. telah mengajar orang-orang Ahmadi untuk menegakkan akhlak yang baik dan luhur. Bahkan beliau telah memberi peringatan, jika hendak tinggal bersama Jemaatku kalian harus berpegang kepada akhlak yang luhur yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kita semua harus berfikir, bahwa setelah beriman kepada Hadzrat Imam Zaman a.s. mengapa timbul gejolak perlawanan menyerang kita. Sebabnya mereka tidak setuju, mereka membantah kita beriman kepada orang yang telah menda’wakan diri sebagai Imam Mahdi dan Masih mau’ud adalah Nabi Allah. Setelah masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah banyak orang Ahmadi yang menghadapi bermacam-macam kesusahan dan kesulitan yang dibangkitkan oleh keluarga mereka yang belum masuk Jema’at. Hubungan keluarga diputuskan, orangtua mengancam anaknya dan mengusir dari rumahnya sambil berkata, mengapa kamu masuk Ahmadiyah?

Dalam situasi demikian bagaimana caranya perlakuan seorang Ahmadi terhadap mereka. Setiap orang Ahmadi harus merasa bahwa setelah menyatakan diri pengikut orang yang telah disebut oleh Allah sebagai Putera Mahkota Keselamatan, bagaimana usaha untuk memperkuat diri menjadi penyampai amanat keselamatan itu kepada keluarga orangtua dan kaum kerabat sendiri. Dan setiap orang Ahmadi harus sadar diri, jangan sampai menodai nama baik Putera Mahkota Kedamaian dan keselamatan ini. Jika kita tidak mau dekat dengan keluarga dan anak-anak sendiri, tidak berlaku baik terhadap mereka, tidak mau mendo’akan mereka dan tidak mau meminta do’a dari mereka, bagaimana kita dapat berbuat baik, menjalin hubungan baik dan memikirkan nasib orang lain yang tidak punya hubungan keluarga dengan mereka?

Banyak sekali keluhan atau complain telah diterima tentang pemegang jabatan (pengurus) dalam Jema’at. Mereka tidak berlaku baik dan adil terhadap anak isteri mereka. Sebelum ini juga sudah saya singgung bahwa demikian seringnya diterima keluhan tentang perlakuan buruk dan kejam itu sehingga menimbulkan kegelisahan. Apakah mereka tidak faham perubahan apa yang telah dibangkitkan oleh Hadzrat Masih Mau’ud a.s.? Banyak yang berkhidmat kepada Jema’at dengan menyebut atas nama Jema’at Hadzrat Masih Mau’ud .a.s dan dalam pengkhidmatannya berlomba-lomba satu sama lain, namun sampai dirumah, mereka berlaku tidak wajar dan kejam terhadap keluarga mereka sendiri. Semoga Allah swt mengasihani mereka dan memberi akal sehat kepada mereka. Akhirnya apabila perbuatan mereka sudah melampaui batas dan masalahnya sudah diketahui oleh Khalifa-e-waqt, mereka diberhentikan dari pengkhidmatannya itu. Setelah itu mereka membuat ribut diluar, mengapa kami telah diberhentikan dari penghidmatan. Sebagai pemegang jabatan (pengurus), mereka harus berpikir sebelum apa yang akan terjadi, bagaimana harus mengamalkan ajaran Al Quran yang telah diwajibkan mengamalkannya kepada mereka, bagaimana usaha yang harus dilakukan untuk menyampaikan amanat keselamatan dan sebagainya .

Didalam Al Quran Allah swt memerintahkan untuk berlaku baik terhadap anak-anak yatim, karena kedudukan mereka ini sangat lemah didalam masyarakat. Dan Tuhan memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang-orang miskin juga, karena orang yatim dan miskin ini dua buah kelompok masyarakat yang paling lemah. Mereka tidak mempunyai penolong. Jika ada orang yang berbuat zalim kepada mereka, tidak ada pelindung yang membela mereka.

Kelompok orang-orang sangat lemah ini kadang kala menjadi pemicu kerusuhan dikalangan masyarakat sebagai reaksi dari kezaliman yang dilakukan terhadap mereka. Mula-mula mereka melibatkan diri dalam keburukan yang kecil-kecil untuk membela hak-hak mereka. Mereka berkelahi membuat kerusuhan. Kemudian kelompok oposisi menggunakan tenaga mereka lalu meracuni benak mereka untuk menentang masyarakat banyak. Kelompok orang-orang putus asa ini, yang hak-haknya sudah ditolak kemudian diabaikan, mereka menganggap benar apa yang sedang mereka lakukan itu. Sehingga mereka berbuat sekehendak hati mereka. Orang-orang yang berlaku baik terhadap mereka telah dikira sebagai pelindung mereka, padahal orang-orang itu sedang memperalat mereka untuk kepentingan pribadi mereka.

Dinegara-negara miskin, orang-orang yatim dan miskin seperti itu yang keluarga mereka sendiri tidak memperdulikan mereka atau memang tidak mampu mengayomi mereka karena derita kemiskinan, anak-anak gelandangan seperti itu yang tidak mencicipi pendidikan bahkan buta huruf dan jahil tidak mampu bekerja apapun. Mereka diperalat oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Demikian juga keluarga yang mempunyai anak banyak (كَثِيْرُ اْلعَيَّالِ) tidak mampu menafkahi mereka semua. Anak-anak mereka diserahkan kepada Madrasah-madrasah, seperti yang sedang terjadi dinegara Pakistan. Madrasah-madrasah itu penuh dengan anak-anak keluarga miskin. Kelihatannya memang mereka diberikan pendidikan agama, namun suatu waktu dengan jumlah yang banyak mereka dipicu diperalat untuk membuat kerusuhan dan protes-protes atas nama agama, mereka siap untuk bunuh diri. Dengan konsep jihad yang palsu mereka dipaksa untuk berbuat macam-macam terror. Jika terhadap anak-anak miskin dan anak-anak yatim yang jumlahnya begitu banyak diurus dan dibina serta diberi pendidikan dengan baik, tentu masyarakat akan terlepas dari banyak kejadian huru-hara atau kerusuhan seperti itu.

Pada suatu hari kami berada di Bhera (Pakistan) dan ketika kami pergi kesawah-sawah untuk berburu, tiba-tiba anak-anak Madrasah datang menghampiri kami. Lalu kami tanya mereka, sedang belajar apa di Madrasah dan apa yang telah dipelajari disana. Mereka sedikit saja bercerita mengenai pelajaran, mereka dengan bangga mengatakan, kami setiap hari belajar internet, dilatih membuat senjata, membuat kartus (peluru ber-diameter 2cm, untuk senapan angin laras panjang dan besar). Demikianlah keadaan anak-anak Madrasah itu. Ibu bapak mereka mengirim kemadrasah untuk belajar agama, namun anak-anak orang miskin itu mendapat pendidikan yang lain, yang dikemudian hari dapat digunakan untuk melakukan kekerasan, digunakan secara tidak benar, digunakan untuk membuat kerusuhan dan huru-hara. Kasihan ibu-bapak mereka dirumah, yang mengharapkan anak-anak mereka untuk memahami agama supaya terpelihara dari keburukan. Akan tetapi merekapun tidak tahu anak-anak mereka itu ada dibawah tangan kekuasaan siapa. Demi tujuannya sendiri, orang-orang tertentu menggunakan anak-anak ini untuk mengadakan pertumpahan darah atas nama agama. Maka untuk mencegah kerusuhan seperti itu adalah tugas masyarakat atau tugas pemerintah untuk mengurus kelompok orang-orang seperti itu agar jangan dicampak kan seperti barang yang tidak berguna, bahkan harus dirangkul dengan baik-baik. Berilah curahan hati secara wajar jangan dibiarkan perasaan hati mereka terluka. Oleh karena mereka ini kelompok orang-orang sangat lemah, perasaan mereka sensitive dan mudah dipengaruhi. Mereka harus diberi pengarahan yang bersifat membangun. Dan usaha itu tidak akan dapat berhasil selama mereka tidak diperlakukan dengan sangat baik. Jika didalam sebuah kelompok masyarakat terdapat orang-orang yang menggalang kepentingan kelompok orang-orang lemah seperti itu, maka keamanan dan keselamatan disana dapat terjamin. Dan para pengasuh anak-anak yatim serta para pendukung orang-orang miskin itu tentu akan mendapatkan kasih-sayang Tuhan.

Didalam sebuah riwayat, Rasulullah saw sambil mengacungkan kedua buah jari telunjuk dan jari tengah bersabda: Aku bersama orang-orang yang mengurus anak-anak yatim akan sangat dekat seperti dekatnya kedua jari ini. Didalam sebuah riwayat lagi beliau saw pernah bersabda, Rumah yang terbaik dari antara rumah-rumah orang mu’min adalah rumah yang didalamnya dipelihara orang-orang yatim. Didalam sebuah riwayat lagi beliau bersabda, Cukuplah bagi penyebab nasib malang seseorang, apabila dia memandang saudara muslimnya dengan pandangan hina. Kita harus kasihan terhadap orang-orang yang memandang fakir miskin dengan pandangan hina.

Secara sambil lalu disini saya ingin mengatakan bahwa dengan karunia Allah swt Jema’at Ahmadiyah mempunyai sistim pengelolaan anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Di Pakistan juga telah dibentuk panitia dengan mengadakan peninjauan mengenai program pendidikan mereka dan tempat tinggal mereka. Dinegara-negara lain juga khususnya di negara-negara Afrika dengan karunia Allah swt telah dibentuk panitia, mudah-mudahan Allah swt mencukupi semua dana yang diperlukan. Untuk membantu anak-anak yatim ini telah dibuka Fund, supaya orang-orang Jema’at membantu menyediakan dana untuk itu. Supaya sebanyak mungkin keperluan anak-anak yatim dapat dipenuhi. Demikian juga dana untuk membiayai perkawinan gadis-gadis anak orang miskin (Februari tahun 2003) Hadzrat Khalifatul Masih lV r.h telah membuka fund yang diberi nama Mariam Syadi Fund. Mula-mula Mariam Syadi Fund mendapat perhatian yang sangat besar dari para anggota Jemaat sehingga banyak sekali perkawinan anak-anak orang miskin telah dibiayai oleh Fund ini. Sampai saat ini perhatian para anggota Jema’at terhadap Fund ini tetap tidak terhenti, namun sekarang dana untuk Mariam Syadi Fund yang diterima dari para anggota Jema’at tidak sebanyak pada masa permulaan. Para anggota Jema’at khususnya dari golongan yang berada harus menaruh banyak perhatian kepada Fund ini.

Itulah perlakuan yang sangat baik terhadap orang-orang miskin dan orang-orang yatim, tentunya bagi orang-orang yang telah melakukan kebaikan ini akan mendapat khabar yang menggembirakan tentang surga bagi mereka. Allah swt dan Rasul-Nya telah memberi khabar suka bahwa kepada mereka akan diberikan Darus-Salaam karena mereka telah berusaha memberi pertolongan kepada beberapa orang yang sangat memerlukan untuk menjalani kehidupan mereka dan telah berusaha untuk menjauhkan kesusahan mereka.

Didalam sebuah riwayat, Rasulullah saw pernah bersabda, bahwa : Allah swt akan menempatkan mereka dibawah naungan rahmat-Nya dan memasukkannya kedalam surga, orang yang menyayangi orang-orang lemah tak berdaya, yang mencintai ibu bapaknya, dan berlaku baik terhadap pembantu dan pekerja dirumahnya.

Selanjutnya untuk menciptakan suasana aman damai dan cinta-kasih satu sama lain didalam lingkungan masyarakat, Allah swt berfirman didalam Al Quranul Karim, didalam ayat tersebut diatas : berlaku baiklah kalian terhadap para tetangga! Bukan berlaku baik hanya terhadap tetangga yang sesanak-saudara saja, sehingga seratus persen dilakukan semata-mata demi keridhoan Allah swt, tetapi kepada tetangga yang bukan keluarga dekat juga harus berlaku sama baik seperti itu juga. Sebab berbuat baik terhadap sanak saudara sendiri biasanya dipengaruhi oleh perasaan suka dan tidak suka terhadap mereka itu. Hamba Allah swt sejati yang berusaha untuk meraih keridhoan-Nya baru dapat diketahui sesungguhnya jika ia selalu berbuat baik kepada orang lain juga. Harus berlaku baik terhadap para tetangga yang bukan keluarga juga. Menunaikan hak-hak para tetangga demikian ditegaskannya oleh Allah swt dan demikian berulangkalinya diperingatkan oleh Rasulullah saw sehingga beliau bersabda, saya mengira barangkali tetangga akan dimasukkan kedalam ahli waris. Hal ini ditekankan untuk menanamkan perasaan demikian terhadap tetangga. Menaruh perhatian sdengan sungguh-sungguh, berlaku baik dan memenuhi keperluan-keperluan tetangga adalah perkara yang sangat penting. Sebab para tetangga itu tinggal berdekatan satu sama lain sehingga merupakan dinding keempat penjuru rumah. Jika para tetangga tidak saling berlaku baik satu sama lain, hal tersebut akan menjadi penyebab timbulnya kesusahan, jika disatu lorong ada sebuah keluarga yang tidak berlaku baik terhadap yang lain maka lorong itu akan menjadi sumber kekacauan bagi yang lain. Dilorong itu tidak akan tercium harumnya keselamatan. Begitu keluar dari rumah yang pertama nampak pada kita adalah rumah tetangga. Jika kita sampaikan ucapan keselamatan (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ) kepada mereka dengan perasaan hati yang dalam, mereka juga akan menjawab ucapan keselamatan kita sehingga merekapun akan menjadi bahan keselamatan juga bagi kita.

Dinegara-negara Barat ini setiap orang terbenam dalam kemewahan dunia masing-masing. Hal itu sudah menjadi bagian daripada kehidupan mereka, baik dirumah mereka sendiri maupun dirumah saudara-saudara mereka. Mereka tidak ambil pusing, mereka tidak mempunyai pengertian pentingnya bertetangga seperti yang telah diajarkan Islam kepada kita. Itulah keunggulan agama Islam, selalu memperingatkan orang-orang mu’min sampai kepada setiap amalan yang dianggap paling kecil sekalipun. Kemudian kepada mereka diberi kabar suka tentang surga sebagai ganjarannya. Supaya setiap mu’min selalu berusaha keras untuk menyebarkan setiap amanat keselamatan didalam lingkungan masyarakatnya.

Apabila sambil menyampaikan amanat keselamatan kepada orang-orang itu, kita menjalin hubungan baik dengan mereka, sehingga mereka maklum bahwa kita menjalin hubungan dengan mereka dengan senang hati dan tanpa pamrih, menjalin hubungan untuk menaruh rasa simpati dengan mereka, merekapun merasa gembira dan merasa heran juga. Sebab mereka tidak terbiasa dengan cara begini. Dari pernyataan rasa gembira mereka dan dari pendapat mereka tentang perkara menyenangkan ini, dan meningkatkan hubungan dengan mereka sungguh tepat dengan suara fitrat bahwa manusia ingin berbuat baik kepada setiap orang. Kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa mereka juga sangat senang bertetangga dengan kita dan merekapun sangat senang menjalin hubungan persaudaraan yang baik dengan kita. Banyak dari antara mereka yang sangat senang terhadap perilaku kita seperti ini.

Semenjak saya mengingatkan Jemaat untuk menjalin hubungan dengan orang-orang barat ini khususnya untuk mempererat hubungan sebagai tetangga, banyak laporan yang menggembirakan telah diterima dari beberapa tempat. Mereka itulah yang pada mulanya merasa ketakutan bertetangga dengan orang-orang Asia atau dengan orang-orang asal Pakistan. Apabila hubungan dengan mereka kian ditingkatkan, hadiah-hadiah mulai dikirim kepada mereka pada kesempatan hari-hari Id dan hari ulang tahun keagamaan mereka, hubungan dengan mereka mulai berkembang dengan baik dan rasa takut mereka menjadi hilang sirna. Dan mereka itulah yang pada mulanya menganggap Islam agama yang melakukan kekerasan dan pembuat kerusuhan dan kekacauan. Sekarang mereka sudah mulai tertarik dengan ajaran Islam. Para tetangga Masjid Fadhal London sudah pernah diundang beberapa kali untuk jamuan persahabatan, selain para anggota sendiri secara pribadi mengundang mereka kerumah masing-masing. Pada tahun ini juga telah diadakan sebuah jamuan persahabatan. Merekapun berdatangan dengan senangnya dan sayapun hadir. Dalam pertemuan itu sayapun telah menjelaskan kepada mereka ajaran Islam yang menyangkut dengan masalah hidup rukun dengan tetangga. Setelah mendengar penjelasan ini, merekapun merasa heran dan menyatakan rasa gembira dan senang. Dan merekapun mengucapkan banyak terima kasih. Sampai sekarang saya sering menerima surat dan kartu pos yang isinya banyak mengagumi masalah yang telah dibahas mengenai hidup rukun dengan tetangga.

Jadi dengan perlakuan baik terhadap para tetangga yang menjamin keselamatan bersama, dapat membuka kesempatan yang sangat baik untuk bertabligh kepada mereka. Jika mereka itu tidak merasa tertarik terhadap agama, namun dengan tabligh itu sekurang-kurangnya anggapan buruk tentang Islam yang telah meracuni pikiran mereka dapat dijauhkan. Jika kesan baik hidup bertetangga sudah meluas di dalam pikiran manusia maka hal itu dapat menjadi landasan bagi kedamaian dan keselamatan dunia. Dan kerusuhan akan lenyap dari muka bumi. Sebagaimana Hadzrat Masih mau’ud a.s bersabda, jangkauan areal tetangga dapat diperluas sampai 100 mil jauhnya. Jadi, apabila sekarang orang Ahmadi sudah tersebar sampai kepada 150 negara lebih, dan dibeberapa daerah terdapat banyak anggota dan didaerah lain hanya sedikit, jika setiap anggota Ahmadi menjadikan tetangga-tetangga disekitarnya sampai 100 mil jauhnya harum dengan wewangian keselamatan, maka sebagian besar dunia yang sudah diracuni opini buruk menuduh Islam sebagai agama terroris dan zalim dapat dijauhkan semuanya.

Zaman sekarang selain orang-orang Ahmadi tidak ada orang lain yang mampu menyebarkan ajaran keselamatan Islam keseluruh dunia. Jika kita juga tidak menjalankan tugas kewajiban dengan sebaik-baiknya berarti kita tidak menepati janji yang telah kita ikrarkan kepada Hadzrat Masih Mau’ud a.s. Dan kita menunjukkan kemalasan dalam memenuhi janji yang telah kita ikrarkan kepada Hadzrat Imam Zaman a.s.

Allah swt berfirman, hubungan persahabatan, kasih-sayang kalian yang membuktikan diri kalian sebagai muslim sejati, harus lebih luas dan diperluas lagi. Lebih jauh dan lebih luas hubungan kalian dengan masyarakat tentu jangkauan penyebaran pesan kedamaian dan keselamatan akan menjadi lebih jauh dan lebih luas lagi. Sampai sejauh mana dapat diperluas? Diperluas dan dirangkul sampai lingkungan seluruh masyarakat. Pertama-tama lingkungan tetangga semuanya harus berada dibawah genggaman persahabatan. Firman-Nya, teman karib kalian yang selalu duduk bersama-sama dalam pertemuan-pertemuan, kerabat bekerja yang bekerja bersama-sama dikantor-kantor, kerabat kerja didalam bisnis, semua mengharapkan perlakuan ihsan dari kalian. Kemudian didalam meeting (pertemuan-pertemuan) didalam acara seminar dan sebagainya, dimanapun juga diperintahkan untuk berlaku cinta-kasih kepada sesama teman.

Jika Islam telah memerintahkan untuk menjalin hubungan dengan masyarakat demikian luasnya, jika dipikir tidak ada lagi masyarakat dibagian dunia ini yang tertinggal, maka tidak ada peluang lagi bagi seseorang untuk memusuhi orang lain. Bahkan sebaliknya manusia dimana-mana ramai dengan lapang dada saling menyampaikan amanat keselamatan (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ) satu sama lain. Tidak ada lagi rasa permusuhan didalam hati seseorang.

Seringkali terjadi pertengkaran didalam Jalsah ataupun didalam Ijtima, sekarang jalsah dan ijtima sudah dekat waktunya akan tiba. Jika setiap orang berpikir, sekarang saya tidak boleh memikirkan hal lain kecuali untuk berbuat kebaikan kepada setiap orang, maka hal itu akan menjadi dasar keamanan dan keselamatan didalam masyarakat dan membuat hubungan satu sama lain menjadi sangat baik.

Perlakuan baik yang paling besar terhadap masyarakat adalah menyampaikan amanat keselamatan kepada setiap orang. Sebagaimana telah ditekankan sebelumnya yaitu membiasakan ucapan salaam (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ) ditengah-tengah masyarakat. Baik kepada keluarga sendiri maupun kepada orang lain, yang dikenal ataupun tidak dikenal. Ada perintah dari Allah swt, bahwa apabila seseorang mengucapkan salam kepadamu, jawablah salamnya itu dengan ucapan salam yang lebih baik kepadanya. Jika masyarakat Islam dan orang-orang Ahmadi menjawab ucapan salam sama seperti itu, maka pertengkaran dan kerusuhan atau perlakuan buruk didalam masyarakat tidak akan ada lagi. Seperti halnya Allah swt bertfirman, balaslah kebaikan dengan kebaikan lagi! Tentang salaam juga diperintahkan untuk menjawabnya dengan ucapan yang lebih baik, tentang hadiah juga diperintahkan untuk membalasnya dengan hadiah yang lebih baik dari padanya, atau sekurang-kurangnya dibalas dengan hadiah serupa dengannya.

Pada suatu waktu seorang datang didalam sebuah Majlis. Orang itu mengucapkan :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

kepada Rasulullah saw lalu duduk. Maka Rasulullah saw menjawabnya :

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمْ وَرَحْمَةُالله

ْ

Sesudah itu datanglah orang kedua dan mengucapkan :

وَرَحْمَةُاللهْ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

lalu beliau saw menjawab :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمْ وَرَحْمَةُاللهْ وَبَرَكَاتُهْ

Tidak lama kemudian datang orang ketiga dan mengucapkan salam :

السَّلاَمْ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهْ وَبَرَكَاتُهْ

dan Rasulullah saw menjawab dengan mengucapkan وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمْ atau hanya menjawab dengan ucapan وَعَلَيْكُمُ saja. Seorang sahabat yang sedang duduk dekat Rasulullah saw bertanya kepada beliau, ya Rasulullah! Kepada yang lain Huzur menjawab dengan ucapan salam yang lebih baik dan lebih panjang, mengapa kepada orang ini hanya menjawab dengan ucapan وَعَلَيْكُمْ saja? Beliau bersabda, seberapa baiknya mereka telah mengucapkan salam kepada saya, waktu itu masih ada jawaban yang lebih baik dari padanya, maka saya jawab salam mereka dengan yang lebih baik dari padanya. Akan tetapi bagi yang ketiga ini tidak ada lagi jawaban yang lebih baik dari itu. Maka sesuai perintah Allah saya jawab sekurang-kurangnya serupa dengan ucapan itu.Oleh karena itu saya juga mengucapkan وَعَلَيْكُمْ (artinya, atas kamu juga seperti apa yang kamu ucapkan, pent). Demikianlah cara mengucapkan salaam yang dicontohkan oleh Rasulullah saw kepada kita.

Tentang firman Tuhan :

وَالصَّاحِبِ باِلْجَنْبِ

(dan handai taulan) selain arti dalam kurung ini dapat juga berarti, orang yang sama-sama bekerja, baik bawahan maupun atasan, seperti telah saya jelaskan diatas. Kepada mereka juga harus mempunyai perasaan baik dan harus menyampaikan pesan keselamatan kepada mereka semua.

Sesudah itu Tuhan berfirman,

وَابْنِ السَّبِيْلِ

yakni berbuat baiklah kepada para musafir juga (orang dalam perjalanan jauh). Kepada orang yang dalam perjalanan untuk waktu singkat ini harus ada gambaran pada pikiran kalian untuk berbuat kebaikan kepadanya. Supaya hubungan singkat dan sementara dengannya itu jangan sampai meninggalkan kesan yang buruk. Itulah harapan-harapan Tuhan dari hamba-hamba-Nya. Jangan sampai perkara yang sekecil-kecilnyapun menjadi sebab timbulnya kerusuhan dan kekacauan.

Firman-Nya lagi :

وَمَامَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ

artinya dan berbuat baiklah terhadap yang dimiliki oleh tangan kananmu. Maksudnya harus berbuat baiklah kepada semua bawahan dan semua pekerja kalian. Hadzrat Masih mau’ud a.s. bersabda, berbuat baiklah terhadap semua makhluk bernyawa yang berada dibawah kekuasan kalian. Itulah perintah Islam untuk menegakkan kehormatan kelompok orang-orang paling lemah dan para sahaya. Kalian jangan berbuat kekerasan dan aniaya terhadap orang-orang yang bekerja dibawah kalian dan terhadap para ghulam(sahaya) kalian. Juga dilarang memberi pekerjaan kepada mereka diluar kekuatan atau diluar kemampuan mereka. Jika ada pekerjaan yang sukar mereka harus dibantu. Itulah dasar peraturan Islam yang bisa menjadi sumber kedamaian dan keselamatan ditengah-tengah masyarakat. Itulah peraturan yang setiap waktu harus tertanam didalam pikiran agar dapat menimbulkan keinginan untuk berbuat baik dan menimbulkan kecintaan kepada orang lain. Dengan itu orang-orang bawahan akan rela dan siap berkorban demi majikan mereka. Sebaliknya jika para pekerja diberi pekerjaan yang berat diluar kemampuan mereka, hal tersebut akan dapat menimbulkan benih-benih kebencian terhadap majikan. Akhirnya bukan suasana kedamaian dan keselamatan yang timbul, malah gerakan kerusuhan yang meletus disana.

Didalam Akhir ayat ini Allah swt berfirman :

اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُوْرًا

artinya : Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang sombong dan membanggakan diri.

Dalam perintah Allah swt terakhir diatas ini, Dia menyatakan rasa tidak suka kepada siapa saja yang tidak mengamalkan segala hal tersebut, dia adalah orang yang takabbur dan sombong, dia tidak bisa menjadi hamba-Nya yang sebenarnya dan karenanya tidak dapat mengabulkan utusan-Nya. Itulah yang tertulis didalam tarikh semua Nabi-nabi. Bahkan disebabkan takabbur itu syetanpun menyertainya dari belakang, sebab syetanpun menentang para Nabi karena takabbur dan sombong. Lihatlah zaman sekarang juga, disebabkan takabbur dan sombong mereka tidak mau beriman kepada Hadzrat Masih Mau’ud a.s. atau mereka menjadi para penghalang dijalan kebenaran ini. Dan takabbur pulalah yang telah menjadi penghambat untuk melaksanakan tanggung jawab terhadap hak-hak manusia (hakukul-ibaad). Allah swt telah menyatakan tidak suka terhadap mereka itu.

Orang-orang takabbur yang Allah swt telah menyatakan tidak suka kepada mereka, sekalipun mereka beribu-ribu kali menda’wakan diri sebagai penyebar kedamaian, dan keselamatan, dan berusaha keras untuk itu, mereka tidak akan berhasil. Sebab mereka telah menolak seorang Imam yang telah diutus oleh Allah swt kepada mereka. Dan mereka akan hampa dari keselamatan yang datangnya hanya dari Allah swt. Sesungguhnya keselamatan itu semata-mata datangnya dari Allah swt. Jika berlaku takabbur terhadap kekasih Allah swt dan mengingkarinya, tentu akan luput dari keselamatan Allah swt.

Jadi, kita semua sangat beruntung dengan taufiq-Nya telah mengenal seorang Imam yang telah Dia utus di zaman ini. Oleh sebab itu sambil merenungkan semua perkara tersebut diatas kita harus berusaha menjadi abid (hamba-hamba) yang haqiqi dan menjadi orang-orang yang benar-benar mengamalkan kebaikan-kebaikan itu. Kalau tidak, jangan-jangan kita termasuk dalam kelompok orang-orang yang tidak disukai Allah swt sehingga menjadi orang-orang yang luput dari ni’mat-ni’mat yang Allah swt turunkan bagi orang-orang mu’min dan luput dari khabar-khabar suka yang Allah swt berikan kepada hamba-hamba-Nya yang soleh. Maka sambil bersujud dihadapan Allah swt dan memohon pertolongan daripada-Nya, kita harus mengoreksi diri masing-masing, jika pada masa lampau banyak kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan, untuk itu mintalah rahmat dari pada Allah swt, karena Allah sangat Rahiim, sangat Penyayang. Firman-Nya : Jika kamu melakukan kesalahan, Aku adalah Pema’af bagimu. Kita harus menjadi orang-orang yang selalu memohon rahmat dari Allah swt supaya amanat keselamatan-Nya disampaikan-Nya kepada kita sehingga kita berada didalam selimut maghfiroh-Nya.

Hadzrat Masih Mau’ud a.s bersabda : Rupa orang mu’min sangat cantik. Jika pada tubuh yang cantik dipakaikan perhiasan, sekalipun yang sederhana maka ia akan nampak lebih cantik lagi. Jika ia berbuat amal buruk maka hilanglah kecantikannya, sehingga tidak ada artinya lagi.

Jika didalam diri manusia lahir iman yang haqiqi, dia akan merasa kelezatan yang khas didalam melakukan amal perbuatannya. Dan kedua mata ma’rifatnya akan terbuka. Dia menunaikan sembahyang sesuai dengan perintah yang harus dikerjakan. Dia selalu sadar akan bahaya dosa. Dia membenci Majlis yang sia-sia dan kotor. Dan didalam hatinya bergejolak keinginan yang khas untuk menjaga keagungan serta keperkasaan Allah swt dan Rasul-Nya. Iman seperti itu tidak gentar sekalipun harus menghadapi nasib seperti Nabi Isa a.s. digantung diatas palang salib. Dia semata-mata karena Allah, rela dilemparkan kedalam api seperti yang telah terjadi terhadap Nabi Ibrahim a.s. Apabila seluruh kesenangannya sudah diserahkan demi keridhoan Allah swt, maka Allah swt Yang عَلِيْمٌ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ (Aliimun bizaatish shuduur) Yang Maha Tahu akan lubuk-hati manusia, menjadi Pelindung dan Pembimbingnya. Dan menurunkannya dari atas palang salib. Dan Dia menyelamatkan secara utuh dari api yang berkobar. Akan tetapi yang dapat menyaksikan mukjizat-mukjizat ini adalah hanya orang-orang yang memiliki iman yang sempurna. Semoga Allah swt menjadikan iman kita semua kamil dan sempurna dan semoga Dia selalu menaruh pandangan kasih sayang-Nya kepada kita dan memberi keselamatan kepada kita dari setiap bencana dan musibah, dan semoga dengan karunia-Nya setiap saat kita meyaksikan kemurahan-Nya dan kasih-sayang-Nya. Amin !!

Alihbahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

Dipublikasikan oleh www.ahmadiyya.or.id